OTOTEKNO

Toyota Indonesia Gandeng CATL, Investasi Rp 1,3 Triliun untuk Produksi Baterai Mobil Elektrifikasi

Toyota Indonesia Gandeng CATL, Investasi Rp 1,3 Triliun untuk Produksi Baterai Mobil Elektrifikasi. Foto: dok. TMMIN
Toyota Indonesia Gandeng CATL, Investasi Rp 1,3 Triliun untuk Produksi Baterai Mobil Elektrifikasi. Foto: dok. TMMIN
apakabar.co.id, JAKARTA - PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) merayakan usia ke-55 dengan mengumumkan kemitraan strategis bersama CATL.

Kolaborasi ini difokuskan untuk mengembangkan produksi baterai kendaraan elektrifikasi di Indonesia secara menyeluruh.

Dalam kerja sama tersebut, TMMIN menggelontorkan investasi sebesar Rp 1,3 triliun untuk memperkuat ekosistem industri elektrifikasi nasional.

Langkah ini sekaligus mempertegas komitmen Toyota dalam membangun rantai pasok baterai dari hulu hingga hilir di dalam negeri.

Selama 55 tahun beroperasi di Indonesia, Toyota telah menanamkan investasi hingga Rp 100 triliun.

Kontribusi tersebut melibatkan lebih dari 360.000 tenaga kerja di sektor produksi, distribusi, hingga layanan purna jual.

Dari sisi produksi, pabrikan otomotif asal Jepang ini juga telah mencatatkan total 10 juta unit kendaraan Toyota dan 14 juta unit kendaraan Toyota Group.

Melalui strategi “Best in Town”, Toyota terus mendorong penguatan kapabilitas lokal yang sejalan dengan kebijakan pemerintah.

Pendekatan ini juga mendukung percepatan transisi menuju netralitas karbon melalui berbagai teknologi elektrifikasi.

Toyota mengusung strategi multipathway yang mencakup Hybrid Electric Vehicle, Plug-in Hybrid Electric Vehicle, Battery Electric Vehicle, hingga Fuel Cell Electric Vehicle.

Selain itu, teknologi Flexible Fuel Vehicle juga dikembangkan dengan pemanfaatan bioetanol.

Presiden Direktur TMMIN, Nandi Julyanto menjelaskan bahwa saat ini Toyota telah memiliki lini produksi baterai di Karawang.

“Fasilitas tersebut digunakan untuk memproduksi baterai bagi model seperti Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid, Toyota Veloz Hybrid, dan Toyota Yaris Cross Hybrid,” ungkap Nandi dalam keterangan resminya dikutip Rabu (22/4).

Melalui kolaborasi dengan CATL, Toyota akan meningkatkan kemampuan produksi hingga ke level sel baterai dan modul.

Komponen yang sebelumnya masih diimpor nantinya akan diproduksi langsung oleh sumber daya manusia Indonesia.

Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kandungan lokal sekaligus mengurangi ketergantungan impor.

Selain itu, Indonesia juga berpotensi menjadi basis produksi dan ekspor baterai kendaraan elektrifikasi ke pasar global.

TMMIN bahkan menjadi entitas Toyota pertama di Asia Tenggara yang akan mengekspor baterai mulai paruh kedua 2026.

Ekspor tidak hanya mencakup baterai yang terpasang pada kendaraan, tetapi juga dalam bentuk komponen.

Wakil Presiden Direktur TMMIN, Bob Azam menyebut langkah ini akan memperkuat ekosistem rantai pasok yang sudah ada.

“Transformasi ini juga membuka peluang masuknya mitra baru dalam industri kendaraan elektrifikasi nasional,” pungkasnya.

Penguatan lokalisasi baterai HEV menjadi kunci dalam mempercepat adopsi kendaraan elektrifikasi di Indonesia.

Langkah ini juga berkontribusi terhadap target pengurangan emisi dan Net Zero Emission 2060.

Selain itu, peningkatan produksi lokal dapat memperbaiki neraca perdagangan melalui ekspor dan pengurangan impor energi.

Data GAIKINDO mencatat penjualan kendaraan elektrifikasi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 177.367 unit atau tumbuh 71 persen.

Dari jumlah tersebut, produksi kendaraan elektrifikasi mencapai 127.420 unit dengan dominasi segmen hybrid.

Model Hybrid Electric Vehicle menjadi kontributor utama dengan porsi sekitar 76,5 persen dari total produksi.