EKBIS
ABII Nilai Indonesia Berpeluang Jadi Pemasok Biochar Global
apakabar.co.id, JAKARTA - sosiasi Biochar Indonesia Internasional (ABII) menilai Indonesia berpeluang membangun industri biochar yang terintegrasi dari produksi hingga sertifikasi yang bernilai ekonomi dengan modal bahan baku biomassa dan meningkatnya permintaan internasional.
Ketua Umum Asosiasi Biochar Indonesia Internasional (ABII) Hashim Djojohadikusumo mengatakan biochar dapat menjadi bagian dari industri yang menghubungkan sektor pertanian, pengelolaan biomassa, hingga ekonomi karbon dan tidak lagi sebatas agenda lingkungan
"Biochar bukan hanya solusi lingkungan, tetapi juga peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani dan membangun ekonomi karbon yang berdaya saing global,” ujar Hashim dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu (26/8).
Ia mengatakan permintaan terhadap biochar saat ini cukup tinggi, sementara negara yang mampu memasok produk tersebut dalam jumlah besar masih terbatas.
Menurut dia, meskipun Indonesia tidak memiliki banyak pasokan, tetapi potensi pasar biochar Indonesia datang dari konsumen dan perusahaan Jepang, dan negara-negara yang menghadapi tantangan pertanian akibat kondisi iklim ekstrem.
Arab Saudi, misalnya, disebut membutuhkan biochar untuk membantu meningkatkan kemampuan tanah dalam mempertahankan kelembapan dalam rencana penghijauan di wilayah gurun.
Namun, peluang pasar tersebut membutuhkan penguatan infrastruktur industri, terutama dari sisi standar dan kualitas. Untuk itu, ABII menggandeng IDSurvey melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk mengembangkan standar biochar nasional, laboratorium biochar bertaraf internasional, sistem pengujian dan pemantauan mutu, serta skema sertifikasi.
Direktur Utama IDSurvey Arisudono Soerono mengatakan kapasitas produksi saja belum cukup untuk membangun industri biochar yang kompetitif. Konsistensi kualitas dan metode pengujian yang dapat dibandingkan menjadi faktor penting agar produk Indonesia memperoleh kepercayaan pasar global.
“Pengembangan laboratorium dan standar nasional yang kredibel akan meningkatkan kepercayaan pasar serta mendukung daya saing biochar Indonesia di tingkat internasional,” ujarnya.
Arisudono mengatakan IDSurvey akan mendukung pengembangan fasilitas dan kapabilitas laboratorium, metode pengujian, standardisasi, konsultansi, validasi dan verifikasi proyek karbon, hingga pengembangan skema sertifikasi.
IDSurvey juga menargetkan kapabilitas laboratorium dan skema sertifikasi yang dikembangkan bersama ABII memperoleh endorsement dari World Biochar Certification (WBC). Pengakuan tersebut diharapkan memperkuat kredibilitas produk Indonesia dalam perdagangan biochar internasional.
Sementara itu, Executive Director ABII Phil Rickard mengatakan ekosistem biochar Indonesia telah berkembang dari tahap riset dan proyek percontohan menjadi industri yang melibatkan pemerintah, industri, akademisi, dan pengguna. Fasilitas produksi biochar juga telah berkembang ke sedikitnya enam provinsi baru.
“Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan biochar berkembang dari sebuah teknologi menjadi sebuah industri, dan kini menuju sebuah ekosistem,” kata Phil.
Selain pasar biochar, pengembangan industri ini juga berpotensi terhubung dengan pasar karbon melalui proyek carbon removal. ABII turut mendorong penerapan biochar di sektor pertanian, termasuk integrasi dengan praktik Alternate Wetting and Drying (AWD) untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan emisi metana.
Dengan penguatan standar, laboratorium, sertifikasi, serta kebijakan Nilai Ekonomi Karbon, Indonesia berpeluang mengubah potensi biomassa menjadi komoditas baru sekaligus membangun posisi sebagai salah satu pusat industri biochar dan carbon removal di kawasan Asia Pasifik.
Biochar merupakan bahan padat kaya karbon yang mirip dengan arang, dibuat dengan bahan limbah organik melalui proses pemanasan atau pembakaran.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY