OPINI
Trilogi Peradaban untuk Pancasila
Oleh: Ahmad Nawawi, Syahroni, Destika Cahyana
Hari ini, 1 Juni 2026, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Lahir Pancasila. Momen ini waktu yang tepat untuk merenungkan dan mendiskusikan Pancasila sebagai anugerah paling berharga bagi negeri ini.
Tanpa Pancasila sulit membayangkan bangsa ini tetap bertahan karena keragaman suku, agama, ras, dan antargolongan yang berpotensi tinggi memporakporandakan bangsa ini menjadi berkeping-keping.
Pancasila telah berhasil menjadi konsensus bersama warga negara yang memiliki heterogenitas tinggi untuk hidup bersama secara berdampingan.
Pancasila menjadi kalimatin sawwa (titik temu) yang disepakati bersama berupa lima kebenaran universal yaitu ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan, dan keadilan karena merupakan nilai etik hidup umat manusia yang mampu melintasi dan menembus ruang dan waktu yang berbeda.
Dengan kata lain Pancasila ibarat tali pengikat atau semen perekat heterogenitas umat sehingga bangsa ini tetap utuh.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah jika bangsa ini telah berhasil bertahan bersama-bersama menjadi satu bangsa dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), apakah negara ini kemudian berhasil juga membangun peradaban seperti yang dicita-citakan yaitu keadilan sosial seperti yang tertulis di sila kelima Pancasila?
Cendikiawan muslim Dr Nurcholis Madjid alias Cak Nur menyadari bahwa membangun peradaban merupakan tugas lebih lanjut dari umat manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Tugas manusia tidak hanya membangun bangsa, lalu mendeklarasikan kemerdekaan sebuah negara, tanpa melanjutkan upaya membangun peradaban.
Pada konteks umat Islam, Cak Nur menawarkan trilogi yang sangat terkenal yaitu keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan sebagai pijakan umat Islam untuk turut serta membangun peradaban di Indonesia yang telah berhasil direkatkan oleh Pancasila.
Di zaman Nurcholis Madjid hidup, masih banyak umat Islam yang masih ragu untuk menerima keindonesiaan dan kemodernan karena dianggap incompatible dengan ajaran Islam.
Kini seiring waktu, atas jasa Cak Nur semakin banyak muslim perkotaan yang menjadi kalangan menengah yang semakin percaya diri bahwa Islam dan Indonesia tidak perlu dipertentangkan, demikian pula Islam justeru mesti berperan aktif di dunia modern untuk terus membangun peradaban.
Trilogi Peradaban
Trilogi yang ditawarkan Cak Nur tersebut mampu memposisikan Islam sebagai jiwa, keindonesiaan sebagai identitas, dan kemodernan sebagai instrumen untuk membangun peradaban, sedangkan tentu Pancasila menjadi kompas yang menjaga ketiganya tetap menuju arah yang sama.
Tentu gagasan brilian Cak Nur tersebut hanya dapat digunakan oleh umat Islam sehingga membutuhkan modifikasi untuk digunakan pada skala yang lebih global dan tentu universal yaitu umat manusia di negeri Pancasila.
Pada konteks yang lebih inklusif, gagasan Cak Nur tersebut dapat dikembangkan menjadi trilogi peradaban yaitu kerelegiusan (religiosity), kebangsaan (nationality), dan kemodernan (modernity).
Kata pertama, religiosity menjadi sumber nilai moral-spiritual; kata kedua, nationality sebagai identitas dan solidaritas kolektif; dan kata ketiga, modernity sebagai instrumen untuk mewujudkan kemajuan.
Dengan trilogi peradaban, setiap agama (religiosity) baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, maupun berbagai bentuk kepercayaan lainnya dapat menjadi sumber inspirasi etik bagi pembangunan peradaban Indonesia.
Nilai-nilai universal yang hidup dalam setiap agama seperti kejujuran, keadilan, welas asih, gotong royong, dan penghormatan terhadap martabat manusia merupakan modal sosial yang sangat besar bagi pembangunan bangsa.
Demikan pula kebangsaan (nationality) menjadi wadah yang menyatukan seluruh keragaman beragama dan cara pandang.
Di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, identitas kebangsaan tetap penting agar kemajuan yang dicapai tidak tercabut dari kepentingan rakyat Indonesia.
Kemajuan teknologi, ekonomi, dan ilmu pengetahuan pada akhirnya harus diarahkan untuk memperkuat kesejahteraan bangsa.
Terakhir, kemodernan menyediakan perangkat yang memungkinkan cita-cita besar tersebut diwujudkan.
Kemajuan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, tata kelola pemerintahan yang efektif, dan budaya berpikir rasional merupakan sarana penting untuk mempercepat kemajuan bangsa.
Namun demikian, kemodernan bukan tujuan akhir, tetapi alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar yaitu seperti tertulis pada sila kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Artificial Intelligence
Trilogi peradaban juga dapat menjadi landasan berpikir bagi umat beragama di Indonesia untuk menerima kemajuan dunia modern yang paling mutakhir yaitu artificial intelligence (AI).
Umat beragama tak perlu lagi memperdebatkan AI sepanjang digunakan dengan panduan nilai etis yang bersumber dari agama.
AI dapat dipandang kemajuan paling mutakhir dari teknologi lain yang sebelumnya telah berkembang seperti pisau, pedang, kalkulator, komputer, dan internet yang dapat digunakan untuk kepentingan kemajuan kemanusiaan atau sebaliknya mendegradasi kemanusiaan.
Pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah AI boleh digunakan, tetapi untuk tujuan apa AI digunakan?
Jika AI dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, mempercepat layanan kesehatan, meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat tata kelola pemerintahan, dan memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan, maka AI dapat menjadi instrumen penting untuk membangun peradaban Indonesia yang lebih maju.
Namun, ketika AI digunakan untuk memanipulasi informasi, menyebarkan kebencian, mengeksploitasi ekonomi, atau mengabaikan harkat dan martabat manusia, maka AI adalah ancaman bagi peradaban itu sendiri.
Pada konteks inilah relevansi trilogi peradaban menjadi nyata. Kereligiusan memberi batasan moral mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Kebangsaan memastikan bahwa kemajuan teknologi diarahkan untuk kepentingan bersama.
Kemodernan menyediakan instrumen dan kemampuan untuk mewujudkan berbagai cita-cita tersebut. Pancasila berfungsi sebagai titik temu dan perekat yang menjaga agar ketiganya tetap berjalan seiring.
Terakhir, mari menjadikan Pancasila sebagai energi kolektif untuk membangun peradaban Indonesia masa depan. Peradaban dengan masyarakatnya yang religius tanpa terjebak menjadi eksklusif.
Peradaban yang dimanfaatkan untuk kepentingan nasional tanpa terjebak menjadi nasionalisme yang sempit, dan tentu peradaban modern yang menjunjung tinggi kemanusiaan tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
Selamat Hari Lahir Pancasila.
*) Pengurus DPP Gema Mathla’ul Anwar
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY