OPINI

Cara Kita Memperlakukan Anak Menentukan Masa Depan Bangsa

Foto ilustrasi seorang guru sedang mengajar di hadapan murid-muridnya di sekolah. Foto: Antara
Foto ilustrasi seorang guru sedang mengajar di hadapan murid-muridnya di sekolah. Foto: Antara
Oleh: Fakih Usman*

apakabar.co.id, JAKARTA - Dua puluh tahun dari sekarang, anak-anak yang hari ini duduk di bangku sekolah dasar akan mengisi ruang-ruang penting kehidupan bangsa. Mereka akan menjadi guru, dokter, petani, ilmuwan, aparat penegak hukum, auditor, pengusaha, hingga pemimpin republik. Mereka bukan sekadar generasi penerus, mereka adalah wajah Indonesia pada tahun 2045.

Karena itu, pertanyaan yang paling penting bukanlah apakah Indonesia mampu menjadi negara maju. Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah apakah kita benar-benar sedang menyiapkan generasi yang akan membawa Indonesia menjadi negara maju?

Pertanyaan tersebut menemukan relevansinya pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 tahun 2026 yang mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan". Tema ini mengandung tiga pesan yang saling terkait: kasih sayang, perlindungan, dan investasi bagi masa depan bangsa. Ketiganya bukan sekadar slogan, melainkan agenda pembangunan yang harus diwujudkan secara nyata.

Bangsa yang besar tidak hanya dikenang karena kemajuan ekonominya atau megahnya infrastruktur yang dibangun. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu memastikan setiap anak tumbuh sehat, aman, dihargai, dan memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensinya.

Investasi Terbaik

Indonesia tengah menatap Indonesia Emas 2045 dengan optimisme. Berbagai pembangunan dilakukan untuk memperkuat daya saing nasional, mulai dari transformasi ekonomi, hingga penguatan sumber daya manusia. Namun, ada satu investasi yang nilainya melampaui seluruh pembangunan fisik, yaitu investasi pada anak.

Jalan tol dapat dibangun dalam hitungan tahun. Gedung dapat berdiri dalam hitungan bulan. Teknologi dapat dibeli atau dipelajari. Akan tetapi, membangun manusia membutuhkan waktu satu generasi.

Anak yang hari ini memperoleh gizi yang baik akan tumbuh menjadi generasi yang sehat. Anak yang memperoleh pendidikan bermutu akan menjadi sumber inovasi. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan penuh kasih akan tumbuh dengan karakter, empati, dan kepercayaan diri.
Sebaliknya, setiap anak yang kehilangan haknya, sesungguhnya adalah potensi bangsa yang ikut hilang. Karena itu, menyayangi anak bukan hanya persoalan afeksi. Ia adalah pilihan strategis dalam pembangunan nasional.

Tema Hari Anak Nasional tahun ini juga mengingatkan bahwa kasih sayang tanpa perlindungan tidak akan cukup.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, anak menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kekerasan, perundungan, eksploitasi, perkawinan anak, hingga ancaman di ruang digital masih menjadi persoalan yang memerlukan perhatian serius. Karena itu, tema HAN 2026 juga mendorong penguatan Gerakan Nasional #RamahAmanNyamanAnak (Gernas #RANA) sebagai upaya kolaboratif menghadirkan ruang hidup yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan.

Perlindungan anak tidak boleh dipahami hanya sebagai respons ketika terjadi kekerasan. Perlindungan harus dimulai jauh sebelumnya, melalui keluarga yang hangat, sekolah yang aman, ruang publik yang inklusif, literasi digital yang baik, serta kebijakan yang selalu menempatkan kepentingan terbaik anak sebagai pertimbangan utama.

Dalam perspektif ini, kualitas perlindungan anak sesungguhnya mencerminkan kualitas sebuah negara.

Mengukur Keberhasilan

Selama ini, keberhasilan pembangunan sering diukur dari pertumbuhan ekonomi, besarnya investasi, atau tingginya serapan anggaran. Semua indikator tersebut penting. Namun, bagi sebuah bangsa yang ingin membangun masa depan secara berkelanjutan, ukuran itu belum cukup.

Kita perlu mulai mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah anak-anak Indonesia hari ini hidup lebih aman dibandingkan tahun lalu? Apakah mereka dapat belajar tanpa rasa takut? Apakah mereka memperoleh layanan kesehatan yang lebih baik? Apakah anak perempuan, anak laki-laki, dan anak penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan pada akhirnya harus tercermin dalam kualitas hidup manusia, terutama anak-anak. Dengan kata lain, keberhasilan sebuah kebijakan bukan hanya diukur dari terserapnya anggaran, melainkan dari sejauh mana kebijakan itu menghadirkan perubahan nyata bagi kehidupan anak.
Membangun masa depan anak bukan hanya tugas keluarga. Ia juga bukan semata tanggung jawab pemerintah. Keluarga menanamkan kasih sayang dan nilai-nilai kehidupan. Sekolah membentuk pengetahuan dan karakter, Masyarakat menciptakan lingkungan yang aman. Media membangun cara pandang publik terhadap anak. Dunia usaha menghadirkan ekosistem yang lebih ramah anak. Pemerintah memastikan kebijakan, layanan, dan anggaran berpihak kepada kepentingan terbaik anak.

Kolaborasi inilah yang menjadi roh tema Hari Anak Nasional tahun ini. Tidak ada satu institusi pun yang mampu melindungi anak sendirian. Perlindungan anak adalah tanggung jawab kolektif seluruh bangsa.

Momentum untuk Bercermin

Hari Anak Nasional sejatinya bukan hanya milik anak-anak. Hari Anak Nasional adalah hari ketika orang dewasa bercermin.Sudahkah kita menjadi orang tua yang benar-benar hadir?

Sudahkah sekolah menjadi tempat yang membahagiakan? Sudahkah ruang digital menjadi tempat yang aman? Sudahkah setiap kebijakan publik mempertimbangkan dampaknya terhadap anak?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menentukan kualitas Indonesia beberapa dekade mendatang. Indonesia Emas tidak akan lahir semata-mata dari tingginya pertumbuhan ekonomi atau megahnya pembangunan fisik. Indonesia Emas akan lahir dari anak-anak yang tumbuh sehat, terlindungi, berkarakter, kreatif, dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-citanya.

Pada akhirnya, masa depan bangsa tidak sedang menunggu di tahun 2045. Masa depan itu sedang tumbuh di ruang kelas, di rumah-rumah sederhana, di taman bermain, dan di setiap sudut negeri tempat anak-anak Indonesia belajar mengenal kehidupan.

Anak-anak tidak memilih dilahirkan di keluarga mana, di daerah mana, atau dalam keadaan seperti apa. Tetapi mereka berhak memilih masa depan yang lebih baik. Tugas kitalah memastikan pilihan itu tetap terbuka. Sebab pada akhirnya, yang sedang kita bangun bukan hanya masa depan anak-anak, melainkan masa depan Indonesia sendiri.

*) Inspektur Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA)