EKBIS
Percepat Transisi Energi, IESR: PLTS Bisa Jadi Solusi
apakabar.co.id, JAKARTA - Institute for Essential Services Reform (IESR) menyatakan bahwa pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) merupakan solusi dalam percepatan transisi energi terbarukan karena dapat dilakukan dengan partisipasi masyarakat.
"PLTS saat ini menjadi listrik yang paling murah dan paling mudah diaplikasikan," kata Chief Executive Officer IESR Fabby Tumiwa di Jakarta, Kamis (6/8).
Menurut dia, program PLTS 100 gigawatt (GW) yang dicanangkan oleh pemerintah merupakan solusi dalam mewujudkan transisi energi terbarukan.
Fabby mengatakan bahwa program tersebut memang terbilang besar, namun PLTS merupakan energi terbarukan yang pembangunannya dapat dipercepat, melalui partisipasi masyarakat.
"Kalau kita mau membangun energi terbarukan cepat dan partisipatif kuncinya Itu adalah PLTS," ujarnya.
Potensi energi terbarukan di Indonesia mencapai 3.600 gigawatt dengan energi surya memiliki potensi yang paling besar yaitu 3.200 gigawatt dan ini perlu dimanfaatkan dengan baik, agar transisi energi terbarukan bisa berjalan.
Febby menambahkan, untuk membangun PLTS dapat dilakukan dari skala rumahan hingga industri, sehingga cocok untuk percepatan transisi energi terbarukan.
"Untuk yang lain tidak bisa cepat. Misalnya panas bumi harus eksplorasi terlebih dahulu, energi hidro pun demikian kita harus tahu debit airnya dalam satu tahun karena ketika musim kemarau akan menurun jadi tidak bisa cepat. Memang kalau ingin cepat dan partisipatif Itu dengan PLTS," katanya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengungkap rencana pemerintah membangun sejumlah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang kapasitasnya totalnya mencapai 100 gigawatt (GW) dalam waktu 2 tahun.
Presiden menjelaskan PLTS itu menjadi salah satu cara Indonesia membangun kemandirian energi sekaligus mengurangi emisi karbon.
"Kita dibicarakan di dunia, satu, kita dibicarakan kenapa? Kita leading (memimpin) dalam mengurangi emisi karbon. Kita leading. Mereka tahu kita punya program B50, tadi emisi kita hemat 44 juta karbon dioksida ekuivalen 44 juta, kita kurangi. Baru (dengan program) B50. Bagaimana kalau kita juga sudah diketahui, oleh pemimpin dunia kita diketahui, kita akan bangun 100 gigawatt tenaga surya," kata Presiden dalam acara peluncuran mandatori B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7).
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY