LINGKUNGAN HIDUP

Saat Daun Nanas Tak Lagi Berakhir di Tanah

Di Desa Hiba Lestari, daun nanas yang biasanya mengering dan membusuk setelah panen mulai dipandang berbeda.
Ilustrasi: Warfa Desa Cikadu, Subang, Jabar, mengolah serat daun nanas menjadi berbagai produk eco fashion. (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi.)
Ilustrasi: Warfa Desa Cikadu, Subang, Jabar, mengolah serat daun nanas menjadi berbagai produk eco fashion. (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi.)
apakabar.co.id, SANGATTA — Tumpukan daun nanas yang selama ini hanya menjadi limbah di kebun-kebun petani Kutai Timur (Kutim) berpeluang berubah menjadi sumber ekonomi baru. 

Pemerintah daerah kini mulai mengidentifikasi peluang pengembangan usaha serat daun nanas untuk memenuhi kebutuhan industri tekstil di Jawa Barat.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim menilai komoditas tersebut memiliki prospek menjanjikan karena selama ini pemanfaatan daun nanas masih sangat terbatas, meski produksi buah nanas di daerah itu terus berkembang.

"Kami sedang gencar menggali potensi industri daerah yang sejalan dengan 50 program prioritas pemda untuk kesejahteraan masyarakat," kata Kepala Bidang Industri dan Perdagangan Disperindag Kutim Achmad Dony Evriady di Sangatta, ditulis Kamis (25/6). 
Sebagai langkah awal, Disperindag Kutim bersama Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) serta Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kutim melakukan kunjungan lapangan ke Desa Hiba Lestari, Kecamatan Batu Ampar, pekan lalu.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung potensi pengembangan komoditas nanas sekaligus peluang pemanfaatan daun nanas menjadi serat bernilai ekonomi.

"Kunjungan ini untuk menyusun langkah strategis dalam mendorong pengolahan nanas tidak hanya sebagai produk konsumsi, tetapi juga sebagai bahan baku industri kreatif, termasuk pemanfaatan serat daun nanas yang memiliki nilai ekonomi tinggi," ujarnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, luas lahan produktif nanas di Desa Hiba Lestari mencapai sekitar 250 hektare. Selama ini, sebagian besar daun hasil panen hanya dibiarkan menjadi limbah di lahan perkebunan.

"Selama ini daun nanas yang dihasilkan oleh para petani hanya berakhir menjadi limbah. Padahal daun nanas memiliki nilai ekonomi yang tinggi jika dimanfaatkan secara baik," katanya.

Dony menjelaskan serat daun nanas dikenal memiliki karakter kuat, ringan, dan ramah lingkungan. Karena itu, bahan tersebut banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku tekstil, kerajinan tangan, material komposit, hingga pembuatan kertas.
Menurutnya, peluang tersebut semakin terbuka karena sudah ada ketertarikan dari industri di Jawa Barat untuk menyerap hasil produksi serat daun nanas dari Kutim.

"Hal ini perlu ditindaklanjuti karena sudah ada tawaran dari Jawa Barat. Untuk serat daun nanas ini pun harganya menjanjikan, yakni Rp12.000 per kilogram, sehingga memiliki prospek untuk ditindaklanjuti," ujarnya.

Jika berhasil dikembangkan, menurutnya, pemanfaatan serat daun nanas tidak hanya membuka sumber pendapatan baru bagi petani, tetapi juga mengurangi limbah pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. 

Selain memberi nilai tambah pada komoditas nanas, langkah tersebut dinilainya sejalan dengan upaya mendorong industri yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan di Kutai Timur.