NEWS
Melampaui Data El Nino 2015, BNPB Ungkap Ada 5.019 Titik Panas
apakabar.co.id, JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat akumulasi titik panas indikator kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah mencapai 5.019 titik hingga pertengahan Juli 2026.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyampaikan bahwa grafik akumulasi titik panas sejak awal tahun menunjukkan laju peningkatan yang signifikan dan lebih cepat dibandingkan periode El Nino sebelumnya, bahkan medio 2015 atau lebih dari satu dekade yang lalu.
"Grafik akumulasi ini menunjukkan jumlah hotspot dari Januari hingga pertengahan Juli 2026 mengalami peningkatan yang lebih cepat dibandingkan kondisi tahun-tahun El Nino terdahulu, yaitu tahun 2015, 2019, dan 2023," kata dia di Jakarta, Kamis (30/7).
Ardhasena menjelaskan bahwa Provinsi Kalimantan Barat, Papua Selatan, serta Riau tercatat menjadi tiga wilayah utama dengan kontribusi sebaran titik panas terbanyak di Indonesia.
https://apakabar.co.id/news/kasus-eks-jampidsus-dinilai-jadi-momentum-buktikan-komitmen-pemberantasan-korupsi/
Ketika ditanya bagaimana kondisi beberapa bulan ke depan, dia menyatakan sebagaimana hasil analisis BMKG puncak risiko potensi karhutla akan berlangsung pada bulan Agustus hingga September 2026 seiring meningkatnya potensi kekeringan.
Menurut dia, sejumlah daerah prioritas yang masuk dalam zona risiko tinggi mencakup Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, hingga Papua Selatan.
Bahkan pihaknya juga memproyeksikan adanya peningkatan risiko karhutla secara gradual di wilayah Pulau Sulawesi pada rentang bulan September hingga Oktober 2026.
Mengingat periode Juli hingga akhir September merupakan bulan-bulan paling kritis, BMKG menekankan pentingnya intensifikasi pemantauan dan pengawasan di lapangan guna meminimalkan risiko eskalasi titik api.
BMKG juga memantau sebaran partikulat asap kabut karhutla yang terpantau telah menyelimuti sebagian wilayah Kalimantan Barat dalam beberapa hari terakhir.
"Jadi bulan-bulan kritis adalah mulai saat ini bulan Juli hingga akhir bulan September tahun 2026. Nah, intensifikasi pemantauan dan pengawasan di daerah-daerah ini tentunya menjadi krusial untuk mencegah eskalasi titik api dan dampak kerusakan lingkungan yang lebih luas," kata dia.
Direktorat Klimatologi BMKG sebelumnya melaporkan fenomena El Nino diperkirakan akan terus bertahan, yang berdasarkan karakteristiknya indeks El Nino diperkirakan mencapai puncak pada Desember 2026 hingga Januari 2027.
Dalam perjalanannya prediksi terbaru BMKG juga menunjukkan terdapat peluang signifikan El Nino tahun ini berkembang melampaui kategori kuat sehingga potensi dampaknya terhadap kondisi iklim di Indonesia perlu terus diantisipasi.
Kondisi tersebut dijelaskan sebagaimana pemantauan iklim pada dasarian terakhir Juli 2026 yang menunjukkan musim kemarau semakin menguat.
Pada periode ini BMKG mencatat 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sebaliknya, wilayah yang masih berada pada musim hujan tinggal 77 Zona Musim.
Secara spasial, musim kemarau kini telah mendominasi wilayah selatan khatulistiwa meliputi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, serta sebagian Papua. Masing-masing berada pada kategori Merah (lebih dari 60 Hari Tanpa Hujan/HTH), Merah muda (31-60 HTH), dan Cokelat tua (21-30 HTH).
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY