NEWS
Plan Indonesia: Pemulihan Pendidikan Jadi Prioritas Pascagempa NTT
apakabar.co.id, JAKARTA - Yayasan Plan Indonesia mengimbau pemulihan layanan pendidikan menjadi prioritas pasca terjadinya bencana gempa bumi di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti mengatakan pemulihan pendidikan tidak boleh menunggu sampai seluruh proses pemulihan bencana selesai. Pendidikan anak harus menjadi bagian dari respons sejak fase darurat.
“Gempa dapat terjadi dalam hitungan detik, tetapi dampaknya terhadap pendidikan dan masa depan anak dapat berlangsung jauh lebih lama," katanya dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Selasa (18/8).
Ia mengatakan data sementara Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana mencatat 512 sekolah terdampak, dengan 166 sekolah mengalami kerusakan berat dan 478 ruang kelas rusak berat sehingga kondisi itu berdampak pada sedikitnya 25.765 murid.
Tujuh kabupaten yang tercakup dalam pemetaan tersebut, lanjutnya, adalah Nagekeo, Ende, Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, dan Sikka.
Ia menambahkan akses pendidikan di sejumlah wilayah juga masih menghadapi tantangan. Dua sekolah dasar di Ende dan satu layanan pendidikan anak usia dini di Manggarai Timur belum dapat diakses pascagempa.
Sejak hari pertama pascagempa, pihaknya telah bergerak di sejumlah wilayah terdampak di Pulau Flores guna merespons kebutuhan penyintas, khususnya anak dan kelompok rentan.
Ia mengatakan Plan Indonesia telah melakukan kaji cepat kebutuhan serta menyalurkan ratusan paket bantuan darurat ke sejumlah titik pengungsian di Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ngada, dan Sikka.
Bantuan tersebut, kata dia, mencakup kebutuhan dasar seperti perlengkapan kebersihan keluarga, perlengkapan kebersihan menstruasi, perlengkapan hunian sementara, alat permainan edukatif, air minum, dan makanan ringan.
Dalam respons pendidikan, Plan Indonesia telah memberikan dukungan psikososial kepada ratusan anak di lokasi pengungsian.
Dukungan tersebut bertujuan membantu anak menghadapi tekanan dan ketakutan akibat gempa sekaligus memberikan ruang yang aman bagi mereka untuk bermain, berinteraksi, dan mulai memulihkan rasa aman.
Plan Indonesia terus berkoordinasi dengan Klaster Pendidikan yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan pemangku kepentingan terkait, untuk memastikan kebutuhan pendidikan anak terdampak menjadi bagian dari respons kemanusiaan dan pemulihan.
“Dalam keadaan darurat, anak tidak boleh kehilangan haknya untuk belajar. Ketika sekolah rusak, kita perlu menghadirkan alternatif agar proses belajar tetap berlangsung. Ketika guru dan anak sama-sama terdampak, keduanya membutuhkan dukungan. Dan ketika sekolah mengalami kerusakan, proses perbaikan harus dimulai sedini mungkin,” pungkasnya.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY