OPINI
Muktamar ke-35 NU: Medan Pertarungan Para "Menak"
Oleh: Ishaq Zabaedi Raqib*
Ketika Nabi Musa As menyampaikan hasratnya untuk ikut dan berguru kepada Nabi Khidir As, putra Imron itu diberi sejumlah persyaratan. Jika menolak taat, akan ada konsekuensi yang tidak ringan.
Akibat terberat, Musa As diminta minggir. Sanksinya firoq --berpisah dengan sang guru. Salah satu syaratnya adalah jangan banyak bertanya. Ini berat. Tentu tidak mudah situasinya, jika seorang santri dilarang bertanya kepada syekhnya, sedang dia sudah menyatakan azam untuk berguru dan menimba ilmu dari sang kiai.
Syarat lain yang tidak kalah berat dan mesti dipatuhi Nabi Musa adalah dia tidak boleh protes kepada Nabi Khidir. Kekhawatiran Khidir As menjadi kenyataan. Dalam praktiknya, Nabi Musa, dengan mata telanjang menyaksikan tindakan Nabi Khidir yang "aneh-aneh" dalam pandangan mata telanjang. Karena terbiasa kritis, bahkan berani menentang Raja Fir'aun, maka Musa memberi respons cepat atas peristiwa-peristiwa yang baginya di luar batas kewajaran.
Ia menolak patuh kepada Khidir. Ia berselisih pandang dengan kiainya. Ia menyoal kebenaran versi guru. Ia menyatakan tidak meyakini ada aspek yang bisa dipatuhi dari perintah Nabi Khidir As. Ia berbeda pilihan dengan gurunya.
Demi keyakinan itu dan demi memegang teguh pilihannya, Nabi Musa As harus menerima konsekuensi dari tindakan "menodai" baiatnya kepada Nabi Khidir. Sirah menyebutkan, mereka akhirnya firoq. Dan, Nabi Musa menerima takdirnya.
Al Junayd berkata, "Ketika Musa ingin berguru kepada Khidir, beliau menjaga syarat-syarat etika. Pertama, mohon izin berguru. Khidir mengizinkan dengan syarat. Tidak menentangnya dalam segala hal dan pantang protes. Ketika Musa As mulai kontra, sekali dua masih ditoleransi. Namun, yang ketiga, dan ini adalah batas dari jumlah banyak dan awal dari batas maksimal, maka terjadilah perpisahan. "Inilah perpisahan antara aku dan antara dirimu." (QS. Al Kahfi: 78).
Para Menak
Dua orang "menak" dalam daftar nabi dan rasul ini, telah memberi pelajaran yang sarat nilai. Menakjubkan. Dua orang nabi kenamaan, memilih perspektif berbeda tentang suatu peristiwa dan tindakan. Dua-duanya adalah figur suci dan kekasih Tuhan, yang kisah perjalanan spiritual mereka dihafal di luar kepala oleh umat yang datang kemudian. Di antara ratusan ribu jumlah nabi, begitu riwayat yang sampai kepada kita, mereka masuk dalam daftar nabi dan rasul yang "menak".
Syekh Abu Ali ad Daqqaq berkata, "Awal segala perpisahan adalah pertentangan, yakni, orang yang kontra dengan syekhnya, berarti ia tidak menetapi tarekatnya. Hubungan antara keduanya telah terputus, walau keduanya terkumpul dalam satu bidang tanah. Barang siapa berguru kepada salah satu syekh, kemudian dalam hatinya ada konflik, maka janji pertalian guru dan murid telah rusak, dan ia wajib bertobat." (Kitab Risalah Qusyairiyah).
Jika dua orang nabi berselisih mengenai cara dan pendekatan atas suatu urusan, mereka bisa langsung pulang kepada Tuhan. Bahkan, Nabi Musa As juga dikenal sebagai kalimullah. Ia bisa minta waktu kapan saja untuk bisa lapor kepada Tuhan. Dalam pemahaman sementara ahli tafsir, demi tujuan desiminasi risalah dan nubuwatnya, Nabi Musa dikisahkan berkirim "proposal" untuk pengangkatan Harun sebagai nabi. Nabi Musa perlu seorang juru bicara yang paten untuk menyampaikan pesan Tuhan kepada alam semesta.
Tapi jika di forum tertinggi jam'iyyah, para "menak" berselisih cara dalam menakhodai bahtera besar bernama Nahdlatul Ulama (NU), lalu ke mana mereka akan melapor? Bisa saja juga melapor kepada Tuhan. Yang jelas, para gawagis --gus gus, sama-sama sedang berpikir keras, menawarkan janji dan "proposal" kepada para muktamirin. Para gus ini adalah figur-figur yang selama ini memperoleh takzim dan penghormatan karena banyak faktor. Nasab salah satunya.
Dalam diri gus-gus yang mulia ini, mengalir darah biru. Di dalam diri mereka terekam jejak suci para kiai, yang khidmah panjangnya, dikenal nyata dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama oleh warga Nahdliyin. Para kiai kerabat dekat para gus ini, adalah sekelompok afadhil, yang merupakan shareholder dan stakeholder utama NU. Beliau-beliau mengasuh dan mengelola pesantren yang diteladani jamaah dan memproduksi santri-santri sebagai kader yang ikut aktif mengelola jamaah dan jam'iyyah.
Populer dan Non-gus
Tentu saja kita sudah sangat akrab dengan nama-nama, seperti Gus Yahya, Gus Kikin, Gus Salam, Gus Rozin, Gus Yusuf, dan sejumlah nama gus lain. Kita juga pasti familiar dengan pondok pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, atau Pesantren Tebuireng Jombang, atau Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, atau Pesantren Maslakul Huda Kajen Pati, atau Pesantren API Tegalrejo Magelang. Lembaga-lembaga pendidikan Islam yang jejak perjuangannya untuk agama, republik, dan kemanusiaan ini, tidak diragukan.
Para gus yang saat ini telah menjelma kiai dan ulama yang dipatuhi itu, lagi bersiap-siap "bertarung" agar dibuka kesempatan menakhodai NU. Masing-masing telah memiliki visi dan misi, setelah merenungi, lalu membaca, dan membuat catatan. Mereka mlihat data, mengkritisi temuan, dan mencarikan jalan keluar dari persoalan-persoalan jam'iyyah periode-periode lalu. Kelemahan dan kelebihan Gus Yahya dan PBNU, sudah dikaji, dibuatkan rencana kerja dan disiapkan langkah mitigasinya.
Hal yang tak kalah penting dipersiapkan adalah "tim sukses". Ini urusan lumayan krusial. Penting dipikirkan matang-matang, khususnya dalam tahap memahamkan anggota tim tentang niat, maksud, cara dan visi serta misi mengenai NU versi kandidat. Tim ini bak pisau bermata dua. Jika diisi orang-orang yang kapabel, tepat dan berada dalam satu biduk visi yang sama, tim ini akan banyak berkontribusi. Tapi jika tidak atau sebaliknya, maka keberadaan tim ini hanya akan jadi "masalah".
Para anggota tim masing-masing kandidat sedang dalam posisi saling mencari atau bahkan membuat celah, soal kelebihan dan kekurangan setiap lawan. Kekurangan dieksplorasi dan dijadikan pintu masuk untuk dilakukan pendekatan. Mereka sangat paham bahwa setiap pilihan mengandung konsekuensi-konsekuensi. Mereka siap firoq atau berpisah "sementara" dari sang guru agar lebih mudah "memenangkan" guru yang lain dalam muktamar di pesantren legendaris, Tambakberas.
Masing-masing tim sukses akan terdiri dari para santri, mungkin juga gus gus muda, atau penderek, sesuai dengan asal pesantren mereka "nyantri". Boleh jadi juga karena adanya kedekatan tarekat atau "ideologi" yang saling beririsan. Boleh jadi santri Maslakul Huda akan berada di tim API Magelang, atau juga ke Raudlatut Thalibin Rembang. Bisa juga sebaliknya, Tebuireng berkolaborasi dengan Mamba'ul Ma'arif Denanyar. Lalu, di mana posisi nama lain yang bukan "menak" pesantren?
Ada nama Prof Nasaruddin Umar atau Prof Muhammad Mukri. Nama pertama, saat ini duduk di Syuriyah PBNU dan sedang menjabat sebagai Menteri Agama, sedang yang kedua adalah Ketua PBNU saat ini, Ketua MUI Lampung dan eks Ketua Panitia Daerah Muktamar ke 34 di Lampung. Meski bukan dari kalangan gawagis, keduanya besar di pesantren dan mercuasur kampus masing-masing. Jejak pengabdian keduanya di NU juga mentereng. Prof Nasar adalah mantan Katib Aam dan Prof Mukri pernah menjadi orang nomor satu NU Lampung.
Ikhtitam
Kisah perjalanan spiritual Nabi Khidir dan Nabi Musa, membuka banyak tabir. Jika ditambah dengan anjuran Nabi Ya'kub As kepada putra-putranya agar tidak menggunakan satu pintu, tapi mencoba banyak pintu untuk masuk ke istana Nabi Yusuf As, sempurna sudah dalil untuk mendapatkan tiket kemenangan.
Sangat mungkin satu dua orang santri akan berbeda pilihan dan firoq dengan gus, kiai, dan pesantrennya. Tapi muaranya adalah memenangkan NU memasuki abad keduanya. Lewat para gus atau para profesor, kartu ada di tangan muktamirin.
*) Mustasyar MWC NU, Cileungsi, Bogor
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY