EKBIS

AESI Siap Dukung Percepata Pembangunan PLTS Nasional

PLTS Pertamina NRE. Foto: Pertamina NRE
PLTS Pertamina NRE. Foto: Pertamina NRE
apakabar.co.id, JAKARTA - Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) mendukung percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) nasional berkapasitas 30 gigawatt (GW) sebagai tahap pertama proyek PLTS 100 GW.

"Tugas industri saat ini adalah memastikan kesiapan di sisi kami, mulai dari rantai pasok, kualitas pemasangan, hingga tenaga kerja yang tersertifikasi,” ujar Ketua Umum AESI Mada Ayu Habsari dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Jumat (21/8).

Dalam rangka merealisasikan pembangunan PLTS, AESI membentuk empat satuan tugas, yakni satgas 100 GW untuk membantu memetakan jalan menuju pemanfaatan nasional energi surya melalui pendekatan yang pragmatis.

Satgas kedua adalah PLTS atap untuk mendorong pemanfaatan PLTS atap secara masif dalam mendukung pencapaian target energi surya nasional.
Independent Power Producer (IPP) menjadi satgas ketiga untuk membantu mengawal proses pengadaan PLTS agar bankable dan menarik bagi ekosistem investasi.

Satgas keempat adalah green workforce atau tenaga kerja hijau untuk memastikan ekosistem industri surya memiliki sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dan tersertifikasi.

“Presiden Prabowo Subianto memiliki visi agar setiap desa idealnya memiliki PLTS berkapasitas 1 MW, dan AESI mendukung penuh usaha pemerataan energi,” ucap Mada Ayu.

AESI kini tengah mengembangkan model sandbox untuk mewujudkan kemandirian energi berbasis komunitas. Dengan karakter yang modular, tutur dia melanjutkan, PLTS menjadi sebuah solusi untuk wilayah yang selama ini sulit dilayani jaringan kelistrikan, sekaligus membuka ruang pemanfaatan di fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan koperasi desa.
AESI menjajaki kerja sama strategis dengan Kementerian Koperasi untuk memanfaatkan jaringan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai service centre. Langkah ini memastikan perawatan pasca-pemasangan terjaga dengan baik, sekaligus membuka peluang bagi masyarakat lokal untuk memperoleh pendapatan tambahan.

"Selama ini perawatan PLTS di desa masih bergantung pada teknisi dari luar wilayah. Instalasi yang baik bisa berhenti berfungsi hanya karena tidak ada yang merawat," ucap Mada.

Selain itu, AESI akan menyelenggarakan pelatihan khusus bagi perempuan di desa agar mampu melakukan perbaikan dan pemeliharaan PLTS secara mandiri. Program ini akan dinaungi oleh Task Force Green Workforce dengan harapan kemampuan teknisi tersedia langsung di lokasi, tanpa harus menunggu teknisi dari kota.

"Kami ingin perempuan di desa memiliki keterampilan untuk menjaga sistem PLTS 1 MW ini, memberikan pendapatan tambahan, sekaligus menjaga keandalan aset negara di lapangan,” kata Mada.