OPINI

Antrean paling sabar di dunia

Ada sesuatu yang selalu terasa ganjil ketika membicarakan haji di Indonesia. Di satu sisi, ia adalah panggilan spiritual yang sangat pribadi. Sunyi. Dalam banyak keluarga, keinginan berhaji bahkan sering tidak diumumkan keras-keras. Ia tumbuh perlahan.

Oleh Aditya Ramadhan

KADANG, keinginan itu terlihat dari kebiasaan orang tua membingkai gambar ka'bah di tembok rumah. Kadang muncul dari cerita tetangga sepulang dari Makkah yang suaranya berbinar saat menceritakan tawaf pertama. Kadang juga dari doa-doa kecil setelah shalat yang terpaksa terhenti karena terputus oleh air mata.

Namun ketika niat itu masuk ke dalam sistem, semuanya berubah menjadi angka. Nomor porsi. Tahun keberangkatan. Estimasi tunggu. Setoran awal. Kuota nasional. Daftar provinsi dengan antrean terpanjang.

Mungkin memang harus begitu. Indonesia terlalu besar untuk mengelola haji hanya dengan niat baik dan harapan. Jutaan orang ingin berangkat. Ruang di tanah suci terbatas. Pemerintah Arab Saudi menetapkan kuota. Negara harus mengatur. Kementerian Agama membangun sistem panjang bernama SISKOHAT. Orang mendaftar, menyetor uang, mendapat nomor urut, lalu menunggu.
Menunggu keberangkatan haji di Indonesia, sepertinya, menjadi bagian dari ibadah itu sendiri.
Ada yang mendaftar saat baru menikah dan baru berangkat ketika anaknya sudah bekerja. Ada yang mendaftar ketika rambutnya masih hitam, lalu suatu hari mengecek estimasi keberangkatan sambil memakai kacamata baca. Ada juga yang sejak awal sadar dirinya mungkin tidak akan sempat berangkat, tetapi tetap mengambil nomor porsi karena merasa setidaknya ia pernah mengetuk pintu itu.

Negara bahkan sudah menyiapkan mekanisme hukum untuk situasi ini: nomor porsi bisa dilimpahkan kepada ahli waris jika pemiliknya wafat sebelum berangkat. Yang memang, tidak sedikit realitanya seperti itu.

Di beberapa daerah, waktu tunggu sudah melampaui dua atau tiga dekade. Di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, antrean haji bahkan mencapai 48 tahun. Itu angka yang sulit dibayangkan. Sebab hidup manusia sering berubah total dalam rentang waktu selama itu.

Orang bisa pindah kota, kehilangan pekerjaan, sakit, ditinggal pasangan, punya cucu, terlalu tua, bahkan wafat sebelum namanya dipanggil. Tetapi, daftar tunggu haji tidak pernah menjadi alasan bagi orang-orang yang terlalu rindu.

Setiap tahun tetap ada orang datang ke bank untuk menyetor Rp25 juta sebagai setoran awal. Kadang mereka datang dengan wajah biasa saja, seperti sedang mengurus administrasi sederhana. Padahal sebenarnya mereka sedang membayar sesuatu yang belum tentu bisa mereka nikmati dalam waktu dekat. Mereka sedang menyatakan keimanan, dari rukun keislaman yang mungkin baru tiba 20 tahun lagi ditunaikan.

Tapi, uang itu tidak diam menunggu seperti penyetornya. Seluruh dana setoran yang terhimpun dari jutaan calon peserta haji itu kini mencapai Rp180,72 triliun per Desember 2025, dikelola negara, diputar dalam instrumen syariah, sebagian hasilnya dikembalikan sebagai subsidi perjalanan.

Tahun ini, dari total biaya haji Rp87,4 juta per orang, tiap peserta hanya membayar langsung Rp54,19 juta. Sisanya, sekitar Rp33,2 juta, ditutup dari nilai manfaat dana yang selama ini mengantre bersama pemiliknya.

Oleh karena itu, berhaji bagi masyarakat Indonesia, terasa begitu emosional. Haji bukan hanya milik muslim yang mampu secara ekonomi. Ia menjadi kumpulan cerita tentang orang yang mencicil rindu sedikit demi sedikit. Tentang pedagang kecil yang menyimpan keuntungan harian. 

Tentang pensiunan yang akhirnya punya tabungan cukup. Tentang pasangan tua yang diam-diam saling menjaga kesehatan karena takut salah satu tidak sempat berangkat.

Tahun ini saja, satu dari empat peserta haji yang berangkat adalah lansia. Ya, barangkali mereka sudah menunggu cukup lama hingga rambutnya sampai-sampai berganti warna sebelum nama mereka dipanggil.

Kadang pembicaraan tentang antrean haji terlalu sibuk pada angka dan regulasi. Memang semua itu penting. Kuota perlu diatur. Sistem harus transparan. Negara wajib memastikan pengelolaan dana haji tetap aman dan akuntabel.

Panjangnya antrean hari ini pun sebagian adalah warisan kebijakan lama selama hampir satu dekade sebelum 2014. Bank-bank syariah pada saat itu menawarkan dana talangan yang memungkinkan orang mendapat nomor porsi haji meski belum sepenuhnya mampu membayar penuh. Akhirnya, permintaan meledak, antrean membengkak, dan efeknya masih terasa sampai sekarang.

Tetapi, di balik seluruh mekanisme pesimis itu, ada sesuatu yang jauh lebih kuat: dialah iman. Yang mampu menggerakkan hati seseorang untuk melangkah dalam antrean, semustahil apapun cara pergi ke tanah suci.

Mungkin karena itulah, meski waktu tunggu terasa panjang dan kadang melelahkan, banyak orang tetap bertahan dalam ketabahan yang sangat sabar. Mereka tahu panggilan haji bukan seperti membeli tiket perjalanan biasa.

Tidak semua hal bisa dipercepat hanya dengan uang atau keinginan kuat. Ada orang yang mampu tetapi belum dipanggil. Ada yang secara hitungan manusia tampak mustahil berangkat, tetapi akhirnya sampai juga.
Di banyak pengajian di masjid-masjid kampung, kalimat seperti itu sering terdengar. Kadang terdengar klise. Tetapi semakin dipikirkan, semakin terasa bahwa penantian haji memang membentuk cara orang menyikapi hidup. Ia mengajarkan bahwa ada hal yang belum tuntas ditunaikan, maka masih banyak yang harus diperjuangkan.

Mungkin itu sebabnya banyak calon peserta haji tetap menjaga nomor porsinya seperti menjaga doa yang belum selesai diaminkan. Mereka menunggu sambil hidup seperti biasa. Membuka warung di pagi hari. Pergi ke sawah. Menghadiri pengajian malam Jumat.

Sesekali mengecek tahun keberangkatan, lalu kembali bersabar sambil terdengar gumaman kecil di dalam hati, "Oh, masih lama."

Justru pada iman itulah diletakkan kesabaran dan kerinduan secara bersamaan. Dirawat sebaik-baiknya, sampai entah apa yang akan datang lebih dulu: panggilan Allah ke tanah suci, atau panggilan Allah pada jiwa-jiwa yang tenang.

"Kembalilah pada Tuhanmu dengan rida dan diridai."