NEWS

China Ubah Ejaan Nama Marco Rubio demi Buka Jalan Diplomatik dengan Trump

Kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing pekan ini memunculkan cerita diplomatik yang tidak biasa. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, yang sebelumnya dijatuhi sanksi oleh China, kini justru ikut dalam rombongan resmi menuju Beijing.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio. Foto: ANTARA
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio. Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA - Kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing pekan ini memunculkan cerita diplomatik yang tidak biasa. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, yang sebelumnya dijatuhi sanksi oleh China, kini justru ikut dalam rombongan resmi menuju Beijing.

Situasi itu menjadi perhatian karena Rubio selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu politikus Amerika yang paling keras mengkritik pemerintah China, terutama terkait isu hak asasi manusia, Taiwan, hingga Hong Kong.

Namun di tengah memanasnya persaingan global, Beijing tampaknya memilih jalur diplomasi yang lebih fleksibel. Salah satu langkah unik yang disorot adalah perubahan transliterasi atau penulisan nama Rubio dalam aksara Mandarin.

Pemerintah China dan media resmi negara itu diketahui mulai menggunakan karakter Mandarin berbeda untuk suku kata “Lu” dalam nama Rubio menjelang ia resmi menjabat sebagai menteri luar negeri pada Januari 2025.

Dua diplomat yang berbicara kepada AFP meyakini perubahan itu bukan sekadar persoalan bahasa. Langkah tersebut diduga menjadi celah diplomatik agar sanksi lama terhadap Rubio tidak lagi menjadi hambatan formal dalam hubungan bilateral.

Sebelumnya, saat masih menjadi senator AS, Rubio dua kali dijatuhi sanksi oleh Beijing. Sanksi itu mencakup larangan masuk ke wilayah China sebagai respons atas kritik keras Rubio terhadap kebijakan Beijing terhadap minoritas Uyghur dan Hong Kong.

Juru bicara Kedutaan Besar China, Liu Pengyu, menegaskan bahwa sanksi tersebut ditujukan pada tindakan Rubio saat masih menjadi senator.

“Sanksi tersebut menargetkan ucapan dan perbuatan Bapak Rubio ketika beliau menjabat sebagai senator AS terkait China,” ujar Liu di Beijing, Rabu (14/5).

Pernyataan itu sekaligus memberi sinyal bahwa Beijing tidak akan menghalangi Rubio dalam kunjungan bersama Presiden Donald Trump.

Trump sebelumnya telah tiba di Beijing pada Rabu (14/5) untuk melakukan kunjungan kenegaraan dan bertemu Presiden China, Xi Jinping. Pertemuan tersebut diperkirakan membahas sejumlah isu strategis, mulai dari perdagangan, Taiwan, hingga perkembangan kecerdasan buatan atau AI.

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi bahwa Rubio ikut dalam perjalanan tersebut. Ia bahkan terlihat menaiki Air Force One bersama rombongan presiden di Pangkalan Angkatan Udara Andrews.

Rubio sendiri bukan sosok asing dalam ketegangan hubungan AS-China. Politikus keturunan Kuba itu selama ini dikenal vokal menentang komunisme dan menjadi salah satu pengusul utama undang-undang yang memberi sanksi kepada China atas dugaan penggunaan kerja paksa terhadap minoritas Muslim Uyghur.

Ia juga aktif mengkritik tindakan keras Beijing terhadap gerakan demokrasi di Hong Kong. Dalam sidang konfirmasi saat pencalonannya sebagai menteri luar negeri, Rubio bahkan menyebut China sebagai tantangan terbesar bagi Amerika Serikat.

Namun sikap pemerintah Trump tampak lebih pragmatis setelah kembali berkuasa. Trump beberapa kali menggambarkan Xi Jinping sebagai “teman” dan lebih fokus pada hubungan dagang serta stabilitas ekonomi dibanding isu hak asasi manusia.

Meski begitu, Rubio tetap menunjukkan sikap keras terhadap Taiwan. Tahun lalu, ia menegaskan pemerintahan Trump tidak akan menjadikan masa depan Taiwan sebagai alat tawar-menawar demi mendapatkan kesepakatan perdagangan dengan China.

Di sisi lain, perubahan penulisan nama Rubio dalam bahasa Mandarin juga memunculkan perhatian publik karena menunjukkan bagaimana diplomasi modern kadang bergerak melalui detail-detail kecil yang tidak biasa.

Dalam bahasa Mandarin, transliterasi nama asing memang tidak selalu baku. Trump sendiri memiliki dua nama berbeda di China. Pemerintah China umumnya menggunakan nama “Telangpu”, meski sebagian masyarakat juga mengenalnya sebagai “Chuanpu”.

Kini, perubahan kecil pada nama Rubio justru menjadi simbol bagaimana dua negara rival berusaha menjaga komunikasi tetap terbuka di tengah ketegangan geopolitik yang terus meningkat.