LIFESTYLE

9.059 Ton Sampah Jakarta per Hari, Pemprov Ajak Warga Ubah Kebiasaan agar Sisa Makanan Tak Terbuang

Pemprov DKI Jakarta mengajak masyarakat bijak mengelola pangan, sebagai langkah nyata mengurangi timbunan sampah mengingat hampir separuh sampah harian Jakarta berasal dari sampah organik yang didominasi sisa makanan.
Pemprov DKI Jakarta memperkuat gerakan pilah sampah dari sumber untuk mengatasi persoalan sampah perkotaan. Foto: Dinas LH DKI
Pemprov DKI Jakarta memperkuat gerakan pilah sampah dari sumber untuk mengatasi persoalan sampah perkotaan. Foto: Dinas LH DKI
apakabar.co.id, JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengajak masyarakat untuk mengelola pangan secara lebih bijak, sebagai langkah nyata mengurangi timbunan sampah di ibu kota. Upaya tersebut dinilai penting karena hampir separuh sampah harian Jakarta berasal dari sampah organik yang didominasi sisa makanan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi Asikin menjelaskan pengurangan sisa makanan, baik dari rumah tangga maupun tempat usaha, akan berdampak langsung pada berkurangnya beban sistem pengelolaan sampah kota.

Menurutnya, semakin sedikit makanan yang terbuang, semakin kecil pula volume sampah yang harus dikumpulkan, diangkut, hingga diolah di tempat pemrosesan akhir. Karena itu, perubahan kebiasaan masyarakat menjadi kunci untuk mengatasi persoalan tersebut.

"Semakin sedikit makanan yang terbuang, semakin kecil pula volume sampah yang harus dikumpulkan, diangkut, dan diolah. Karena itu, pengurangan sisa makanan harus menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari masyarakat Jakarta," ujar Dudi dalam keterangannya, Jumat (24/7).

Sebagai bentuk nyata, Pemprov DKI menggencarkan dua program, yakni Gerakan Warga Jakarta Bijak Pangan dan Gerakan Pilah Sampah. Melalui kedua gerakan ini, warga diajak untuk lebih bijak dalam merencanakan konsumsi, mencegah makanan terbuang sia-sia, memanfaatkan bahan pangan yang masih layak, serta memilah sampah sejak dari rumah.

Dudi membeberkan, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mendukung program tersebut. Mulai dari berbelanja sesuai kebutuhan, mengambil makanan secukupnya, menghabiskan makanan yang telah diambil, hingga mengolah kembali bahan pangan yang masih layak konsumsi.

Selain itu, masyarakat juga diimbau membiasakan diri memisahkan sampah organik dan anorganik sebelum dibuang. Kebiasaan sederhana ini dinilai mampu mempermudah proses pengolahan sampah sekaligus meningkatkan tingkat daur ulang.

Gerakan tersebut dilaksanakan bersama Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD). Tidak hanya melibatkan pemerintah dan masyarakat, program ini juga menggandeng komunitas serta pelaku usaha di sektor hotel, restoran, dan katering.

Kolaborasi berbagai pihak tersebut menjadi bagian dari strategi Pemprov DKI Jakarta dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan.

Dudi mengungkapkan, Jakarta saat ini menghasilkan sekitar 9.059 ton sampah setiap hari. Dari jumlah tersebut, hampir separuhnya merupakan sampah organik yang sebagian besar berasal dari sisa makanan.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi pemerintah dalam mengelola sampah perkotaan. Jika tidak dikendalikan, volume sampah akan terus meningkat dan memperbesar beban tempat pengolahan sampah.

"Sampah sisa makanan yang terus meningkat memberikan beban besar terhadap sistem pengelolaan sampah perkotaan. Karena itu, pengurangannya harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari dalam mengelola pangan," terang Dudi.

Sementara itu, Executive Director IBCSD Indah Budiani menilai persoalan sisa makanan sebenarnya dapat dicegah apabila masyarakat mulai mengubah kebiasaan dalam mengelola pangan di rumah.

Melalui Gerakan Warga Jakarta Bijak Pangan, masyarakat didorong untuk lebih memperhatikan cara membeli, menyimpan, hingga memanfaatkan makanan agar tidak berakhir menjadi sampah.

Menurut Indah, kebiasaan sederhana seperti menyusun daftar belanja sesuai kebutuhan, menyimpan bahan makanan dengan cara yang benar agar lebih awet, mengolah kembali makanan yang masih layak konsumsi, hingga menyalurkan makanan kepada pihak yang membutuhkan dapat memberikan manfaat besar.

Menurutnya, jika jutaan warga Jakarta menerapkan kebiasaan tersebut secara konsisten, dampaknya tidak hanya mengurangi timbunan sampah, tetapi juga menciptakan budaya konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

Ia menambahkan, pengelolaan pangan yang bijak juga memberikan keuntungan langsung bagi masyarakat. Selain membantu mengurangi volume sampah, langkah tersebut dapat menghemat pengeluaran rumah tangga karena makanan tidak terbuang percuma.

Di sisi lain, kebiasaan berbagi makanan yang masih layak konsumsi juga dapat memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Melalui gerakan ini, Pemprov DKI Jakarta berharap pengurangan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi budaya baru yang diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan perubahan kebiasaan yang dimulai dari rumah, target menciptakan Jakarta yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan diharapkan dapat lebih cepat terwujud.