EKBIS
IHSG Menguat di Tengah Ketidakpastian Global, Investor Pantau Arah Suku Bunga dan Inflasi
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Kamis (2/7) dengan penguatan di tengah perhatian pelaku pasar yang tertuju pada perkembangan kebijakan suku bunga global, khususnya dari bank sentral Amerika Serikat.
apakabar.co.id, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Kamis (2/7) pagi dengan penguatan di tengah perhatian pelaku pasar yang masih tertuju pada perkembangan kebijakan suku bunga global, khususnya dari bank sentral Amerika Serikat (AS).
Pada pembukaan perdagangan, IHSG naik 14,72 poin atau 0,26 persen ke level 5.709,84. Sementara itu, Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan turut menguat 2,57 poin atau 0,46 persen ke posisi 559,32.
Penguatan ini terjadi di tengah berbagai sentimen yang memengaruhi pergerakan pasar, mulai dari perkembangan inflasi global, kebijakan suku bunga The Fed, hingga kondisi ekonomi domestik yang ditandai oleh meningkatnya inflasi dan munculnya defisit neraca perdagangan.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa secara teknikal IHSG masih memiliki peluang untuk bergerak positif meski ruang penguatannya relatif terbatas.
“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance pada level 5.320 hingga 5.735. Potensi koreksi masih berpotensi terjadi, sehingga investor tetap perlu berhati-hati,” ujarnya dalam kajian yang diterima di Jakarta, Kamis (2/7).
Dari faktor global, perhatian pasar tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam forum perbankan European Central Bank (ECB). Warsh menyampaikan bahwa risiko inflasi dalam beberapa pekan mendatang mulai menurun dan target inflasi tetap berada di kisaran 2 persen.
Menurutnya, ekspektasi inflasi dalam 4 (empat) pekan terakhir juga menunjukkan tren penurunan. Kondisi tersebut dinilai sejalan dengan fokus utama The Fed dalam menjaga stabilitas harga.
Pernyataan tersebut memberi sinyal bahwa bank sentral AS belum memiliki urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga acuan. Akibatnya, imbal hasil obligasi AS tidak mengalami kenaikan signifikan dan justru cenderung menurun.
Nico membeberkan bahwa salah satu faktor yang membantu menekan inflasi adalah turunnya harga energi dan bahan bakar.
“Karena saat ini harga energi dan bensin terus mengalami penurunan, terutama setelah muncul kabar positif terkait kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran,” katanya.
Meski demikian, Warsh juga menegaskan bahwa The Fed tetap menjaga independensinya dalam menentukan arah kebijakan moneter. Pernyataan itu muncul di tengah dorongan Presiden AS Donald Trump yang menginginkan penurunan suku bunga lebih cepat.
Di sisi lain, pasar tetap mencermati proyeksi suku bunga yang menunjukkan sebagian pejabat The Fed masih membuka peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini apabila kondisi ekonomi memerlukannya.
Sementara dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Juni 2026 secara bulanan mencapai 0,44 persen. Secara tahun kalender, inflasi tercatat 1,79 persen, sedangkan secara tahunan mencapai 3,34 persen.
Kenaikan inflasi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain siklus musiman, kenaikan harga bahan baku, serta penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM).
Selain inflasi, pelaku pasar juga mencermati data neraca perdagangan Indonesia yang mencatat defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026. Ini menjadi defisit pertama dalam enam tahun terakhir setelah nilai impor mencapai 24,81 miliar dolar AS, melampaui ekspor yang sebesar 23,20 miliar dolar AS.
Menurut Nico, kondisi tersebut menunjukkan adanya tekanan yang mulai muncul pada sektor eksternal Indonesia.
“Tekanan terhadap sektor eksternal Indonesia mulai meningkat, terutama akibat perlambatan ekspor di tengah melemahnya permintaan global serta penurunan harga sejumlah komoditas unggulan,” ujarnya.
Meski demikian, kenaikan impor belum sepenuhnya dipandang negatif. Jika impor didominasi oleh bahan baku dan barang modal, maka kondisi tersebut justru mencerminkan masih kuatnya aktivitas produksi dan investasi di dalam negeri.
Ia menilai risiko terhadap fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terkendali karena secara kumulatif periode Januari hingga Mei 2026, neraca perdagangan masih membukukan surplus.
“Dampak terhadap fundamental ekonomi Indonesia diperkirakan masih terbatas karena secara kumulatif neraca perdagangan masih mencatat surplus,” kata Nico.
Di pasar global, pergerakan bursa saham utama menunjukkan tren yang beragam. Bursa Eropa ditutup variatif, dengan indeks Euro Stoxx 50 turun 0,70 persen, FTSE 100 Inggris melemah 0,18 persen, DAX Jerman menguat 0,18 persen, dan CAC 40 Prancis turun 0,79 persen.
Sementara itu, Wall Street juga bergerak campuran. Indeks Dow Jones Industrial Average turun tipis 0,03 persen, S&P 500 melemah 0,20 persen, dan Nasdaq Composite terkoreksi lebih dalam sebesar 1,54 persen.
Adapun bursa saham Asia pada perdagangan pagi ini juga menunjukkan pergerakan yang beragam. Indeks Nikkei Jepang menguat 1,55 persen ke level 19.733, sementara indeks Shanghai turun 0,83 persen. Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 1,15 persen, sedangkan Strait Times Singapura naik 0,49 persen.
Dengan berbagai sentimen yang berkembang, investor diperkirakan akan terus mencermati arah kebijakan suku bunga global, perkembangan inflasi, serta kondisi perdagangan Indonesia sebagai faktor utama yang menentukan arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK