EKBIS
IESR Petakan Peluang Pengembangan Energi Surya Terintegrasi
apakabar.co.id, JAKARTA - Institute for Essential Services Reform (IESR) merilis kajian peta jalan yang menyoroti peluang Indonesia untuk memiliki industri surya yang terintegrasi dengan pembenahan pada beberapa aspek utama untuk pengembangan industri PLTS dalam negeri.
Dalam laporan Peta Jalan Pengembangan Industri Rantai Pasok Fotovoltaik Surya Domestik di Indonesia menunjukkan Indonesia memiliki peluang besar membangun industri surya yang terintegrasi, seiring target pengembangan PLTS nasional mencapai 100 GW yang dapat menjadi penggerak pertumbuhan industri manufaktur dalam negeri.
“Kami menekankan bahwa pengembangan industri PLTS dalam negeri membutuhkan pembenahan di empat aspek utama, yaitu pasar, kapasitas industri, sumber daya manusia, serta riset dan pengembangan,” kata Chief Executive Officer IESR, Fabby Tumiwa dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (14/7).
Fabby menegaskan dari sisi pasar, pemerintah perlu memperbesar penyerapan produk PLTS lokal melalui pengadaan yang jelas, konsisten, dan bankable. Dari sisi industri, Indonesia perlu mempercepat pengembangan kapasitas produksi yang lebih terintegrasi, termasuk wafer dan polysilicon.
Sementara dari sisi sumber daya manusia, diperlukan tenaga kerja yang mampu menguasai teknologi PLTS generasi terbaru. Dan dari sisi riset, Indonesia perlu memperkuat pusat inovasi dan kerja sama antara pemerintah, industri, kampus, dan lembaga riset.
IESR juga menyoroti pentingnya konsistensi kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan percepatan perizinan. Ia mengatakan pemerintah perlu membuat aturan yang lebih stabil, transparan, dan mendukung peningkatan kapasitas industri secara bertahap, tanpa menghambat percepatan pembangunan PLTS.
“Aturan TKDN yang berubah-ubah dan proses insentif yang panjang dapat mengurangi kepastian bagi investor dan produsen,” katanya.
Melalui peta jalan tersebut, IESR memproyeksikan pengembangan industri PLTS dilakukan secara bertahap, mulai dari memperkuat kapasitas produksi modul dan sel surya, mempercepat perizinan, dan menyiapkan pembiayaan campuran untuk investasi manufaktur hingga 2030,
Dalam jangka menengah hingga 2040, Indonesia perlu mulai mengintegrasikan produksi wafer dan polysilicon, hingga pengembangan teknologi surya generasi baru, memperkuat riset nasional dan industri daur ulang modul surya menuju 2060.
Langkah ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, dan memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY