OTOTEKNO

Mobil Bensin atau Hybrid, Mana yang Lebih Cocok untuk Konsumen Indonesia?

Mitsubishi Xforce Hybrid diuji coba di Karawang, Jawa Barat. Foto: apakabar.co.id/FF
Mitsubishi Xforce Hybrid diuji coba di Karawang, Jawa Barat. Foto: apakabar.co.id/FF
apakabar.co.id, JAKARTA - Tren elektrifikasi kendaraan terus berkembang di Indonesia. Namun, di tengah semakin banyaknya mobil listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV), mobil bermesin pembakaran internal atau Internal Combustion Engine (ICE) dan hybrid atau Hybrid Electric Vehicle (HEV) masih menjadi pilihan utama masyarakat.

Kondisi tersebut tidak terlepas dari karakter geografis Indonesia yang luas serta kebutuhan mobilitas masyarakat yang beragam.

Bagi konsumen yang kerap melakukan perjalanan antarkota hingga menjangkau wilayah dengan infrastruktur pengisian daya terbatas, keberadaan mesin konvensional masih menawarkan kepraktisan.

Sementara bagi pengguna perkotaan yang menginginkan efisiensi bahan bakar lebih baik tanpa harus bergantung pada fasilitas pengisian eksternal, teknologi hybrid menjadi pilihan menarik.

Maka dari itu, ada alasan mengapa teknologi lama belum serta-merta ditinggalkan.

Kondisi geografis Indonesia yang luas, karakter perjalanan masyarakat yang beragam, serta belum meratanya infrastruktur pengisian daya membuat kebutuhan setiap konsumen terhadap kendaraan elektrifikasi tidak bisa disamakan.

Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai mobil ICE dan hybrid masih memiliki relevansi kuat dalam kondisi Indonesia saat ini.

Menurutnya, Mobil ICE dan hybrid masih sangat relevan karena infrastruktur SPKLU kita belum merata di luar kota-kota besar.

“Untuk penggunaan antarkota atau daerah dengan keterbatasan daya listrik, mesin konvensional dan hybrid memberikan rasa aman (peace of mind) bagi pengemudi tanpa perlu takut kehabisan daya di tengah jalan,” ujar Yannes dalam pernyataannya dikutip Senin (7/9).

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa transisi menuju elektrifikasi bukan sekadar persoalan teknologi.

Ada faktor lain yang ikut menentukan, mulai dari infrastruktur, pola perjalanan, kebiasaan pengemudi, hingga akses terhadap sumber energi.

Mobil Bensin Masih Punya Keunggulan


Bagi konsumen yang sering melakukan perjalanan jauh atau berpindah dari satu kota ke kota lain, ketersediaan SPBU masih menjadi salah satu pertimbangan utama.

Jaringan SPBU yang relatif luas membuat pengemudi dapat lebih mudah mengisi bahan bakar ketika melakukan perjalanan, termasuk saat menuju wilayah yang belum memiliki infrastruktur pengisian kendaraan listrik memadai.

Karakter tersebut menjadi keunggulan tersendiri bagi mobil ICE.

Pengguna tidak perlu mengubah kebiasaan berkendara maupun merencanakan perjalanan berdasarkan lokasi pengisian daya.

Cukup mencari SPBU ketika indikator bahan bakar mulai berkurang.

Selain itu, karakter mesin bensin juga sudah sangat familiar bagi sebagian besar konsumen Indonesia, termasuk dalam hal perawatan dan pemahaman mengenai operasional kendaraan.

Salah satu contoh mobil yang masih mengandalkan formula tersebut adalah Mitsubishi Xforce versi ICE.

SUV ini menggunakan mesin bensin 1.5 liter MIVEC yang dipadukan dengan transmisi CVT.

Kombinasi tersebut menawarkan karakter berkendara yang relatif familiar bagi pengguna mobil konvensional.

Menariknya, penggunaan mesin bensin tidak otomatis membuat sebuah mobil tertinggal dalam hal kenyamanan dan fitur.

Pada versi penyegarannya, Xforce ICE tetap dibekali sejumlah fitur modern seperti panoramic roof, Multi Around Monitor, serta pencahayaan kabin LED.

Artinya, konsumen yang belum membutuhkan teknologi hybrid tetap memiliki pilihan mobil dengan fitur dan kenyamanan yang cukup lengkap.

Hybrid Menawarkan Kompromi yang Menarik


Di sisi lain, hybrid hadir dengan pendekatan berbeda.

Teknologi ini mencoba mengambil keunggulan mesin bensin sekaligus memanfaatkan motor listrik untuk meningkatkan efisiensi.

Motor listrik dapat membantu kendaraan ketika membutuhkan tenaga pada kondisi tertentu, sementara mesin bensin tetap menjadi sumber energi utama ketika diperlukan.

Karakter tersebut membuat mobil hybrid menarik untuk konsumen yang banyak beraktivitas di wilayah perkotaan.

Kemacetan dengan pola stop-and-go yang membuat mobil berkali-kali melakukan akselerasi dan deselerasi menjadi salah satu kondisi yang dapat dimanfaatkan sistem hybrid untuk bekerja lebih efisien.

Pengemudi juga tidak perlu sepenuhnya mengubah kebiasaan seperti ketika berpindah dari mobil bensin ke mobil listrik murni.

Bahan bakar tetap diisi melalui SPBU, sementara sistem kendaraan mengatur penggunaan mesin dan motor listrik sesuai kondisi berkendara.

Seperti Mitsubishi New Xforce HEV, yang menjadi salah satu model yang menawarkan pendekatan sesuai kebutuhan konsumen Indonesia. 

Sistem hybridnya dapat mengatur sumber tenaga secara otomatis, baik menggunakan motor listrik, mesin bensin, maupun kombinasi keduanya.


Bagi konsumen, kepraktisan tersebut menjadi nilai penting karena tidak harus bergantung sepenuhnya pada ketersediaan charging station.

Mana yang Lebih Cocok?


Pertanyaan mengenai mobil bensin atau hybrid sebenarnya tidak memiliki satu jawaban yang berlaku untuk semua orang.

Konsumen yang setiap hari menggunakan mobil di perkotaan, sering menghadapi kemacetan dan menginginkan efisiensi bahan bakar lebih baik dapat melihat hybrid sebagai pilihan menarik.

Sementara bagi konsumen yang memiliki mobilitas tinggi antarkota, sering menuju daerah dengan infrastruktur pengisian daya terbatas, atau mengutamakan kemudahan pengisian bahan bakar, mobil ICE masih menawarkan kepraktisan yang sulit diabaikan.

Pertimbangan lain adalah biaya kepemilikan dan kebiasaan penggunaan kendaraan dalam jangka panjang.

Mobil bukan sekadar perangkat teknologi yang dibeli karena memiliki fitur paling baru.

Kendaraan pada akhirnya harus mampu mengikuti kebutuhan pemiliknya, mulai dari rute harian, jarak tempuh, kondisi jalan, sampai ketersediaan fasilitas pendukung di wilayah tempat tinggal.

Karena itu, memilih hybrid hanya karena dianggap lebih modern belum tentu menjadi keputusan terbaik.

Begitu pula dengan tetap memilih mobil bensin hanya karena sudah terbiasa, tanpa mempertimbangkan pola penggunaan kendaraan.

Di tengah proses elektrifikasi yang terus berjalan, konsumen justru memiliki lebih banyak pilihan.

Mobil ICE menawarkan kemudahan dan fleksibilitas yang sudah lama dikenal, sedangkan hybrid memberikan jembatan menuju elektrifikasi tanpa menghilangkan ketergantungan pada mesin bensin.

Pada akhirnya, teknologi terbaik bukan selalu yang paling baru, melainkan yang paling sesuai dengan kebutuhan pemiliknya.

Untuk pasar Indonesia yang memiliki kondisi geografis serta karakter konsumen sangat beragam, mobil bensin dan hybrid kemungkinan masih akan berjalan berdampingan dalam waktu yang tidak singkat.