EKBIS

BBM Nonsubsidi Naik, Celios: BBM Subsidi Perlu Diawasi!

Petugas di salah satu SPBU melayani pengisian bahan bakar minyak kendaraan konsumen. Foto: Humas Pertamina Patra Niaga
Petugas di salah satu SPBU melayani pengisian bahan bakar minyak kendaraan konsumen. Foto: Humas Pertamina Patra Niaga
apakabar.co.id, JAKARTA - Center of Economic and Law Studies (Celios) mengingatkan pemerintah perlu melaukan pengawasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi di tengah kenaikan harga BBM nonsubsidi.

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira mengungkapkan enaikan harga BBM nonsubsidi memang hal yang wajar mengingat harga pasar dan Indonesian Crude Price (ICP) juga naik.

“Cuma yang harus diperhatikan, misalnya, yang saya khawatir itu Pertamina Dex naiknya 60 persen, dan Pertamina Dex ini bukan cuma untuk kendaraan yang dibilang menengah ke atas, tapi juga mesin-mesin industri, alat-alat berat di sektor pertambangan, di sektor sawit itu juga banyak yang membeli Pertamina Dex,” katanya di Jakarta, Minggu (19/4).
Dengan kenaikan Pertamina Dex yang sangat signifikan dari Rp14.500 per liter ke Rp23.900 per liter, ia mengingatkan adanya potensi pergeseran konsumen untuk menggunakan solar subsidi yang tidak mengalami kenaikan harga. Hal ini dikhawatirkan akan berpengaruh pada pasokan solar subsidi.

“Jadi nanti akan berpengaruh pada pasokan solar juga. Ada kebocoran di situ, ya. Jadi pengawasan terhadap solar subsidi ini juga harus ketat, terutama di luar pulau Jawa, baik yang digunakan untuk logistik, maupun untuk alat-alat berat seperti tadi, ya, (contohnya) di (sektor industri) pertambangan, di perkebunan,” jelas Bhima.

“Nah ini harus ada pengetatan, jangan sampai terjadi kebocoran yang semakin masif karena pergeseran dan selisih harga yang terlalu jauh antara solar subsidi dan solar nonsubsidi,” ujarnya menambahkan.
Bhima menilai, hal ini juga bisa berpengaruh kepada konsumen Pertamax Turbo untuk beralih ke BBM jenis Pertamax yang juga tidak mengalami kenaikan harga.

Adapun harga Pertamax Turbo untuk wilayah DKI Jakarta per 18 April ini naik sebesar Rp19.400 per liter dari harga per 1 April 2026 sebesar Rp13.100 per liter.

“Kalau untuk Pertamax Turbo kenaikannya cukup tinggi, pasti akan berkurang konsumsinya. Tapi akan bergeser ke mana? Bergesernya ke Pertamax. Pertamax selisih harga keekonomiannya juga masih lebar,” ujarnya.
Ia menilai bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex oleh pemerintah bersifat temporer menyusul harga minyak yang cenderung turun karena menurunnya pula eskalasi perang Iran dan Amerika Serikat-Israel.

Oleh karena itu,Bhima menyarankan selain ada pengawasan yang lebih ketat, diperlukan juga insentif bagi pelaku usaha yang membeli BBM nonsubsidi.

“Kemudian juga mungkin harus diberikan semacam insentif (bagi industri) sebagai meringankan biaya produksi karena beban biaya produksinya bisa semakin naik kalau tetap beli BBM yang nonsubsidi seperti Pertamina Dex tadi, sehingga kenaikan beban biaya produksi tidak membuat terjadinya efisiensi atau PHK,” pungkasnya.