OPINI
Arti Kehadiran Indonesia di Media Vatikan
Oleh: Djoko Subinarto*
Vatican News -- portal berita Takhta Suci, yang terintegrasi dengan Radio Vatikan, L’Osservatore Romano, serta Vatican Media dalam format multimedia dan multisaluran -- kini bakal menyediakan konten dalam Bahasa Indonesia.
Kesepakatan penggunaan Bahasa Indonesia di Vatican News diteken pada Rabu (25/3/2026) oleh Ketua Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Agustinus Tri Budi Utomo dan Prefek Dikasteri Komunikasi Takhta Suci Dr Paolo Ruffini, serta disaksikan oleh Duta Besar Indonesia untuk Takhta Suci Michael Trias Kuncahyono.
Tentu saja, kehadiran Bahasa Indonesia di Vatican News ini bukan sekadar penambahan pilihan bahasa, melainkan sebagai bagian dari upaya memperluas jangkauan komunikasi gereja agar lebih dekat dengan umat di berbagai latar budaya.
Dalam kehidupan beragama, bahasa bukan cuma alat komunikasi. Ia adalah ruang perjumpaan, tempat manusia merasa “diakui”. Nah, ketika iman disampaikan dalam bahasa ibu, maka jarak antara langit dan bumi terasa sedikit lebih dekat.
Selama ini, banyak umat di Indonesia mengakses informasi dari Takhta Suci melalui Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Boleh jadi tidak semua merasa nyaman.
Ketika sebuah institusi global, seperti Vatican News, memilih berbicara dalam bahasa lokal, maka ia sedang membangun kedekatan, bukan dominasi. Ia tidak memaksa orang datang. Ia justru memilih mendekat. Dalam konteks ini, langkah Vatikan bisa dibaca sebagai strategi inklusi.
Indonesia,dengan lebih dari 280 juta penduduk, dan sekitar 12 juta umat Katolik, adalah komunitas yang tidak bisa diabaikan. Secara global, jumlah umat Katolik dunia sekitar 1,3 miliar. Indonesia mungkin bukan terbesar, namun signifikan.
Di sisi lain, Indonesia juga dikenal sebagai negara dengan keragaman budaya dan bahasa yang luar biasa. Lebih dari 700 bahasa daerah hidup di dalamnya. Bahasa Indonesia adalah titik temu dan juga semacam konsensus nasional.
Perhatian Manusia
Dalam teori ekonomi-politik global, dikenal konsep attention economy, bahwa yang paling berharga hari ini bukan hanya sumber daya alam, tapi perhatian manusia. Siapa yang mampu menarik perhatian, dia punya pengaruh.
Bahasa lokal adalah salah pintu masuk ke perhatian itu. Orang lebih mungkin membaca, menonton, atau mendengar sesuatu yang terasa dekat. Ini bukan karena kontennya berbeda, tapi karena bahasanya bersahabat.
Dalam hal ini, gereja Katolik tampaknya belajar dari dunia digital. Platform-platform besar, seperti media sosial, sudah lama paham bahwa lokalisasi adalah kunci. Globalisasi tanpa lokalisasi hanya akan menjadi gema kosong.
Meski demikian, ini bukan sekadar strategi media. Ada dimensi teologis pula yang halus di dalamnya. Dalam tradisi Katolik, inkulturasi, yakni proses iman yang berakar dalam budaya lokal, adalah prinsip penting.
Selama ini, bahasa adalah inti dari budaya. Ia bukan sekadar alat. Ia membawa cara berpikir, cara merasa, bahkan cara berdoa. Doa dalam bahasa ibu sering kali lebih jujur daripada doa dalam bahasa asing.
Karenanya, kehadiran bahasa Indonesia di Vatican News bisa dilihat sebagai bentuk inkulturasi digital. Dulu inkulturasi terjadi di mimbar, di gereja lokal. Kini ia juga terjadi di layar ponsel.
Kita, saat ini hidup di zaman, ketika otoritas tidak lagi tunggal. Informasi datang dari banyak arah. Bahkan, kadang simpang siur. Kadang saling bertentangan. Di tengah-tengah itu, media resmi, seperti Vatican News, menjadi rujukan penting.
Dengan bahasa Indonesia, rujukan itu, kini menjadi lebih mudah diakses. Artinya, tidak perlu lagi bergantung pada interpretasi pihak ketiga. Umat bisa membaca langsung.
Sudah barang tentu, hal ini penting dalam konteks politik informasi. Dalam teori komunikasi, siapa yang mengontrol narasi, ia memiliki pengaruh besar terhadap cara publik memahami realitas.
Bahasa, dalam hal ini, menentukan siapa yang bisa mengakses informasi, memahami pesan, dan terlibat dalam wacana keagamaan yang diproduksi oleh Vatican News.
Ketika Bahasa Indonesia digunakan, akses terhadap informasi tersebut menjadi lebih terbuka bagi umat Katolik Indonesia, bahkan publik yang lebih luas. Mereka tidak lagi sekadar menjadi penerima pasif dari informasi global, tetapi bisa memahami, menafsirkan, dan meresponsnya dalam kerangka bahasa dan pengalaman mereka sendiri.
Pengakuan Posisi Indonesia
Penggunaan Bahasa Indonesia di Vatican News juga bisa dibaca pula sebagai pengakuan terhadap posisi Indonesia dalam lanskap global, khususnya yang terkait dengan posisi Indonesia sebagai komunitas budaya.
Selama ini, arus informasi global cenderung bergerak dari pusat-pusat bahasa dominan ke pinggiran. Kehadiran Bahasa Indonesia di Vatican News memang tidak serta-merta membalik struktur itu, tetapi ia menggesernya, meski perlahan. Ada ruang yang mulai terbuka bagi pengalaman umat di Indonesia untuk tidak hanya menjadi objek pemberitaan, tetapi juga subjek yang berbicara dengan suaranya sendiri.
Di sisi lain, peran Konferensi Waligereja Indonesia dalam ikut mendorong penggunaan bahasa Indonesia di Vatican News juga layak diapresiasi. Ini jelas bukan semata kerja administratif atau teknis penerjemahan. Ia mencerminkan suatu bentuk diplomasi kultural yang berdampak dalam jangka panjang.
Dalam studi hubungan internasional, praktik semacam itu sering dipahami sebagai bagian dari soft power, yakni kemampuan mempengaruhi bukan lewat tekanan, melainkan melalui kedekatan makna, bahasa, dan simbol.
Diplomasi, dalam pengertian klasik, memang identik dengan perjanjian formal, negosiasi tingkat tinggi, atau tarik-menarik kepentingan antarnegara. Dalam perkembangan kontemporer, terutama di era digital, spektrumnya menjadi jauh lebih luas.
Bahasa menjadi medium yang strategis, karena ia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga pembawa cara pandang, nilai, dan pengalaman historis suatu masyarakat. Ketika Bahasa Indonesia hadir di Vatican News, yang bergerak bukan hanya informasi, tetapi juga horizon kultural yang menyertainya.
*) Kolumnis, alumnus Departemen Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY