EKBIS

Selat Hormuz Dibuka, Ekonom: Belum Tentu Harga BBM Turun

Iran akan menutup Selat Hormuz bagi pelayaran sebagai respons atas pelanggaran memorandum perdamaian oleh Amerika Serikat. Foto: Istimewa
Iran akan menutup Selat Hormuz bagi pelayaran sebagai respons atas pelanggaran memorandum perdamaian oleh Amerika Serikat. Foto: Istimewa
apakabar.co.id, JAKARTA - Ketegangan di Timur Tengah menunjukan tengah terjadi penurunan tensi konflik regional. Meski begitu, situasi tersebut tak serta merta membuat harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia turun.

Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dyah Titis Kusuma Wardani mengatakan meski normalisasi jalur pelayaran strategis tersebut memberikan sentimen positif bagi pasar energi global, mekanisme pembentukan harga BBM domestik dipengaruhi oleh banyak variabel kompleks yang saling berkaitan.

"Pembukaan kembali Selat Hormuz memang menurunkan risk premium geopolitik di pasar minyak dunia. Namun, harga tidak otomatis turun drastis karena pasar masih mempertimbangkan faktor lain, seperti kebijakan produksi OPEC+, permintaan global, hingga kondisi stok minyak," katanya, Selasa (30/6).

Menurut dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMY tersebut, masyarakat kerap keliru menganggap normalisasi distribusi minyak mentah di Selat Hormuz akan langsung diikuti penurunan harga BBM di tingkat konsumen.

Ia menegaskan harga BBM domestik tidak hanya ditentukan oleh satu peristiwa atau tren di satu kawasan. Pemerintah dalam menentukan harga BBM turut mempertimbangkan rata-rata Indonesian Crude Price (ICP), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, biaya pengadaan, hingga kontrak perdagangan yang telah berjalan.

"Untuk BBM non-subsidi, perubahan harga relatif lebih cepat mengikuti mekanisme keekonomian. Namun, untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, pemerintah tetap melakukan intervensi guna menahan dampak fluktuasi agar beban fiskal negara tetap terjaga," katanya.

Dyah menyoroti faktor nilai tukar rupiah sebagai salah satu penentu krusial. Mengingat transaksi minyak dunia menggunakan dolar AS, depresiasi rupiah dapat meniadakan manfaat penurunan harga minyak mentah internasional.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa dampak perubahan harga minyak global terhadap perekonomian nasional membutuhkan jeda waktu. Penyesuaian harga di tingkat industri dan logistik biasanya baru akan terlihat setelah satu hingga tiga bulan, bergantung pada stok dan kontrak yang ada.

Oleh karena itu, Dyah mengimbau masyarakat untuk tetap rasional dalam menanggapi dinamika pasar energi global dan tidak mudah terpancing isu jangka pendek.

Stabilitas harga energi, lanjut dia, tetap menjadi prasyarat utama dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan iklim usaha tetap kondusif di tengah ketidakpastian ekonomi global.

"Bagi pelaku usaha, terutama di sektor logistik, langkah mitigasi risiko melalui efisiensi operasional dan evaluasi kontrak bisnis jauh lebih penting daripada hanya berfokus pada fluktuasi harga energi harian," pungkasnya.