LINGKUNGAN HIDUP
Ketika Laut Kalimantan Ikut Menghidupi Dunia
Dari Delta Mahakam hingga pesisir Berau, kekayaan laut Kalimantan Timur terus mengalir ke berbagai negara. Namun di balik lonjakan ekspor ikan, udang, dan kepiting, terdapat upaya menjaga keseimbangan alam melalui budidaya berkelanjutan, perlindungan bakau, dan pengelolaan perairan yang semakin ramah lingkungan.
apakabar.co.id, BALIKPAPAN - Di sepanjang 1.526 kilometer garis pantai Kalimantan Timur, terbentang ekosistem pesisir yang menjadi salah satu penopang kehidupan masyarakat sekaligus sumber pangan dunia.
Dari Delta Mahakam di Kutai Kartanegara hingga pesisir Berau di utara, kawasan ini menghasilkan ikan, udang, dan kepiting yang kini tidak hanya memenuhi pasar domestik, tetapi juga menembus berbagai negara di Asia, Timur Tengah, Amerika Serikat, hingga Eropa.
Perjalanan komoditas laut Kaltim menuju pasar internasional memasuki babak baru sejak pertengahan Mei 2026. Melalui Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, penerbangan kargo langsung menuju Wenzhou, China, mulai beroperasi secara rutin dua kali dalam sepekan.
Setiap penerbangan mengangkut antara 7 hingga 12 ton hasil perikanan bernilai tinggi. Dalam sebulan, volume pengiriman melalui jalur udara tersebut telah mencapai sekitar 56 ton, membuka akses yang lebih cepat bagi produk laut Kaltim menuju konsumen internasional.
Namun di balik peningkatan ekspor tersebut, terdapat satu hal yang menjadi perhatian utama, yakni menjaga agar pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan keberlanjutan lingkungan pesisir.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Penguatan Daya Saing Produk Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltim, Irma Listiawati, mengatakan keberhasilan produk perikanan Kaltim memasuki pasar global tidak hanya ditentukan oleh kualitas hasil panen, tetapi juga oleh standar pengelolaan yang semakin baik dan ramah lingkungan.
https://apakabar.co.id/lingkungan-hidup/krisis-iklim-di-depan-mata-ekonomi-kelompok-rentan-tertekan/
“Langkah ini menghilangkan risiko kerusakan, menjaga kesegaran, dan membuat produk Kaltim makin dipercaya pasar internasional yang memiliki standar ketat,” ujarnya.
Ekosistem yang Menjadi Penyangga
Kekayaan perikanan Kaltim bertumpu pada beragam ekosistem alami yang saling terhubung.
Perairan Kutai Timur, mulai dari Sangatta, Bengalon hingga Teluk Pandan, menjadi salah satu sentra utama ikan laut seperti kerapu, kakap merah, bawal putih, dan baronang. Perairan tersebut dikenal kaya plankton serta relatif jauh dari sumber pencemaran sehingga mendukung pertumbuhan ikan yang sehat.
Sementara itu, Delta Mahakam menjadi kawasan yang sangat penting bagi keberlangsungan berbagai spesies perikanan. Pertemuan air tawar dari hulu dan air laut menciptakan ekosistem payau yang ideal bagi pertumbuhan ikan, udang, dan kepiting.
Kawasan ini juga menjadi rumah bagi hamparan hutan bakau yang berfungsi sebagai tempat pemijahan dan pembesaran berbagai biota laut sekaligus pelindung alami pesisir dari abrasi.
Selain Delta Mahakam, kawasan bakau yang tersebar di sepanjang pesisir Berau, Kutai Timur, Bontang, hingga Penajam Paser Utara turut menopang produksi kepiting bakau yang menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan Kaltim.
Budidaya yang Semakin Ramah Lingkungan
Perubahan besar juga terjadi pada pola budidaya yang dijalankan masyarakat pesisir.
Jika sebelumnya banyak usaha perikanan mengandalkan pendekatan konvensional, kini semakin banyak pembudidaya yang menerapkan standar keamanan pangan dan prinsip keberlanjutan.
Pada budidaya ikan laut, penggunaan keramba jaring apung menjadi metode yang paling umum diterapkan. Sistem ini memanfaatkan sirkulasi air alami sehingga kualitas lingkungan tetap terjaga dan ikan dapat tumbuh secara optimal.
Sementara untuk kepiting bakau, banyak petambak mulai mengembangkan sistem silvofishery atau wanamina. Dalam sistem ini, sebagian besar kawasan bakau tetap dipertahankan dan hanya sebagian kecil lahan yang dimanfaatkan sebagai area budidaya.
Pola tersebut memungkinkan kepiting tumbuh di habitat alaminya sekaligus menjaga fungsi ekologis hutan mangrove sebagai penyerap karbon, penahan abrasi, dan habitat berbagai satwa pesisir.
Di sektor budidaya udang, pendekatan semi intensif semakin banyak digunakan. Sistem ini mengutamakan pengelolaan kualitas air secara alami, penggunaan probiotik, serta mengurangi ketergantungan pada bahan kimia.
Bahkan sejumlah pembudidaya mulai menerapkan sistem terpadu yang menggabungkan budidaya udang, ikan, kepiting, dan rumput laut dalam satu kawasan untuk menciptakan keseimbangan ekologis sekaligus meningkatkan produktivitas lahan.
Menembus Pasar Dunia
Upaya menjaga kualitas lingkungan tersebut berbanding lurus dengan peningkatan daya saing produk perikanan Kaltim.
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, volume ekspor hasil perikanan Kaltim tercatat mencapai 1.262 ton dengan nilai ekonomi sekitar Rp230 miliar.
Udang menjadi penyumbang terbesar dengan total pengiriman mencapai lebih dari 1.000 ton. Udang windu mendominasi dengan nilai ekspor mencapai Rp173,3 miliar, disusul udang pink senilai Rp31,6 miliar.
Sementara itu, komoditas ikan segar dan hidup mencatat volume pengiriman 176,7 ton dengan nilai sekitar Rp14,1 miliar. Kerapu menjadi komoditas unggulan, diikuti bawal putih, kakap, dan baronang.
Produk-produk tersebut kini dipasarkan ke China, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, hingga sejumlah negara Eropa.
Masa Depan Ekonomi Hijau Pesisir
Bagi Kalimantan Timur yang selama puluhan tahun identik dengan batu bara dan perkebunan kelapa sawit, pertumbuhan sektor perikanan menunjukkan arah baru pembangunan ekonomi yang lebih beragam.
Di tengah meningkatnya permintaan pasar internasional, tantangan terbesar ke depan bukan hanya meningkatkan produksi, melainkan memastikan ekosistem pesisir tetap sehat dan produktif.
Hutan bakau yang terjaga, kualitas perairan yang baik, serta praktik budidaya yang berkelanjutan menjadi modal utama agar kekayaan laut Kaltim terus memberi manfaat bagi masyarakat tanpa kehilangan daya dukung lingkungannya.
Dari Delta Mahakam hingga pesisir Berau, laut Kaltim tidak hanya menghidupi ribuan nelayan dan pembudidaya. Ia juga menjadi bukti bahwa pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan, membawa hasil laut dari pesisir timur Kalimantan menuju meja makan dunia tanpa meninggalkan jejak kerusakan bagi generasi mendatang. (ant)
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR