EKBIS
Kemnaker Tekankan Lima Aspek Penting Pembangunan Ekosistem Vokasi
apakabar.co.id, JAKARTA - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menegaskan terdapat lima aspek penting dalam membangun ekosistem pendidikan vokasi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Sekretaris Jenderal Kemnaker Cris Kuntadi mengatakan kelima aspek tersebut meliputi kompetensi dan karakter, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, infrastruktur pembelajaran, tata kelola institusi, serta manfaat lulusan bagi dunia kerja dan masyarakat.
“Kita tidak cukup hanya mencetak lulusan yang terampil. Kita harus membentuk manusia yang memiliki integritas, disiplin, kompetensi, serta etos kerja yang kuat,” ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (19/8).
Lebih lanjut, Cris menilai peserta didik di institusi pendidikan vokasi juga perlu memiliki keterampilan sesuai bidangnya, sekaligus dibekali integritas, tanggung jawab, kedisiplinan, dan etika kerja.
Namun, ia pun mengingatkan bahwa dasar tersebut perlu diperkuat dengan kesiapan untuk menghadapi perubahan yang terjadi di dunia kerja, terutama dengan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
“Teknologi terus berubah. Oleh karena itu, lulusan vokasi harus memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat,” kata Cris.
Ia mengatakan, kemampuan untuk terus belajar juga membutuhkan lingkungan pendidikan yang memadai.
Oleh karena itu, infrastruktur pembelajaran menjadi bagian penting. Cris menilai fasilitas fisik maupun digital diperlukan untuk mendukung proses belajar sekaligus memperluas akses terhadap pendidikan vokasi berkualitas.
“Selain fasilitas, lembaga pendidikan perlu dikelola dengan baik. Tata kelola institusi memastikan sumber daya pendidikan digunakan secara efektif dan bertanggung jawab, dengan mengedepankan transparansi dan akuntabilitas,” ujar Cris.
Pada akhirnya, lanjutnya, pendidikan vokasi harus memberikan hasil yang dirasakan setelah lulusan memasuki dunia kerja. Sehingga, manfaat lulusan bagi dunia kerja dan masyarakat menjadi bagian penting dari keberhasilan pendidikan vokasi.
“Ukuran keberhasilan pendidikan vokasi pada akhirnya bukan hanya berapa banyak lulusan, tetapi seberapa besar manfaat yang mereka berikan,” pungkasnya.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY