OPINI

Nyawa Tak Boleh Menunggu

Warga binaan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) melongok dari dalam kamar di Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Bina Tauhid Darul Miftahudin, Desa Hambaro, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin, (13/9/2021).  Foto via Katadata.co.id
Warga binaan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) melongok dari dalam kamar di Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Bina Tauhid Darul Miftahudin, Desa Hambaro, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin, (13/9/2021). Foto via Katadata.co.id
Oleh: Duto Anurogo*

Masalah kesehatan jiwa tidak selalu datang dengan tanda dramatis. Sering kali perubahan bermula perlahan; seseorang mulai kehilangan minat pada hal yang dulu disukai, menarik diri, sulit tidur, merasa tidak berharga, atau menjalani hari sambil menyimpan beban yang tidak terlihat.

Karena itu, pencegahan bunuh diri tidak boleh menunggu seseorang mencapai titik krisis. Ia harus bekerja jauh sebelumnya, yaitu ketika perubahan masih dapat dikenali, pertolongan masih dapat dijangkau, dan intervensi masih memiliki ruang untuk mengubah arah.

Setiap 10 September, dunia memperingati World Suicide Prevention Day atau Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia. Peringatan ini diprakarsai pada 2003 oleh International Association for Suicide Prevention bersama Organisasi Kesehatan Dunia. Tahun 2026 menjadi tahun ketiga sekaligus penutup tema tiga tahunan 2024–2026, "Changing the Narrative on Suicide", dengan ajakan "Start the Conversation".

Pesannya bukan sekadar mengajak orang berbicara. Mengubah narasi berarti mengubah cara masyarakat, layanan kesehatan, sekolah, media, tempat kerja, keluarga, dan pemerintah merespons penderitaan psikologis. Orang yang sedang terpuruk tidak membutuhkan label. Mereka membutuhkan jalan menuju pertolongan.

Bukan Sekadar Masalah Pribadi

WHO memperkirakan sekitar 727 ribu orang meninggal akibat bunuh diri pada 2021. Pada tahun yang sama, bunuh diri menjadi penyebab kematian ketiga pada kelompok usia 15–29 tahun, sementara sekitar 73 persen kematian terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah.

Angka itu membongkar anggapan bahwa bunuh diri hanyalah persoalan individu yang “tidak mampu menghadapi hidup”.

Dalam kesehatan masyarakat, risiko bunuh diri terbentuk dari interaksi banyak faktor, bukan dari satu penyebab tunggal. Kondisi kesehatan jiwa, trauma, kekerasan, kehilangan, konflik relasi, penggunaan zat, penyakit atau nyeri kronis, kesepian, diskriminasi, tekanan ekonomi, lingkungan sosial, serta akses terhadap layanan dapat saling mempengaruhi.

Karena faktor-faktornya berlapis, pencegahannya tidak dapat hanya mengandalkan satu pintu. Psikiater dan psikolog jelas penting, tetapi pencegahan juga berlangsung di puskesmas, ruang kelas, tempat kerja, komunitas, keluarga, platform digital, dan bahkan dalam cara media memberitakan kasus bunuh diri.

Dalam kebijakan publik, keberhasilan pencegahan tidak cukup diukur dari banyaknya seminar atau kampanye, melainkan dari seberapa cepat orang yang membutuhkan pertolongan dapat dikenali, dijangkau, dirujuk, dan ditindaklanjuti. Pencegahan terbaik bekerja sebelum keadaan berubah menjadi kegawatdaruratan.

Deteksi Dini Menjadi Kebiasaan Baru

Perkembangan di Indonesia pada 2026 menunjukkan arah yang patut diperkuat. Kementerian Kesehatan kembali menekankan pentingnya mengenali gangguan jiwa sedini mungkin. Skrining kesehatan jiwa dapat dilakukan melalui program Cek Kesehatan Gratis, dan masyarakat juga dapat menggunakan fitur skrining mandiri di SATUSEHAT menggunakan Self-Reporting Questionnaire (SRQ-20).

Namun skrining bukan diagnosis. Hasilnya bukan stempel, melainkan sinyal awal. Nilainya adalah membantu seseorang menyadari bahwa perubahan suasana hati, kecemasan, gangguan tidur, kelelahan psikologis, atau penurunan fungsi mungkin perlu dibicarakan lebih lanjut dengan tenaga kesehatan.

Kita terbiasa mengukur tekanan darah untuk menemukan hipertensi sebelum komplikasi terjadi, memeriksa gula darah untuk mendeteksi diabetes lebih dini, dan melakukan skrining kanker sebelum penyakit berkembang lanjut. Kesehatan jiwa layak mendapat logika pencegahan yang sama.

Bertanya dengan Tepat

Di sinilah start the conversation menjadi relevan. Percakapan tidak menyelesaikan semua masalah, tetapi percakapan yang tepat dapat membuka pintu pertolongan.

Ketika kita melihat perubahan perilaku yang mengkhawatirkan, kita dapat bertanya dengan tenang, "Belakangan ini kamu terlihat sangat tertekan. Apakah kamu pernah merasa hidup tidak layak dijalani atau berpikir untuk mengakhiri hidup?"

Mitos bahwa menanyakan bunuh diri akan menanamkan ide tersebut tidak didukung bukti. Justru pembicaraan yang empatik dapat memberi ruang bagi seseorang untuk mengungkapkan kondisi yang selama ini disembunyikan.

Yang diperlukan setelah bertanya bukan pidato motivasi. Dengarkan. Jangan membandingkan penderitaan. Hindari kalimat seperti “masih banyak yang lebih susah” atau “jangan terlalu dipikirkan”. Ketika seseorang sedang mengalami krisis, tujuan pertama bukan memenangkan perdebatan, tetapi menjaga keterhubungan dan membantu mencari pertolongan.

Jika seseorang menyatakan niat untuk mengakhiri hidup atau keselamatannya terancam, jangan tinggalkan ia sendirian. Segera hubungkan dengan fasilitas kesehatan atau layanan kedaruratan.

Dari Layar ke Layanan Nyata

Digitalisasi dapat memperpendek jarak menuju pertolongan, tetapi tidak boleh memutus kesinambungan perawatan. Indonesia memiliki Healing119.id, layanan dukungan psikologis awal yang dapat diakses melalui 119 ekstensi 8 maupun kanal digital Healing119.id. Layanan ini dapat menjadi salah satu pintu masuk ketika seseorang mengalami tekanan psikologis, keputusasaan, pikiran bunuh diri, atau krisis psikologis.

Namun teknologi bukan tujuan akhir. Telepon, chat, skrining digital, dan aplikasi baru bernilai ketika menjadi jembatan menuju asesmen, perawatan, rujukan, dan tindak lanjut yang nyata.

Dalam sebagian kasus, seseorang mungkin memerlukan asesmen profesional, terapi psikologis, pengobatan, dukungan keluarga, penanganan masalah sosial, atau tindak lanjut berkala. Karena itu, kualitas pencegahan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat orang dapat menghubungi layanan, tetapi juga apakah dukungan tetap tersedia setelah kontak pertama.

Gerakan global juga berkembang pada 2026. IASP memperkenalkan Move for Life, evolusi dari kampanye Cycle Around the Globe yang telah berjalan lebih dari satu dekade. Gagasannya lebih inklusif: masyarakat dapat berpartisipasi melalui berbagai bentuk aktivitas fisik sesuai usia, kemampuan, dan pilihan aktivitas.

Move for Life tentu bukan pengganti terapi atau penanganan klinis. Nilainya terletak pada sesuatu yang berbeda: aktivitas fisik menjadi sarana membangun keterhubungan sosial, meningkatkan kesadaran, dan membuka percakapan mengenai kesehatan jiwa.

Pencegahan memang tidak selalu dimulai di ruang klinik. Kadang ia bermula ketika seseorang merasa kembali menjadi bagian dari kelompok, memiliki alasan untuk hadir, dan menemukan lingkungan yang cukup aman untuk mengatakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

Poster Tidak Cukup

Peringatan 10 September sering menghasilkan poster, seminar, dan unggahan media sosial. Semua itu berguna untuk meningkatkan kesadaran, tetapi sistemlah yang menentukan apakah perhatian berubah menjadi pertolongan.

Sekolah dan kampus memerlukan mekanisme rujukan yang jelas ketika peserta didik menunjukkan tanda krisis. Tempat kerja perlu membangun lingkungan di mana mencari bantuan tidak dianggap risiko terhadap karier.

Tenaga kesehatan primer perlu memiliki kompetensi untuk mengenali risiko dan melakukan rujukan yang tepat. Media perlu menghindari sensasionalisme, detail metode, serta narasi sebab tunggal seperti “bunuh diri karena putus cinta” atau “karena nilai buruk”.

Kesadaran tanpa jalur rujukan mudah berhenti sebagai slogan; kepedulian tanpa akses layanan mudah berakhir sebagai niat baik. Yang diperlukan bukan hanya kampanye, melainkan infrastruktur sosial yang membuat meminta pertolongan terasa normal, aman, dan mudah dilakukan.

Mencegah Berarti Memberi Waktu

Pencegahan bunuh diri pada akhirnya adalah upaya memberi waktu untuk didengar, memperoleh perawatan, melewati krisis, mendapatkan dukungan, memulihkan relasi, dan kembali melihat pilihan yang sempat terasa hilang.

Tahun terakhir tema Changing the Narrative on Suicide seharusnya menjadi titik evaluasi: Apakah kita hanya mengubah slogan, atau sudah mengubah cara masyarakat mencari bantuan, cara layanan menerima mereka, dan cara institusi melindungi mereka?

Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia mengingatkan bahwa satu nyawa tidak boleh menunggu sistem menjadi sempurna. Pencegahan harus bekerja sekarang, melalui deteksi dini, percakapan yang tepat, akses yang mudah, rujukan yang jelas, dan tindak lanjut yang manusiawi.

Dalam pencegahan bunuh diri, waktu dapat berarti satu hal yang tak tergantikan, yaitu menjadi kesempatan kedua.

*) Duta Perdamaian WWPO untuk Indonesia, dokter riset, dosen UNTS, peneliti IMI, penulis puluhan buku, kolumnis