NEWS

"Godzilla" Mengintai, Kalimantan Zona Rawan

Fokus penanganan karhutla mencakup wilayah Kalimantan yang memiliki lahan gambut luas dan rentan terbakar saat kemarau panjang.
Ilustrasi- Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggunakan pesawat radio saat memadamkan kebakaran lahan. Foto: ANTARA
Ilustrasi- Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggunakan pesawat radio saat memadamkan kebakaran lahan. Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA - Pemerintah memfokuskan langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi yang dinilai rentan terdampak kekeringan panjang akibat fenomena El Nino.

Enam provinsi tersebut meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan yang memiliki karakteristik lahan gambut luas dan mudah terbakar saat musim kemarau.

Menteri Hanif Faisol Nurofiq menegaskan meskipun El Nino tahun ini berkategori rendah hingga moderat, dampaknya berpotensi signifikan karena terjadi pada periode musim kemarau.

“BMKG memperkirakan curah hujan kurang dari 100 milimeter per bulan atau rata-rata di bawah 5 milimeter per hari. Kondisi ini meningkatkan potensi hari tanpa hujan sekaligus menghambat upaya modifikasi cuaca,” ujarnya, Rabu (22/4).
Ia menekankan pentingnya pengawasan tinggi muka air tanah di kawasan gambut sebagai indikator utama risiko kebakaran. Secara umum, kondisi gambut dinilai aman jika muka air berada di atas 40 sentimeter dari permukaan tanah.

Namun, di sejumlah wilayah, penurunan muka air tanah dilaporkan mencapai 80 hingga 150 sentimeter, yang menunjukkan meningkatnya potensi kebakaran. “Penurunan di bawah 80 sentimeter menjadi indikator meningkatnya risiko kebakaran. Karena itu, perlu pemetaan detail serta pemasangan alat pemantau secara optimal,” katanya.

Selain itu, pemerintah juga mendorong perusahaan pemegang konsesi di sektor perkebunan dan kehutanan untuk memperketat pengawasan di wilayah operasional masing-masing, terutama pada area gambut.

Langkah lain yang disiapkan meliputi reaktivasi kelompok masyarakat peduli api di daerah rawan, serta penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga dalam penanganan karhutla. Hanif berharap langkah antisipatif ini mampu menekan risiko kebakaran hutan dan lahan yang berpotensi meningkat selama musim kemarau tahun ini.