NEWS
Super Flu Terdeteksi di Kalsel hingga Jatim, Sulsel Mulai Waspada
apakabar.co.id, JAKARTA - Penyebaran Influenza A subtipe H3N2 subclade K yang dikenal sebagai “Super Flu” mulai menjadi perhatian di sejumlah daerah. Di kawasan Kalimantan, kasus telah tercatat di Kalimantan Selatan, sementara Sulawesi Selatan hingga kini belum menerima laporan suspek penyakit tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Sulsel Evy Mustikawati Arifin mengatakan pihaknya akan terlebih dahulu mengecek data terkait dugaan kasus yang disebut masuk ke wilayah Sulsel.
“Nanti saya cek dulu datanya (suspek),” kata Evy di sela menghadiri kegiatan Tasbih JKN yang diselenggarakan BPJS Kesehatan di Makassar, Rabu (23/9).
Evy menuturkan sejauh ini belum ada laporan terkait suspek Super Flu yang masuk, baik dari Dinas Kesehatan Provinsi maupun Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di Sulsel.
Meski demikian, Dinkes Sulsel telah menyiapkan langkah antisipasi. Laporan nantinya akan ditindaklanjuti apabila ditemukan melalui fasilitas pelayanan kesehatan maupun aduan masyarakat.
“Nanti pasti ada laporan-laporan dari layanan fasilitas pelayanan kesehatan, atau aduan masyarakat kepada fasilitas kesehatan masyarakat. Tentu (jika ada laporan) kita menindaklanjuti,” ujarnya.
Tim kesehatan juga telah disiagakan untuk memantau perkembangan yang ditemukan di lapangan.
“Adapun apa yang kita lakukan nanti, tentunya penanganan. Kita lihat dari data yang masuk,” kata Evy.
Terdeteksi di 13 Provinsi
Influenza A subtipe H3N2 subclade K sebelumnya pertama kali teridentifikasi di Amerika Serikat. Virus yang kemudian dikenal sebagai Super Flu itu dilaporkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada Agustus 2025 dan selanjutnya dikabarkan menyebar ke sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Kementerian Kesehatan RI mencatat hingga akhir Desember 2025 terdapat 62 kasus Super Flu yang tersebar di delapan provinsi. Kasus terbanyak saat itu tercatat di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Kondisi tersebut disebut masih terkendali.
Sementara itu, data yang dikumpulkan Kemenkes dari 13 Balai Besar atau Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat (B/BLKM), sembilan rumah sakit, serta Laboratorium Biologi Kesehatan pada Minggu Epidemiologi ke-37 masih bersifat sementara dan dapat berubah.
Pada data Minggu Epidemiologi ke-36, dari 185 spesimen yang diperiksa, sebanyak 86 spesimen dinyatakan positif influenza.
Dari jumlah tersebut, 76 spesimen merupakan influenza A (H1N1pdm09), delapan influenza A (H3N2), dan dua influenza B (Victoria).
Untuk influenza A (H3N2) subclade K yang dikenal sebagai Super Flu, deteksinya telah dilaporkan di 13 provinsi.
Data kumulatif pada Januari 2026 mencatat kasus terbanyak berada di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan, masing-masing 18 kasus. Berikutnya Jawa Barat 12 kasus, DKI Jakarta 11 kasus, Sumatera Selatan lima kasus, Sumatera Utara tiga kasus, serta Bali dan Nusa Tenggara Timur masing-masing dua kasus.
Penularan Super Flu tersebut mulai terdeteksi sejak Januari hingga September 2026.
Gejala Datang Mendadak
Kasus Super Flu disebut didominasi anak-anak. Salah satu ciri yang disebut menonjol adalah gejala yang muncul secara mendadak.
Seseorang yang pada pagi hari masih merasa sehat, misalnya, dapat mengalami demam tinggi dan badan lemas pada sore atau malam hari.
Gejala lainnya dapat berupa nyeri otot pada punggung, paha, dan lengan, kelelahan ekstrem, sakit kepala intens, serta gangguan pernapasan.
Keluhan tersebut dapat disertai batuk, sakit tenggorokan, hingga hidung berair atau tersumbat.
Gejala biasanya muncul satu hingga empat hari setelah seseorang terinfeksi. (ant)
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR