LIFESTYLE
Rumah Cepat Penuh dan Berantakan? Ternyata Bukan Soal Banyak Barang, tapi Cara Menyimpannya
Banyak orang merasa rumah mereka semakin sempit dan berantakan seiring bertambahnya barang. Lemari penuh, sudut rumah dipenuhi tumpukan barang, hingga meja yang cepat sesak menjadi masalah umum di banyak hunian.
apakabar.co.id, JAKARTA - Banyak orang merasa rumah mereka semakin sempit dan berantakan seiring bertambahnya barang. Lemari penuh, sudut rumah dipenuhi tumpukan barang, hingga meja yang cepat sesak menjadi masalah umum di banyak hunian.
Uniknya, kondisi demikian ternyata tidak selalu disebabkan oleh ukuran rumah atau jumlah barang yang terlalu banyak. Karena itu pengamat desain interior mengingatkan bahwa masalah utama sering kali muncul karena cara menyimpan barang yang tidak terencana dengan baik.
Banyak orang memilih solusi instan untuk mengatasi rumah berantakan, seperti membeli kotak tambahan atau rak baru, tanpa benar-benar memahami kebutuhan ruang yang sebenarnya.
Menurut Home Furnishing & Competence Development Leader IKEA Indonesia, Ruth Pricilla Pandjaitan, pola seperti ini sering ditemukan dalam pengamatan terhadap rumah-rumah masyarakat.
“Ada banyak rumah yang sebenarnya tidak kecil dan masih memiliki ruang cukup, tetapi terasa penuh karena cara menyimpannya tidak konsisten atau tidak punya sistem yang baik,” ujar Ruth dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (13/5).
Banyak orang cenderung menambah solusi setiap kali merasa terdesak, bukan berhenti sejenak untuk melihat apa yang sebenarnya dibutuhkan. Itu sebabnya, barang di rumah sering kali tidak benar-benar memiliki tempat tetap.
"Akibatnya, barang hanya berpindah dari satu sudut ke sudut lain tanpa membuat rumah terasa lebih lega," terangnya.
Kondisi tersebut juga diperparah oleh kebiasaan menyimpan semua barang dalam satu area. Barang yang sering dipakai bercampur dengan koleksi lama, perlengkapan cadangan, hingga barang yang sebenarnya sudah jarang digunakan.
Dalam jangka panjang, kebiasaan itu membuat ruang terlihat sesak meski secara visual tampak rapi. Salah satu langkah awal yang disarankan adalah memilah barang berdasarkan frekuensi penggunaan.
"Barang yang rutin dipakai sebaiknya ditempatkan di area yang mudah dijangkau, sementara barang yang jarang digunakan dapat disimpan secara terpisah," paparnya.
Cara sederhana seperti menggunakan pengatur laci atau organiser lemari dinilai dapat membantu menjaga barang tetap tertata. Dengan susunan yang jelas, penghuni rumah akan lebih mudah mengambil dan mengembalikan barang ke tempat semula sehingga mengurangi penumpukan.
"Misalnya, untuk pakaian bisa menggunakan seri STUK dan seri SKUBB, agar pakaian tetap rapih dan mudah diambil," katanya.
Adapun untuk aksesori (perlengkapan kecil) bisa menggunakan seri NOJIG, kotak PLOGSVÄNG, atau seri KACKLA dengan ukuran fleksibel. "Karena susunan barang yang jelas dan terorganisir, memudahkan untuk diambil dan ditaruh kembali," ujar Ruth.
Selain itu, masyarakat juga disarankan mulai membedakan barang yang ingin ditampilkan dengan barang yang cukup disimpan. Banyak rumah menjadi terasa sesak karena terlalu banyak benda terlihat dalam waktu bersamaan.
Senada, Interior Design Leader IKEA Indonesia, Alfinda Kristra Rahardyana, menjelaskan ruang yang tampak rapi belum tentu terasa nyaman jika terlalu banyak elemen visual di dalamnya.
"Secara visual ruang bisa saja terlihat rapi, tapi tetap terasa penuh dan sesak. Biasanya karena terlalu banyak yang terlihat di saat yang sama atau tidak ada pembagian yang jelas," katanya.
Akhirnya pemindahan dan pengaturan ulang area perlu dilakukan. Itu karena desain ruang yang baik justru membantu mengurangi kebutuhan untuk terus menyiasati penataan barang setiap hari.
Masalah lain yang sering tidak disadari adalah pemilihan ukuran perabot yang tidak sesuai kebutuhan. Banyak orang membeli furnitur berdasarkan perkiraan tanpa mengukur ruang dan kapasitas penyimpanan secara detail. Akibatnya, barang sulit tersusun rapi dan sebagian akhirnya ditumpuk.
Penggunaan kotak penyimpanan atau organiser dengan ukuran yang konsisten dinilai dapat membantu menciptakan sistem penyimpanan yang lebih efektif. Dengan begitu, ruang tidak perlu terus-menerus diatur ulang karena sejak awal sudah dirancang sesuai kebutuhan.
Selain penyimpanan, metode zoning atau pembagian area berdasarkan aktivitas juga mulai banyak diterapkan dalam penataan rumah modern. Misalnya, membuat area khusus dekat pintu untuk menyimpan barang yang digunakan sebelum bepergian atau sudut relaksasi di kamar untuk barang yang dipakai sebelum tidur.
Pendekatan ini membantu membangun kebiasaan menyimpan barang di area yang sama dengan tempat penggunaannya. Dengan demikian, barang tidak mudah berpindah dan menumpuk di titik lain dalam rumah.
Di sisi lain, Alfinda juga mengingatkan pentingnya menyisakan ruang kosong di rumah. Tidak semua sudut perlu diisi barang. Ruang yang terlalu penuh justru lebih sulit dirawat dan cepat terasa sumpek.
Karena itu, decluttering atau menyaring barang secara berkala dinilai penting dilakukan. Barang yang sudah tidak digunakan dapat disumbangkan, dijual kembali, atau disimpan terpisah agar rumah tetap terasa lega.
“Ketika kita berhenti merespons semua hal dengan ‘cukup dulu’, maka ruang akan mulai berfungsi lebih konsisten. Kalau dari awal sudah sesuai kebutuhan, kita tidak perlu terus menyesuaikan,” tutur Alfinda.
Fenomena rumah terasa penuh meski ukuran hunian cukup besar menjadi pengingat bahwa kenyamanan ruang tidak hanya ditentukan oleh banyaknya barang. Cara memilih, menyimpan, dan mengatur barang sejak awal justru menjadi faktor penting agar rumah tetap nyaman digunakan sehari-hari.
Pada akhirnya, ruang yang lebih lega tidak selalu soal banyaknya barang yang harus dipajang, tapi tentang keputusan tepat yang seharusnya diambil sejak awal. Ketika setiap pilihan punya fungsi yang jelas, kebutuhan untuk terus menyesuaikan akan berkurang.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK