LIFESTYLE
Lebaran yang Terasa Sepi bagi Lansia: Ramai di Ruang Tamu, Sunyi di Hati
Rumah itu penuh. Tawa pecah di sudut-sudut ruangan, anak-anak berlarian, dan obrolan saling bertumpuk tanpa jeda. Namun di salah satu kursi, seorang lansia duduk lebih lama dari biasanya; tersenyum, tapi jarang diajak bicara.
apakabar.co.id, Jakarta – Rumah itu penuh. Tawa pecah di sudut-sudut ruangan, anak-anak berlarian, dan obrolan saling bertumpuk tanpa jeda.
Namun di salah satu kursi, seorang lansia duduk lebih lama dari biasanya; tersenyum, tapi jarang diajak bicara. Pemandangan seperti ini berulang setiap Lebaran.
Di tengah tradisi silaturahmi yang hangat, ada satu kelompok yang kerap luput dari perhatian: para lansia. Mereka hadir, tetapi tidak selalu dilibatkan. Dikelilingi keluarga, tetapi tak jarang merasa sendiri.
Kementerian Kesehatan mengingatkan, euforia Lebaran yang identik dengan keramaian justru bisa menjadi beban bagi lansia, baik secara fisik maupun emosional.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, menyebut perubahan rutinitas selama hari raya sebagai faktor utama.
“Perubahan pola makan, aktivitas, dan interaksi sosial yang padat dapat memicu kelelahan dan stres, baik fisik maupun emosional,” ujarnya di Jakarta, Jumat (20/3).
Dari tuan rumah menjadi penonton
Bagi banyak lansia, Lebaran dulunya adalah momen ketika mereka menjadi pusat keluarga dengan menyiapkan aneka hidangan, menyambut tamu, dan mengatur jalannya tradisi.
Kini, peran itu perlahan bergeser.
Tubuh yang tak lagi sekuat dulu membuat mereka lebih banyak duduk, sementara percakapan keluarga bergerak cepat mengikuti ritme generasi yang lebih muda. Tanpa disadari, lansia berubah dari tuan rumah menjadi penonton di rumahnya sendiri.
Mereka tetap tersenyum, tetapi tidak selalu didengar.
Kelelahan lansia seringkali tidak terlihat. Duduk terlalu lama, berdiri menyambut tamu, hingga makan makanan berat khas Lebaran dapat menguras energi.
Namun banyak dari mereka memilih diam. Di balik senyum yang terjaga, ada tubuh yang butuh istirahat dan perhatian.
Karena itu, Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya menjadikan Lebaran sebagai perayaan yang ramah bagi lansia, tidak hanya meriah, tetapi juga aman dan nyaman.
Perhatian terhadap lansia tidak selalu harus besar. Justru hal-hal sederhana yang paling berarti.
Kursi yang nyaman, segelas air di dekat tangan, pengingat minum obat, hingga sapaan hangat dapat membuat mereka merasa dihargai.
“Hal-hal kecil seperti kesempatan berbagi cerita seringkali lebih bermakna dibandingkan suasana yang terlalu ramai,” kata Imran.
Mengajak lansia berbicara, bukan sekadar menyertakan menjadi kunci penting. Cerita tentang Lebaran masa lalu, pengalaman hidup, atau kenangan keluarga bisa menjadi jembatan yang menghidupkan kembali peran mereka dalam kebersamaan.
Ruang untuk didengar
Di tengah riuhnya percakapan, lansia kerap kesulitan mengikuti alur yang cepat. Terlebih bagi mereka yang mengalami penurunan pendengaran.
Karena itu, keluarga perlu menciptakan ruang komunikasi yang lebih ramah, duduk lebih dekat, berbicara perlahan, dan memberi kesempatan bagi lansia untuk menyelesaikan cerita.
Menghindari topik sensitif juga penting agar suasana tetap hangat.
Selain aspek emosional, kenyamanan fisik juga menjadi perhatian. Lingkungan rumah perlu disesuaikan, lantai tidak licin, pencahayaan cukup, serta kursi dengan sandaran yang mudah diakses. Aktivitas yang membutuhkan tenaga sebaiknya dialihkan ke anggota keluarga yang lebih muda.
Namun, lansia tetap perlu dilibatkan dalam peran ringan agar mereka tidak merasa tersisih.
Setelah keramaian usai
Perhatian pada lansia tidak berhenti saat tamu pulang. Kementerian Kesehatan menyarankan pemantauan kondisi lansia selama 48 hingga 72 jam setelah Lebaran.
Perubahan aktivitas yang drastis dapat berdampak pada kesehatan mereka. Jika muncul tanda-tanda kelelahan atau gangguan kesehatan, keluarga diimbau segera berkonsultasi dengan tenaga medis.
Lebaran sejatinya bukan hanya tentang berkumpul, tetapi tentang memastikan setiap anggota keluarga merasa hadir sepenuhnya. Termasuk mereka yang dulu paling sibuk menyiapkan segalanya.
Kini, saat peran itu berpindah, perhatian menjadi cara sederhana untuk membalas.
“Dengan sedikit perencanaan dan banyak empati, Lebaran bisa menjadi momen yang aman, hangat, dan berkesan bagi semua generasi, terutama lansia,” pungkas Imran.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK