EKBIS
Solo Raya Catat Pertumbuhan Ekonomi di Atas Nasional
apakabar.co.id, SOLO - Pertumbuhan ekonomi Solo Raya tetap menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Pada 2025, ekonomi Solo Raya tercatat tumbuh sebesar 5,39 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2024 sebesar 5,24 persen.
Kepala Bank Indonesia (BI) Solo, Dwiyanto Cahyo Sumirat, mengatakan capaian tersebut juga berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,11 persen serta Jawa Tengah sebesar 5,37 persen. “Pertumbuhan ini menunjukkan aktivitas konsumsi, produksi, dan perdagangan di Solo Raya masih terjaga dengan baik,” ujar Dwiyanto, Kamis (21/5) malam.
Menurut Dwiyanto kinerja tersebut mencerminkan aktivitas konsumsi, produksi, dan perdagangan di Solo Raya masih terjaga. Terutama didukung oleh sektor perdagangan, industri pengolahan, pertanian, transportasi, serta jasa lainnya.
"Di tengah tekanan global yang berdampak pada pasar keuangan dan nilai tukar. Bank Indonesia terus menempuh langkah stabilisasi Rupiah secara terukur. Tujuh langkah utama dilakukan melalui intervensi pasar valas di dalam dan luar negeri," terangnya.
Diantaranya melalui melalui spot, DNDF, dan offshore NDF, optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk memperkuat aliran masuk modal asing.
Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, penjagaan kecukupan likuiditas perbankan dan pasar uang. Serta pembatasan pembelian dolar AS tanpa underlying dari USD100.000 menjadi USD50.000 per orang per bulan dan akan ditekan menjadi USD25.000.
Penguatan intervensi offshore NDF bersama perbankan domestik; serta penguatan pengawasan bersama Otoritas Jasa Keuangan terhadap aktivitas pembelian dolar AS dalam jumlah besar.
"Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas Rupiah, memitigasi dampak ketidakpastian global terhadap perekonomian domestik. Serta memastikan stabilitas ekonomi tetap mendukung pertumbuhan," jelasnya.
Berdasarkan survei Bank Indonesia terkait dampak eskalasi konflik Timur Tengah, sebanyak 40% responden menyampaikan bahwa konflik tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap permintaan.
Sementara 80% responden menyatakan belum terdapat pembatalan purchase order selama periode konflik. Meski demikian, pelaku usaha tetap mencermati risiko kenaikan biaya pengiriman, perubahan tarif perdagangan. internasional, serta tekanan biaya energi dan bahan baku.
Dari sisi kegiatan dunia usaha, hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia pada Triwulan 1 2026 mengindikasikan aktivitas usaha di Solo Raya tetap positif.
Kinerja mayoritas lapangan usaha masih terjaga, terutama didorong oleh sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran (PHR) serta Industri Pengolahan. Responden memperkirakan kegiatan usaha pada Triwulan II 2026 tetap positif, tercermin dari prakiraan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 37,33%, terutama ditopang oleh industri pengolahan serta sektor pertanian seiring periode panen raya.
Kemudian dari sisi stabilitas harga, inflasi Solo Raya tetap terkendali dalam kisaran sasaran nasional 2,5±1%.
Pada April 2026, Kota Surakarta mencatat deflasi 0,10% (mtm) dengan inflasi tahunan 2,27% (yoy). Kabupaten Wonogiri mencatat deflasi 0,25% (mtm) dengan inflasi tahunan 2,16% (yoy).
Sejumlah komoditas pangan utama seperti beras dan telur ayam ras terpantau stabil dengan pasokan memadai. Bank Indonesia bersama TPID tetap mencermati potensi tekanan harga pada cabai merah, cabai rawit, bawang putih, dan daging ayam ras yang dipengaruhi dinamika panen, distribusi, serta permintaan masyarakat.
Optimisme masyarakat terhadap ekonomi daerah juga masih terjaga. Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Kota Surakarta pada Mei 2026 berada di level optimis sebesar 114,17.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR