EKBIS
Investor Reksa Dana DIY Naik 40%, OJK Ingatkan Jangan Asal Investasi
apakabar.co.id, SOLO - Jumlah masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang berinvestasi di reksa dana terus meningkat. Hingga Agustus 2026, jumlah investor reksa dana di DIY mencapai 375.672 Single Investor Identification (SID).
Jumlah tersebut naik 40,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Agustus 2025, jumlah investor reksa dana di DIY tercatat sebanyak 268.040 SID. Artinya, dalam setahun terjadi penambahan lebih dari 107 ribu investor.
Meski jumlah investor meningkat pesat, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan masyarakat agar tidak sekadar ikut tren investasi. Pemahaman mengenai produk, keuntungan, risiko, dan kesesuaian investasi dengan kemampuan keuangan tetap menjadi hal penting.
Kepala Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional OJK, M. Maulana, mengatakan potensi investasi reksa dana di DIY masih sangat besar.
Total aset reksa dana di DIY saat ini mencapai sekitar Rp3,8 triliun atau setara sekitar 1,7 persen dari PDRB DIY 2026.
“Masih terdapat ruang yang sangat besar untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan investasi,” kata Maulana.
Karena itu, OJK bersama Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) terus memperluas edukasi investasi melalui SOSEDU APRDI 2026: PINTAR Investasi di Reksa Dana Syariah.
Kegiatan tersebut digelar di Yogyakarta pada 8–9 Oktober 2026 dan menjadi kota pertama untuk rangkaian semester kedua.
Kepala OJK DIY, Eko Yunianto, mengatakan edukasi diperlukan agar masyarakat yang mulai berinvestasi memahami produk yang dipilih dan menyesuaikannya dengan profil risiko masing-masing.
“Kegiatan ini menjadi momentum yang baik untuk semakin memperluas literasi dan inklusi keuangan, khususnya mengenai reksa dana syariah serta pentingnya membangun kebiasaan investasi yang terencana dan sesuai dengan profil risiko masyarakat,” ujar Eko.
Sementara itu, Ketua Panitia SOSEDU APRDI 2026, Gresia Kusyanto, mengatakan program tersebut tidak hanya bertujuan menambah jumlah investor.
Edukasi juga diarahkan agar masyarakat memahami cara berinvestasi secara terencana dan berkala sebelum mengambil keputusan.
“Melalui rangkaian kegiatan ini, kami ingin meningkatkan literasi dan inklusi reksa dana syariah di masyarakat Indonesia sekaligus memberikan pemahaman mengenai pentingnya investasi yang terencana dan berkala,” ujar Gresia.
Menurutnya, pelajar dan mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang disasar karena pemahaman mengenai investasi perlu dikenalkan sejak dini.
Selain itu, kegiatan juga melibatkan komunitas serta wartawan dan media untuk memperluas penyebaran informasi mengenai investasi kepada masyarakat.
Edukasi mengenai reksa dana syariah juga dinilai penting karena dana kelolaannya terus berkembang.
Sepanjang 2025, dana kelolaan reksa dana syariah meningkat 65,1 persen, dari Rp50,5 triliun pada akhir 2024 menjadi Rp83,4 triliun pada akhir 2025.
Sementara hingga Agustus 2026, dana kelolaan reksa dana syariah kembali meningkat menjadi Rp84,8 triliun.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai dasar investasi reksa dana syariah, cara memantau investasi, hingga perlindungan bagi investor.
KSEI, misalnya, menyediakan fasilitas AKSes.KSEI yang dapat digunakan investor untuk memantau portofolio investasi secara online.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY