NEWS

Heatstroke Merenggut Nyawa, AIPI Soroti Lambatnya Mitigasi Pemerintah

Foto ilustrasi seorang warga mengalami peningkatan suhu tubuh secara drastis atau heatstroke. Foto: AI Generate
Foto ilustrasi seorang warga mengalami peningkatan suhu tubuh secara drastis atau heatstroke. Foto: AI Generate
apakabar.co.id, JAKARTA - Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menyoroti jatuhnya dua korban jiwa dalam kurun waktu kurang dari dua pekan pada Juni 2026 menjadi bukti nyata kelalaian sistematik dalam mengantisipasi heatstroke yang ditimbulkan perubahan iklim di Indonesia. 

Adapun korban yang meninggal dunia masing-masing merupakan peserta marathon dan peserta Pelatihan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih ini memicu kritik tajam terhadap kebijakan kesehatan publik yang dinilai gagap. 

“Panas ekstrem bukan lagi sekedar persoalan cuaca, melainkan isu kesehatan masyarakat. Dampaknya dapat dicegah apabila kta mengenali risikonya, melindungi kelompok rentan, dan membangun kesiapsiagaan sejak dini,” kata Ketua Komisi Ilmu Kedokteran AIPI, Prof. dr. Herawati Sudoyo, M.S., Ph.D. dalam diskusi publik bertajuk Panduan Menjaga Kesehatan Keluarga di Musim Ekstrem El Nino di Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Kematian akibat heatstroke, kata Herawati, sesungguhnya dapat dimitigasi dengan penanganan yang memadai. Kesiapsiagaan sejak dini menjadi kunci karena heat stress dan heatstroke merupakan ancaman fatal yang secara nyata merusak organ-organ vital yang dapat merusak organ-organ vital.

Lambatnya mitigasi dan penanganan selain memicu peradangan sistematik juga dapat menyebabkan kematian. Di sisi lain, kegagalan dalam menganalisis risiko kesehatan akibat heatstroke diperparah dengan anggapan paparan panas sebagai masalah kenyamanan atau cuaca gerah belaka.

"Padahal tanpa adanya sistem perlindungan dan pengenalan risiko yang baik, aktivitas fisik massal di luar ruangan saat suhu tinggi akan menempatkan masyarakat pada bahaya medis yang besar," katanya.

Karena itu, imbuh Herawati, langkah pencegahan perlindungan kelompok rentan akibat heatstroke ini menuntut adanya kolaborasi erat lintas sektor. Termasik penyediaan literasi kesehatan yang memadai bagi publik. Di sisi lain, mitigasi terhadap ancaman ini juga harus berbasis pada karakteristik iklim lokal Indonesia. 
Berbeda dengan kawasan subtropic, ancaman cuaca di Indonesia lebih dipengaruhi oleh kombinasi suhu tinggi yang berkelanjutan dan kelembapan yang tinggi, sehingga mengendurkan kewaspadaan meskipun tidak ada gelombang panas ekstrem.

"Pemerintah dan pemangku kepentingan dituntut untuk segera membangun sistem peringatan dini yang terintegrasi guna mengantisipasi dampak buruk cuaca panas ini secara berkelanjutan. Menyoroti pentingnya Langkah antisipasi berbasis karakteristik atmosfer lokal tersebut," katanya.

Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan mengungkapkan sampai saat ini pihaknya masih belum melihat terjadinya potensi gelombang panas di Indonesia seperti yang terjadi di Eropa dan Amerika.

"Relatif kecil karena karakteristik atmosfer Indonesia berbeda. Namun, bukan berarti kita tidak perlu mengantisipasi dampak panas terhadap kesehatan," pungkasnya.