EKBIS

Harga Minyak Melonjak, Rupiah Tertekan Lagi

Nilai tukar rupiah kembali melemah di tengah kenaikan harga minyak dunia akibat memanasnya situasi Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap prospek pasar keuangan Indonesia.
Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. Foto: ANTARA
Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. Foto: ANTARA
apakabar.co.id, SAMARINDA — Nilai tukar rupiah kembali bergerak di zona pelemahan pada perdagangan Senin (22/6/2026). Mata uang Garuda terkoreksi 9 poin atau 0,05 persen ke level Rp17.813 per dolar Amerika Serikat (AS), dibanding penutupan sebelumnya yang berada di Rp17.804 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai tekanan terhadap rupiah kali ini terutama berasal dari sentimen global, khususnya lonjakan harga minyak dunia yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Menurut dia, pasar merespons ancaman Presiden AS Donald Trump terkait kemungkinan serangan terhadap Lebanon apabila kelompok Hizbullah terus melakukan serangan terhadap Israel. Situasi tersebut turut memunculkan kekhawatiran terhadap kelanjutan perundingan antara AS dan Iran.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran di Rp17.780-Rp17.830 dipengaruhi oleh faktor global kembali meningkatnya harga minyak dunia,” kata Rully.

Ketidakpastian semakin meningkat setelah delegasi Iran dilaporkan meninggalkan lokasi perundingan dengan Amerika Serikat di Swiss sebagai bentuk protes atas pernyataan Trump. Langkah itu memicu kekhawatiran pasar terhadap prospek stabilitas kawasan serta potensi gangguan pasokan energi global.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia disebut tengah menyiapkan sejumlah insentif ekonomi guna menjaga momentum pertumbuhan domestik. Namun perhatian investor saat ini juga tertuju pada keputusan tahunan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait klasifikasi pasar modal Indonesia.

Sebelumnya, MSCI pada 18 Juni lalu masih menempatkan Indonesia dalam kategori Emerging Markets (EMs) melalui laporan aksesibilitas pasar. Namun pasar kini menunggu hasil annual market classification review yang dijadwalkan diumumkan pada Selasa (23/6) malam waktu Amerika Serikat.

Kajian tersebut tidak hanya menilai aksesibilitas pasar modal, tetapi juga mempertimbangkan aspek tata kelola, risiko politik, dan kondisi ekonomi suatu negara.

Rully menilai terdapat risiko Indonesia mengalami penurunan klasifikasi menjadi Frontier Market apabila sejumlah isu tata kelola dinilai belum memberikan kepastian bagi investor.

Menurut dia, salah satu perhatian pasar adalah rencana pengaturan ekspor komoditas strategis melalui satu pintu lembaga pemerintah yang dinilai masih menyisakan sejumlah pertanyaan terkait regulasi dan kepastian hukum.
“Pasar akan mencermati apakah Indonesia tetap berada di kategori Emerging Markets atau mengalami perubahan klasifikasi,” ujarnya, dikutip dari antara.

Bagi investor, keputusan MSCI memiliki arti penting karena berpengaruh terhadap aliran dana global. Status sebagai Emerging Markets selama ini menjadi salah satu faktor yang menjaga daya tarik pasar keuangan Indonesia di mata investor internasional.

Karena itu, selain perkembangan konflik Timur Tengah dan pergerakan harga minyak dunia, hasil evaluasi MSCI diperkirakan menjadi salah satu sentimen utama yang akan menentukan arah pergerakan rupiah dan pasar keuangan nasional dalam beberapa hari ke depan.