NEWS

Arus Balik Landai, Contraflow di Tol Jakarta-Cikampek Dihentikan

PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) bersama kepolisian resmi menghentikan rekayasa lalu lintas berupa contraflow pada Minggu (5/4) malam, setelah volume kendaraan menuju Jakarta berangsur berkurang.
Ilustrasi - Kendaraan pemudik melintas pada jalur "contra flow" jalan Tol Cikampek KM 51, di Jawa Barat. Foto: ANTARA
Ilustrasi - Kendaraan pemudik melintas pada jalur "contra flow" jalan Tol Cikampek KM 51, di Jawa Barat. Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA– Arus balik libur panjang Jumat Agung di ruas Tol Jakarta-Cikampek mulai menunjukkan penurunan. PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) bersama kepolisian resmi menghentikan rekayasa lalu lintas berupa contraflow pada Minggu (5/4) malam, setelah volume kendaraan menuju Jakarta berangsur berkurang.

Sebelumnya, sistem contraflow diterapkan untuk mengurai kepadatan arus balik yang meningkat pada sore hari. Rekayasa lalu lintas tersebut diberlakukan di KM 55 hingga KM 47 arah Jakarta sejak pukul 16.36 WIB.

Namun, berdasarkan pemantauan di lapangan, kondisi lalu lintas mulai membaik pada malam hari. Sekitar pukul 20.06 WIB, contraflow resmi dihentikan dan arus kendaraan kembali normal di kedua arah.

Vice President Corporate Secretary and Legal PT Jasamarga Transjawa Tol, Ria Marlinda Paallo, menyebut penghentian contraflow dilakukan setelah evaluasi intensif bersama pihak kepolisian.

"Seiring dengan volume kendaraan yang mulai terdistribusi dengan baik, contraflow dihentikan dan lalu lintas kembali beroperasi normal untuk memastikan kenyamanan pengguna jalan," kata Marlinda dalam keterangannya di Karawang, Jawa Barat, Minggu (5/4). 

Saat ini, kondisi lalu lintas di Tol Jakarta-Cikampek terpantau ramai lancar. Meski begitu, pengguna jalan tetap diimbau mengutamakan keselamatan, menjaga jarak aman, serta mematuhi rambu dan arahan petugas di lapangan.

JTT juga mengingatkan pentingnya kesiapan sebelum perjalanan, mulai dari kecukupan saldo uang elektronik hingga kondisi kendaraan yang harus dalam keadaan prima.

Normalnya arus balik ini menjadi sinyal bahwa puncak kepadatan mulai terlewati. Namun, pola yang kembali berulang setiap musim libur panjang memunculkan pertanyaan yang sama: apakah rekayasa seperti contraflow benar-benar menjadi solusi jangka pendek yang efektif, atau sekadar respons atas lonjakan yang sudah terlanjur terjadi?

Dalam praktiknya, penerapan contraflow di Tol Jakarta-Cikampek kerap dilakukan setelah kepadatan mulai meningkat signifikan. Artinya, manajemen lalu lintas masih cenderung bersifat reaktif, mengikuti kondisi di lapangan, alih-alih mampu mengantisipasi distribusi kendaraan sejak awal.

Di sisi lain, lonjakan arus balik yang tidak merata, terkonsentrasi pada jam dan hari tertentu, memang menjadi tantangan tersendiri. Namun, tanpa strategi yang lebih prediktif dan terukur, rekayasa lalu lintas berisiko hanya menjadi 'pemadam sementara' yang berulang dari waktu ke waktu.

Karena itu, koordinasi antara pengelola jalan tol dan kepolisian tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kelancaran arus balik. Evaluasi berkala diharapkan tidak hanya berhenti pada penanganan situasional, tetapi juga mampu melahirkan pendekatan yang lebih antisipatif ke depan.

Dengan kondisi lalu lintas yang kini kembali normal, para pengguna jalan diharapkan dapat melanjutkan perjalanan dengan lebih aman dan nyaman. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan, mengingat potensi kepadatan bisa saja muncul kembali sewaktu-waktu.