LIFESTYLE

Anemia Mengintai Anak-anak, Lingkungan Bisa Jadi Penyebab

Foto ilustrasi seorang anak mengalami gejala anemia. Foto: iStock
Foto ilustrasi seorang anak mengalami gejala anemia. Foto: iStock
apakabar.co.id, JAKARTA - Akselerasi Puskesmas Indonesia (Apkesmi) menyebut lingkungan yang tidak mendukung tumbuh kembang dapat meningkatkan risiko anak terkena anemia.

Ketua Umum DPP Apkesmi Kusnadi SKM., M.Kes., menerangkan di tengah situasi tersebtu menurutnya perlu edukasi pemahaman yang diberikan kepada orang tua agar anak-anak juga terbebas dari stunting.

“Permasalahan anemia dan stunting itu kompleks, tidak hanya permasalahan gizi saja, ada permasalahan kesehatan lingkungan, mungkin ada penyakit kronis, ada pola asuh yang salah," katanya di Tangerang seperti dilansir Antara, Senin (29/6).
Kusnadi menyoroti minimnya edukasi mengenai asupan makanan bergizi masih menjadi salah satu tantangan dalam mengentaskan masalah anemia dan stunting di Indonesia.

Dia mencontohkan Indonesia sebagai negara bahari yang besar diberkati dengan aneka macam produk laut yang mengandung protein hewani seperti ikan. Namun di daerah pesisir, ikan-ikan tersebut justru dijual kembali untuk membeli mi instan yang diberikan pada anak-anak.

Di sisi lain kurangnya perhatian terhadap dampak serius dari penyakit kronis atau masalah penyerapan zat besi yang diderita oleh anak-anak menjadi momok masalah berikutnya. Maka dari itu, dia menilai keluarga di Indonesia masih membutuhkan pendampingan dan edukasi yang masif mengenai bahaya anemia pada anak.

Menindaklanjuti situasi itu, Apkesmi bekerja sama dengan Danone Indonesia menghadirkan Program Puskesmas Siap SEDIA (Skrining, Edukasi, Intervensi, cegah Anemia dan Stunting) sebagai upaya memperkuat peran puskesmas dalam upaya promotif dan preventif, khususnya pencegahan anemia dan stunting pada ibu dan anak.
Program ini mengedepankan pendekatan terintegrasi melalui skrining, edukasi, dan intervensi untuk mendukung deteksi dini serta penanganan yang lebih berkelanjutan di tingkat komunitas.

Dia mengatakan program itu berbeda dengan tata laksana melacak anemia lewat pemeriksaan hemoglobin. Melainkan mengukur faktor risiko sebelum anak jatuh pada kondisi anemia.

Setelah faktor risiko ditentukan, petugas puskesmas akan melakukan pemeriksaan dengan lebih mendetail. Anak-anak yang diketahui memiliki faktor risiko berupa penyakit kronis nantinya akan dirujuk kepada dokter spesialis yang sesuai.

“Jadi untuk anak-anak yang mengalami faktor risiko, kita akan menuju ke dokter. Kalau dokter ternyata mendapati ada beberapa masalah, misalnya saja ternyata anak ini mendadak penyakit kronis yang berdampak kepada penyerapan zat besi tadi, maka akan dirujuk kembali ke dokter spesialis,” katanya.