OPINI

Mana Lebih Penting: Bertanya atau Menjawab?

Foto ilustrasi seorang guru sedang mengajar di hadapan murid-muridnya di sekolah. Foto: Antara
Foto ilustrasi seorang guru sedang mengajar di hadapan murid-muridnya di sekolah. Foto: Antara
Oleh: Ali Saukah

"Silakan, siapa yang bisa menjawab?" Kalimat itu mungkin merupakan pertanyaan yang paling sering terdengar di ruang-ruang kelas. Sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, peserta didik dibiasakan untuk menjawab pertanyaan pendidik.

Ujian pun hampir selalu mengukur kemampuan menjawab. Semakin banyak jawaban yang benar, semakin tinggi nilai yang diperoleh. Sebaliknya, sangat jarang pendidik bertanya, "Siapa yang dapat mengajukan pertanyaan yang paling baik hari ini?"

Hampir semua lompatan besar dalam sejarah ilmu pengetahuan justru diawali oleh satu pertanyaan yang baik, bukan oleh satu jawaban.

Isaac Newton tidak memulai teorinya dengan jawaban, tetapi dengan pertanyaan mengapa apel jatuh ke bawah. Charles Darwin bertanya mengapa makhluk hidup memiliki keragaman yang begitu besar. Menurut Albert Einstein, merumuskan satu masalah sering kali lebih penting daripada menemukan solusinya.

Pengetahuan berkembang karena manusia bertanya, bukan karena manusia berhenti bertanya.

Ironisnya, pendidikan kita masih lebih banyak memberi penghargaan kepada jawaban daripada pertanyaan. Selama berabad-abad, pendekatan itu mungkin sudah memadai.
Ketika buku sulit diperoleh dan pendidik menjadi sumber utama pengetahuan, kemampuan menjawab memang menjadi indikator keberhasilan belajar. Peserta didik perlu menguasai sebanyak mungkin pengetahuan yang dimiliki pendidiknya.

Internet kemudian mengubah dunia. Informasi tidak lagi langka. Hampir semua jawaban dapat ditemukan melalui mesin pencari. Pendidikan pun mulai bergeser. Hal yang penting bukan lagi menghafal, melainkan mengetahui bagaimana mencari informasi.

Kini, kecerdasan artifisial (AI) kembali mengubah lanskap pendidikan secara lebih mendasar. AI tidak hanya membantu mencari informasi, tetapi juga menghasilkan jawaban. Dalam hitungan detik, AI mampu menjawab hampir semua pertanyaan dengan bahasa yang runtut, lengkap, dan meyakinkan.

Jika demikian, masihkah kemampuan menjawab menjadi ukuran utama kecerdasan? Pertanyaan inilah yang perlu dijawab kembali oleh dunia pendidikan.

Di era AI, jawaban menjadi semakin murah. Hampir semua orang dapat memperolehnya kapan saja. Hal yang justru semakin mahal adalah kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat dan menilai apakah jawaban yang diterima benar atau tidak.

AI dapat menghasilkan jawaban yang sangat meyakinkan, tetapi tidak selalu benar. AI dapat menciptakan rujukan yang tidak pernah ada, mengutip penelitian yang keliru, atau menyusun argumentasi yang tampak logis tetapi sesungguhnya lemah.

Oleh karena itu, kemampuan yang paling dibutuhkan bukan sekadar memperoleh jawaban, melainkan memeriksa kebenaran jawaban. Pendidikan perlu melakukan perubahan paradigma.
Sekolah tidak cukup mengajarkan peserta didik bagaimana menjawab. Sekolah juga harus mengajarkan bagaimana bertanya.

Pertanyaan yang baik lahir dari rasa ingin tahu, keraguan yang sehat, kemampuan mengamati, dan keberanian mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap benar. Semua penemuan ilmiah berawal dari kebiasaan seperti itu. Sayangnya, budaya bertanya belum tumbuh kuat di banyak ruang kelas kita.

Tidak sedikit peserta didik yang memilih diam karena takut pertanyaannya dianggap bodoh. Sebaliknya, pendidik sering merasa berhasil apabila mampu menjelaskan semua materi tanpa menyisakan pertanyaan. Padahal, kelas yang baik bukanlah kelas yang dipenuhi jawaban, melainkan kelas yang dipenuhi pertanyaan bermakna.

Pertanyaan memaksa peserta didik berpikir. Pertanyaan mendorong mereka mencari bukti. Pertanyaan mengajak mereka membandingkan berbagai sudut pandang. Pertanyaan melatih mereka menyadari bahwa satu persoalan sering kali memiliki lebih dari satu kemungkinan jawaban.

Pertanyaan yang baik membentuk kerendahan hati intelektual. Orang yang terbiasa bertanya tidak mudah merasa paling benar. Ia selalu membuka ruang bagi kemungkinan bahwa pemahamannya masih belum lengkap. Sebaliknya, orang yang hanya terbiasa menjawab sering kali merasa telah selesai belajar.

Di era media sosial, kemampuan bertanya menjadi semakin penting. Banyak pertengkaran di ruang digital sebenarnya berawal dari kegagalan mengajukan pertanyaan sederhana: Benarkah informasi ini? Dari mana sumbernya? Apa buktinya? Apakah ada penjelasan lain? Mungkinkah informasi ini telah dipotong dari konteksnya?
Karena pertanyaan-pertanyaan itu tidak diajukan, orang lebih cepat bereaksi daripada memeriksa. Emosi mendahului penalaran. Akibatnya, hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasinya.

Dalam konteks inilah arah kebijakan Pembelajaran Mendalam menemukan relevansinya. Pembelajaran yang mendalam tidak mungkin terjadi apabila peserta didik hanya menerima informasi apa adanya. Mereka harus memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan pengetahuan. Ketiga proses itu selalu diawali oleh pertanyaan yang baik.

Oleh karena itu, salah satu tugas penting pendidik pada abad ke-21 bukan lagi menjadi orang yang memiliki semua jawaban, melainkan menjadi orang yang mampu menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan yang bermakna.

Pendidik tidak kehilangan perannya karena hadirnya AI. Justru perannya menjadi semakin penting. AI dapat memberikan jawaban, tetapi AI tidak dapat menggantikan guru dalam membimbing peserta didik membangun rasa ingin tahu, berpikir kritis, berdialog secara sehat, dan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab. Barangkali di sinilah letak perubahan terbesar pendidikan pada abad ini.

Selama ini kita lebih banyak berbicara tentang transfer pengetahuan. Kini, pendidikan harus bergerak menuju validasi pengetahuan. Peserta didik tidak cukup mengetahui sesuatu; mereka harus mampu menilai apakah sesuatu itu layak dipercaya.

Konsekuensinya, cara pendidik mengajar pun perlu berubah. Keberhasilan pembelajaran tidak lagi cukup diukur dari banyaknya jawaban benar yang diberikan peserta didik, tetapi juga dari mutu pertanyaan yang mampu mereka ajukan.

Pendidik perlu mulai memberi ruang bagi peserta didik untuk bertanya, meragukan, menguji, dan mendiskusikan berbagai kemungkinan jawaban. Kelas yang hidup bukanlah kelas yang sunyi karena semua siswa mendengarkan, melainkan kelas yang dipenuhi pertanyaan yang lahir dari rasa ingin tahu.
Perubahan itu juga harus tercermin dalam asesmen. Selama ini sebagian besar penilaian mengukur kemampuan memilih atau memberikan jawaban yang benar. Ke depan, asesmen perlu semakin banyak mengukur kemampuan menyusun pertanyaan yang bermakna, mengevaluasi kredibilitas sumber informasi, membedakan fakta, opini, dan interpretasi, serta menjelaskan mengapa suatu jawaban dapat dipercaya atau justru harus diragukan.

Kemampuan seperti inilah yang akan menentukan keberhasilan seseorang hidup di tengah banjir informasi dan pesatnya perkembangan AI.

Pertanyaan dalam judul tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan bertanya dan menjawab. Keduanya sama-sama penting. Namun, urutannya tidak boleh terbalik. Jawaban yang baik selalu lahir dari pertanyaan yang baik.

Di era kecerdasan artifisial, ketika hampir semua jawaban dapat dihasilkan oleh mesin dalam hitungan detik, pendidikan harus semakin menghargai mereka yang mampu mengajukan pertanyaan yang tepat, memeriksa bukti dengan jujur, dan mengubah pendapatnya ketika kebenaran menunjukkan arah yang berbeda. Mungkin itulah ciri manusia terdidik pada abad 21.

*) Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur dan anggota Dewan Pendidikan Nasional