OPINI

Melawan Kanker, Membangun Kedaulatan

Lukisan karya penyintas kanker yang dipamerkan di pameran "Understanding Cancer Through Art" pada peringatan Hari Kanker Sedunia, di Jakarta, Rabu (4/2/2026). Foto: Antara
Lukisan karya penyintas kanker yang dipamerkan di pameran "Understanding Cancer Through Art" pada peringatan Hari Kanker Sedunia, di Jakarta, Rabu (4/2/2026). Foto: Antara
Oleh: Dito Anurogo*

Kanker masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di Indonesia. Global Cancer Observatory memperkirakan terdapat 474.083 kasus baru dan 283.299 kematian akibat kanker di Indonesia pada 2024. Pedoman Kementerian Kesehatan yang terbit pada 2026 juga mencatat bahwa lebih dari 70 persen pasien datang ketika kanker sudah berada pada stadium lanjut.

Angka tersebut menunjukkan masalah yang sangat nyata. Banyak pasien belum menemukan penyakitnya sejak awal. Sebagian harus menempuh perjalanan jauh, menunggu pemeriksaan, atau menghadapi biaya yang tidak sedikit. Akibatnya, kesempatan untuk memperoleh pengobatan terbaik dapat berkurang.

Indonesia sebenarnya telah memiliki Rencana Kanker Nasional 2024-2034. Arah kebijakannya mencakup pencegahan, pemeriksaan dini, pengobatan, perawatan paliatif, pencatatan kasus, dan perbaikan tata kelola. Tantangannya adalah memastikan rencana tersebut benar-benar terasa di rumah sakit, puskesmas, dan kehidupan pasien.

Kanker bukan satu penyakit

Kanker sering dibicarakan seolah-olah merupakan satu penyakit. Padahal, kanker terdiri atas banyak jenis yang berbeda. Kanker payudara, paru, hati, darah, atau usus mempunyai sifat dan cara pengobatan yang tidak sama. Bahkan dua orang dengan kanker pada organ yang sama dapat memberikan respons yang berbeda terhadap obat yang sama.

Di dalam satu tumor pun terdapat kelompok sel yang beragam. Sebagian tumbuh cepat, sebagian lebih lambat, dan sebagian dapat bertahan setelah pengobatan. Sel yang bertahan inilah yang kadang tumbuh kembali dan membuat penyakit sulit dikendalikan.
Kanker juga dapat menyebar ke organ lain. Proses ini disebut metastasis. Ketika telah menyebar, sifat sel kanker di tempat baru bisa berbeda dari tumor asalnya. Itulah sebabnya dokter sering memerlukan pemeriksaan berulang untuk memahami perubahan penyakit dan memilih terapi yang paling sesuai.

Selain itu, tumor tidak hidup sendirian. Ia berada di tengah pembuluh darah, jaringan penunjang, dan sel-sel kekebalan tubuh. Lingkungan di sekitar tumor dapat melindunginya dari obat atau menghambat kerja sistem imun. Karena itu, pengobatan kanker bukan sekadar membunuh satu jenis sel, melainkan menghadapi penyakit yang terus berubah.

Sistem imun bisa dikelabui

Sistem imun memiliki kemampuan mengenali sel yang tidak normal. Namun, sel kanker berasal dari sel tubuh sendiri sehingga tampilannya sering mirip dengan sel sehat. Sistem imun harus berhati-hati agar tidak menyerang jaringan normal.

Kanker memanfaatkan keadaan tersebut. Sebagian tumor dapat menyamarkan tanda pengenal atau mengirimkan sinyal yang membuat sel imun melemah. Salah satu contohnya adalah hubungan antara PD-1 dan PD-L1, yang bekerja seperti pedal rem pada sel imun.

Imunoterapi tertentu dirancang untuk melepaskan rem tersebut agar sel imun kembali menyerang kanker. Terapi ini memberi hasil yang sangat baik pada sebagian pasien, tetapi tidak bekerja pada semua orang. Sel imun tetap harus mampu mengenali sasaran, masuk ke dalam tumor, dan bertahan di lingkungan yang tidak ramah.

Masyarakat perlu memahami bahwa imunoterapi bukan jaminan kesembuhan. Manfaatnya bergantung pada jenis kanker, kondisi pasien, dan penanda biologis tertentu. Pengawasan dokter juga penting karena sistem imun yang terlalu aktif dapat menyerang organ sehat.

Teknologi membantu, bukan menjamin

Kemajuan teknologi membuka harapan baru. Terapi CAR-T, misalnya, mengambil sel imun pasien lalu melengkapinya agar lebih mudah mengenali sel kanker. Terapi ini telah memberi hasil penting pada beberapa kanker darah. Namun, penerapannya pada tumor padat masih menghadapi banyak hambatan.

Nanomedisin juga dikembangkan untuk membantu membawa obat, melindungi zat aktif, atau mengatur pelepasan obat di dalam tubuh. Meski menjanjikan, partikel berukuran sangat kecil tidak selalu langsung menuju tumor. Perjalanannya dipengaruhi aliran darah, fungsi hati dan ginjal, serta keadaan pembuluh darah pada tumor.
Kecerdasan buatan (AI) dapat membantu membaca hasil radiologi, jaringan patologi, data genetik, dan rekam medis. Akan tetapi, AI tidak boleh menggantikan penilaian klinis. Sistem ini hanya akan baik bila dilatih dengan data yang berkualitas dan mewakili keragaman penduduk Indonesia.

Kekayaan hayati Indonesia juga dapat menjadi sumber penemuan obat. Namun, bahan alam tetap harus melalui penelitian yang ketat. Klaim kesembuhan tidak boleh mendahului bukti tentang kandungan, dosis, keamanan, interaksi obat, dan manfaatnya pada manusia.

Kedaulatan bukan berarti menutup diri

Kedaulatan dalam penanganan kanker bukan berarti Indonesia harus membuat seluruh obat dan alat sendiri. Kerja sama internasional tetap penting. Namun, Indonesia perlu mampu menentukan prioritas, menilai teknologi secara mandiri, melindungi data pasien, dan membangun kemampuan produksi secara bertahap.

Data kanker juga perlu dikelola dengan aman dan bertanggung jawab. Pencatatan kasus yang baik membantu pemerintah mengetahui jenis kanker yang paling banyak ditemukan, stadium saat diagnosis, terapi yang diberikan, dan hasil pengobatan. Tanpa data yang kuat, kebijakan mudah meleset dari kebutuhan nyata.

Perguruan tinggi, lembaga riset, rumah sakit, industri, dan pemerintah juga perlu bekerja dalam satu jalur. Banyak penelitian berhenti sebagai publikasi karena tidak memiliki jalan menuju uji klinis, produksi, izin, dan penggunaan di pelayanan kesehatan. Inovasi baru berguna ketika dapat diterapkan dengan aman dan terjangkau.

Tiga langkah strategis

Pertama, perkuat pencegahan dan pemeriksaan dini. Vaksinasi HPV dan hepatitis B, pengendalian rokok, serta skrining yang tepat dapat menurunkan risiko atau menemukan kanker lebih awal. Pemeriksaan dini harus diikuti jalur rujukan yang jelas. Hasil yang mencurigakan tidak boleh berhenti tanpa kepastian diagnosis dan pengobatan.

Kedua, tingkatkan mutu layanan melalui kerja tim. Penanganan kanker membutuhkan dokter dari berbagai bidang, perawat, ahli gizi, farmasis, tenaga rehabilitasi, psikolog, dan tim paliatif. Mereka perlu menyusun rencana bersama berdasarkan keadaan penyakit dan kebutuhan hidup pasien.
Pemerataan layanan juga harus dinilai dari waktu dan jarak. Pasien tidak cukup hanya memiliki jaminan pembiayaan. Mereka juga menghadapi biaya perjalanan, penginapan, kehilangan pendapatan, dan kebutuhan anggota keluarga yang mendampingi. Semua beban tersebut dapat menentukan apakah terapi dapat diselesaikan.

Ketiga, bangun data, riset, dan industri kesehatan nasional. Indonesia memerlukan registri kanker yang lebih lengkap, penelitian yang melibatkan penduduk dari berbagai wilayah, serta uji klinis yang transparan dan melindungi peserta. Produksi dalam negeri dapat dimulai dari hal yang realistis, seperti alat diagnostik, bahan pemeriksaan, perangkat lunak, dan sistem pengelolaan data.

Setiap teknologi baru harus dinilai berdasarkan manfaat nyata, keamanan, kualitas hidup, dan keterjangkauannya. Pertanyaan terpenting bukan seberapa canggih sebuah terapi, melainkan siapa yang benar-benar mendapat manfaat dan apakah masyarakat dapat mengaksesnya secara berkelanjutan.

Ilmu pengetahuan harus kembali kepada manusia

Kemajuan melawan kanker tidak cukup diukur dari banyaknya mesin baru, gedung besar, atau istilah ilmiah yang terdengar modern. Ukurannya adalah lebih banyak kanker yang dapat dicegah, lebih banyak penyakit yang ditemukan pada tahap awal, diagnosis yang lebih cepat, dan terapi yang lebih tepat.

Pasien juga bukan sekadar hasil laboratorium atau kumpulan perubahan gen. Ia adalah manusia dengan keluarga, pekerjaan, ketakutan, harapan, dan rencana hidup. Keberhasilan pengobatan tidak hanya berarti tumor mengecil, tetapi juga nyeri berkurang, fungsi tubuh terjaga, dan kualitas hidup membaik.

Melawan kanker membutuhkan teknologi yang cerdas sekaligus sistem kesehatan yang adil. Kedaulatan tercapai ketika ilmu pengetahuan, data, pelayanan, industri, dan pembiayaan bergerak menuju tujuan yang sama: memastikan kemajuan medis benar-benar hadir untuk manusia.

*) Alumnus PhD dari IPCTRM TMU Taiwan, dokter riset, dosen, peneliti, reviewer, trainer, dan penulis profesional yang menekuni ilmu biomedis, onkologi, imunologi, nanoteknologi, serta kebijakan kesehatan