OPINI
Titik Balik Presiden Lula
Oleh: Muhammad Syarkawi Rauf*
Pidato pelantikan presiden Brasil terpilih dari sayap kiri, Presiden Luiz Inacio Lula da Silva, pada 1 Januari 2003 memberikan harapan perubahan bagi rakyat Brasil. Programnya yang disenangi pemilih adalah mendongkrak pertumbuhan ekonomi dengan mengandalkan kekuatan internalnya sendiri.
Narasi presiden Lula yang membuatnya terpilih adalah mengoreksi ketimpangan penguasaan asset nasional. Sekitar 5,0 persen konglomerasi menguasai 70 persen lahan pertanian. Dan 50 persen petani kecil menguasai hanya 2,0 – 3,0 persen areal pertanian produktif.
Ketimpangan antar pendapatan per kapita Brasil tahun 2000-an awal juga termasuk kategori sangat tinggi, tercermin pada gini ratio (indeks gini) sekitar 0,62. Pengangguran Brasil mencapai 12 persen rata-rata bulanan tahun 2002.
Ekonomi Memburuk
Seperti yang dapat dibaca pada hasil studi tiga ekonom, yaitu Philip Arestis, Luiz Fernando de Paula dan Fernando Ferrari-Filho dari Centre for Brazilian Studies, University of Oxford tahun 2007, terpilihnya presiden Lula mengkhawatirkan pelaku pasar karena narasinya yang anti pasar (anti market rhetoric).
Akibatnya, country risk premium Brasil naik 600 basis points (bps) menjadi 2,4 persen pada Oktober 2002. Net capital outflow Brasil naik.
Cadangan devisa turun dari 42 milyar dollar Amerika Serikat (AS) pada Juni 2002 menjadi 35,6 miliar dollar AS pada November 2002. Turun 6,4 miliar dollar AS hanya dalam lima bulan.
Nilai tukar real Brasil per dollar AS melemah ekstrim dari 2,38 menjadi 3,88 real Brasil per dollar AS. Demikian juga dengan harga saham Brasil, Bovespa Index turun menjadi 10.981 pada akhir Desember 2002. Sebelumnya mencapai sekitar 17.150 pada awal Januari 2001.
Inflasi bulanan Brasil naik dari 0,5 persen pada 1 Januari 2002 menjadi 1,3 persen pada Oktober 2002. Inflasi secara tahunan bahkan mencapai sekitar 17 persen (year-on-year).
Narasi presiden Lula yang anti pasar, beraliran sosialis, membuat persepsi risiko perekonomian Brasil naik. Investor global keluar dari asset keuangan Brasil dengan tagar “Sell Brazil”. Lembaga pemeringkat internasional mengeluarkan Brasil dari ketegori investment grade.
Kondisi ekonomi Brasil semakin buruk. Tekanan terhadap presiden Lula untuk melakukan langkah-langkah koreksi semakin kuat, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Termasuk dari International Monetary Fund (IMF).
Titik Balik
Akhirnya, titik balik dalam perekonomian Brasil terjadi pada saat pemerintah bersedia menerima dana talangan IMF pada tahun 2003. Presiden Lula berjanji akan mematuhi aturan pasar dengan menjalankan kebijakan fiskal yang disiplin.
Mengurangi fiscal dominance. Selama ini, Banco Central do Brasil (BCB) menunda kenaikan policy rate (Selic), suku bunga acuan BCB meskipun kurs real Brasil terdepresiasi ekstrim.
Penundaan kenaikan policy rate (Selic) untuk mengurangi beban pembayaran bunga utang pemerintah. Independensi kebijakan moneter tergerus.
Presiden Lula meningkatkan kredibilitas fiskal dengan menaikkan surplus keseimbangan primer sebagai rasio terhadap Gross Domestic Product (GDP) dari 3,75 persen menjadi 4,25 persen.
Surplus keseimbangan primer berarti total pendapatan negara lebih besar dari belanja negara tanpa memperhitungkan pembayaran bunga utang.
Atas desakan IMF, BCB akhirnya menaikkan bunga acuan, Selic, menjadi 23 persen untuk mengantisipasi inflasi yang sudah mencapai 17 persen secara tahunan. Pengorbanannya (sacrifice ratio) adalah pertumbuhan ekonomi Brasil menjadi hanya 0,5 persen tahun 2003.
Perekonomian Brasil akhirnya terhindar dari krisis karena commodity price booming. Pada saat presiden Lula berkuasa, 1 Januari 2003, kondisi perekonomian global semakin membaik. Pertumbuhan dua perekonomian terbesar dunia, AS dan China meningkat. Volume perdagangan global meningkat signifikan.
Surplus perdagangan (trade balance) Brasil meningkat dari 24,9 milyar dollar AS tahun 2003 menjadi 44,8 milyar dollar AS tahun 2005. Surplus current account naik menjadi 14,2 milyar dollar AS tahun 2005.
Cadangan devisa Brasil juga naik sangat signifikan dari 37,5 milyar dollar AS tahun 2002 menjadi 53,8 milyar dollar AS tahun 2005.
Conuntry risk premium Brasil semakin membaik. Turun menjadi hanya 313,8 bps. Hal ini membuat nilai tukar real Brasil terhadap dollar AS dan Bovespa index (indeks harga saham Brasil) menguat.
Langkah paling ekstrim presiden Lula adalah menaikkan tax rate, mengurangi pengeluaran pemerintah (menunda implementasi program-program populis), dan menaikkan surplus keseimbangan primer menjadi 4,8 persen terhadap GDP.
Lesson Learn
Kisah sukses perekonomian Brasil terhindar dari krisis tahun 2003 karena dua faktor, yaitu: pertama, desakan domestik dan internasional yang kuat mendorong presiden Lula mengubah kebijakan dengan mengumumkan New Consencuss Macroeconomic Policy (NCM).
Kedua, pertumbuhan ekonomi global yang semakin baik meningkatkan volume perdagangan internasional. Hal ini berdampak pada “commodity price booming”, di mana Brasil adalah eksportir utama beberapa komoditi, seperti kedelai, besi, baja, daging sapi, dan lainnya.
Lalu, apa lesson learn (hikmah) yang dapat diambil oleh pemerintah Indonesia dari pengalaman Brasil? Pertama, pada saat kondisi ekonomi memburuk, dibutuhkan disiplin fiskal yang semakin baik yang tercermin pada rasio defisit fiskal sekitar 2,0 – 2,5 persen terhadap GDP.
Atau secara ekstrim, seperti pengalaman presiden Lula, mengubah kondisi defisit keseimbangan primer (primary fiscal deficit) menjadi surplus 4,8 persen dari GDP tahun 2005. Di mana pendapatan lebih besar dari belanja negara sebelum memperhitungkan pembayaran bunga utang.
Kedua, secara cermat menaikkan suku bunga acuan (BI rate) sehingga tidak berdampak negatif terlalu jauh terhadap pertumbuhan ekonomi. Pada saat yang sama, ekspektasi inflasi yang cenderung meningkat menjadi terkendali. Demikian juga dengan volatilitas kurs rupiah per dollar AS menjadi semakin rendah.
Mengingat kenaikan BI rate akan membuat biaya utang pemerintah untuk menutupi defisit fiskal menjadi semakin mahal. Kenaikan BI rate dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah dalam memberikan stimulus ekonomi pada saat kondisi ekonomi memburuk.
Ketiga, menghindari fiscal dominance yang menggerus independensi bank sentral. Hal ini berpotensi menurunkan kepercayaan pasar terhadap kebijakan makroekonomi nasional dan menaikkan country risk premium.
Selama ini, praktik fiscal dominance (dominasi fiskal) ibarat mentransfer masalah rendahnya disiplin fiskal pemerintah ke bank sentral. Kebijakan fiskal mendikte kebijakan moneter.
Keempat, merujuk pada kisah sukses presiden Lula, langkah merombak tim ekonomi juga dapat menjadi opsi dalam rangka meningkatkan kepercayaan pasar terhadap kebijakan ekonomi presiden Prabowo di tengah ketidakpastian global.
*) Dosen FEB Universitas Hasanuddin. Ketua KPPU RI 2015-2018
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY