NEWS

Resmi! Mojtaba Khamenei Terpilih jadi Pemimpin Tertinggi Iran Gantikan Ayahnya

Majelis Ahli (Assembly of Experts), badan ulama senior yang bertanggung jawab atas suksesi kepemimpinan, secara resmi mengumumkan penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang ketiga.
Dokumentasi - Mojtaba Zolnouri yang sebelumnya Ketua Komisi Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional di Majlis Tinggi Iran. Foto: ANTARA
Dokumentasi - Mojtaba Zolnouri yang sebelumnya Ketua Komisi Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional di Majlis Tinggi Iran. Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTARepublik Islam Iran resmi memulai babak kepemimpinan baru yang bersejarah. Majelis Ahli (Assembly of Experts), badan ulama senior yang bertanggung jawab atas suksesi kepemimpinan, secara resmi mengumumkan penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang ketiga. 

Pengumuman ini menyusul wafatnya sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei, yang telah memimpin negara tersebut selama lebih dari tiga dekade.

Keputusan di Tengah Krisis
Berdasarkan laporan Associated Press (AP), terpilihnya Mojtaba (56 tahun) dilakukan melalui pemungutan suara yang menentukan oleh 88 anggota Majelis Ahli. Keputusan itu diambil di tengah situasi regional yang sangat tegang, di mana stabilitas kepemimpinan menjadi prioritas utama bagi rezim Teheran. 

Media pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa penunjukan tersebut bertujuan untuk menjaga kesinambungan ideologi dan keamanan nasional.
Meskipun Mojtaba sebelumnya jarang tampil di depan publik dan tidak pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan, ia telah lama dipandang sebagai tokoh kunci di balik layar.
 
Reuters melaporkan bahwa Mojtaba memiliki hubungan yang sangat erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), kekuatan militer paling berpengaruh di Iran, yang memberikan dukungan penuh atas kenaikannya ke tampuk kekuasaan.

Sosok misterius dengan pengaruh besar
Profil Mojtaba Khamenei sering digambarkan sebagai sosok yang misterius namun memiliki kendali yang kuat atas aparat keamanan dan intelijen negara. 

Mengutip ABC News, pengangkatannya sempat memicu perdebatan internal mengenai tradisi suksesi turun-temurun, sebuah praktik yang sebenarnya ditentang keras sejak Revolusi Islam 1979. 

Namun, ketiadaan kandidat moderat yang kuat dan kebutuhan akan figur yang dapat menyatukan faksi-faksi garis keras membuat jalannya menuju posisi puncak menjadi mulus.

Sebagai Pemimpin Tertinggi, Mojtaba kini memegang otoritas absolut atas kebijakan luar negeri, program nuklir, dan komando militer Iran. 

Reuters menekankan bahwa tantangan terbesarnya adalah menavigasi hubungan Iran dengan dunia Barat dan meredakan ketegangan di Timur Tengah yang terus membara.

Dunia internasional memberikan reaksi beragam atas pengangkatan ini. Sejumlah analis melihat penunjukan Mojtaba sebagai tanda bahwa Iran akan tetap mempertahankan garis keras terhadap tekanan internasional.
 
Di sisi lain, masyarakat Iran menantikan apakah sang pemimpin baru akan membawa perubahan ekonomi di tengah sanksi yang masih memberatkan kehidupan warga.

Dengan suksesi ini, Iran menegaskan arah politiknya untuk tetap berada dalam koridor konservatisme yang kokoh, sembari berusaha mempertahankan pengaruhnya di panggung global di bawah kepemimpinan dinasti Khamenei yang baru.