EKBIS
Kekayaan SDA Indonesia Tak Selaras dengan Pendapatan Per Kapita
apakabar.co.id, JAKARTA - Managing Director Paramadina Public Policy Institute, Muhamad Rosyid Jazuli mengungkapkan Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan sumber daya alam terbesar di dunia. Di sisi lain, kondisi tersebut tak selaras dengan kesejahteraan dan pendapatan masyarakat secara individu.
Sebanyak sepuluh komoditas sumber daya alam utama Indonesia telah menghasilkan nilai ekonomi sekitar 112 miliar dollar AS per tahun. Kesepuluh SDA tersebut di antaranya mencakup batu bara, minyak sawit, baja, nikel, emas, gas alam, Tembaga, timah, bauksit, dan perak.
“Banyak orang mengatakan Indonesia kaya sumber daya alam. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar kaya?” Kata Rosyid dalam diskusi publik bertajuk Sumber Daya Alam, Berkah atau Kutukan?" yang dipantau secara daring di Jakarta, Senin (29/6).
https://apakabar.co.id/ekbis/riset-ipb-university-ungkap-relevansi-ketergantungan-sda-dengan-kutukan-ekonomi-negara-miskin/
Berdasarkan data yang dipaparkan, batu bara menjadi komoditas dengan nilai ekonomi terbesar mencapai sekitar 40 miliar dollar AS per tahun, disusul minyak sawit sebesar 23 miliar dollar AS dan baja sekitar 13 miliar dollar AS per tahun. Sementara nikel, emas, dan gas alam masing-masing memberikan kontribusi sekitar 8 sampai 9 miliar dollar AS per tahun.
Kesepuluh SDA tersebut, kata Rosyid, memiliki posisi strategis sebagai pemasok berbagai komoditas penting dunia yang menopang kebutuhan transisi energi, industri konstruksi, hingga rantai pasok global. Meski begitu, jika total nilai ekonomi tersebut dibagi dengan jumlah penduduk Indonesia, nilai kekayaan SDA yang dinikmati setiap warga negara menjadi jauh lebih kecil.
"Perhitungannya menunjukkan nilai tersebut hanya sekitar 400 dollar AS per kapita per tahun, atau setara sekitar Rp7,2 juta per orang per tahun," paparnya.
Angka tersebut, menurut Rosyid, menjadi alasan mengapa narasi Indonesia sebagai negara kaya sumber daya alam perlu dibaca secara lebih kritis. Kekayaan sumber daya alam tidak hanya hars diukur dari besarnya cadangan atau nilai ekspor, tetapi juga dari sejauh mana manfaat ekonomi tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas.
"Diskusi mengenai sumber daya alam seharusnya tidak berhenti pada besarnya nilai komoditas yang dihasilkan, melainkan juga bagaimana hasil pengelolaan sumber daya tersebut didistribusikan dan dikoversi menjadi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan," pungkasnya.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY