NEWS
Jejak Kontroversi Gubernur Kaltim Rudy Masud Berujung Demo Besar-besaran 21 April
apakabar.co.id, SAMARINDA - Sejak dilantik pada 20 Februari 2025, kepemimpinan Rudy Mas’ud di Kalimantan Timur berjalan di tengah ekspektasi tinggi sebagai daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) dan pengawasan publik yang semakin ketat.
Dalam kurun waktu lebih dari satu tahun, sejumlah polemik muncul secara bertahap hingga membentuk rangkaian isu yang pada akhirnya bermuara pada aksi demonstrasi besar di Samarinda pada 21 April 2026.
Sorotan awal mengemuka dari gaya komunikasi publik. Pada April 2025, pernyataan Rudy yang menyebut Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebagai “Gubernur Konten” dalam forum DPR RI memicu polemik di ruang publik. Pernyataan itu kemudian diklarifikasi sebagai bentuk apresiasi, namun tetap memantik perdebatan luas.
Memasuki Juli 2025, isu bergeser ke kebebasan pers. Seorang ajudan gubernur terekam melontarkan pernyataan bernada intimidatif kepada jurnalis saat wawancara cegat. Insiden ini memicu kecaman organisasi profesi dan dinilai mencederai prinsip keterbukaan informasi.
Di saat bersamaan, program unggulan Gratispol, yang menjanjikan pendidikan dan layanan kesehatan gratis, mulai diuji pada tahap implementasi. Sejumlah kendala administratif dan teknis, termasuk persyaratan dan mekanisme pendaftaran, membuat pelaksanaannya dinilai belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi masyarakat.
Memasuki akhir 2025 hingga awal 2026, perhatian publik meluas ke isu struktur kekuasaan. Latar belakang keluarga Rudy Mas’ud memunculkan kembali perbincangan mengenai konsentrasi kekuasaan, seiring sejumlah anggota keluarga menduduki posisi strategis di tingkat daerah, utamanya jabatan Ketua DPRD Kaltim, yakni Hasanuddin Masud.
Kritik semakin menguat ketika kebijakan anggaran menjadi sorotan. Pengadaan mobil dinas jenis Range Rover senilai Rp8,5 miliar serta alokasi sekitar Rp25 miliar untuk renovasi rumah jabatan gubernur dan wakil gubernur memicu perdebatan, terutama dalam konteks efisiensi belanja daerah.
Di sisi lain, pembentukan Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP) dengan puluhan anggota dan anggaran miliaran rupiah turut menjadi perhatian. Sejumlah kalangan mempertanyakan efektivitas tim tersebut dalam mendukung kinerja pemerintahan.
Polemik mencapai titik sensitif pada April 2026 ketika kebijakan pengalihan iuran BPJS Kesehatan bagi warga tidak mampu ke pemerintah kabupaten/kota diumumkan. Kebijakan ini memicu reaksi dari sejumlah daerah, termasuk Kota Samarinda, dengan puluhan ribu warga berpotensi terdampak.
Akumulasi berbagai isu tersebut kemudian membentuk tekanan publik yang semakin terbuka di ruang sosial maupun politik. Pada 21 April 2026, ribuan massa yang tergabung dalam aliansi masyarakat sipil turun ke jalan di Samarinda. Aksi tersebut membawa beragam tuntutan, mulai dari evaluasi kebijakan anggaran, perbaikan tata kelola pemerintahan, hingga kritik terhadap arah kebijakan daerah.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah memberikan sejumlah klarifikasi atas berbagai polemik tersebut. Pengadaan mobil dinas dibatalkan dan anggaran dikembalikan ke kas daerah sebagai respons terhadap kritik publik. Terkait kebijakan BPJS, pemerintah menyatakan langkah tersebut merupakan bagian dari penataan fiskal, dengan jaminan intervensi bagi daerah yang mengalami keterbatasan anggaran.
Sementara itu, pembentukan TAGUPP disebut sebagai upaya memperkuat fungsi perencanaan strategis melalui dukungan tenaga ahli lintas bidang. Rangkaian dinamika ini mencerminkan kompleksitas tata kelola pemerintahan di daerah yang tengah bertransformasi cepat. Di saat yang sama, meningkatnya respons publik menunjukkan pengawasan masyarakat yang kian aktif terhadap arah kebijakan pemerintah daerah.
Aksi unjuk rasa besar pada 21 April 2026 di depan Kantor Gubernur Kaltim, Samarinda, diikuti sekitar 4.000 massa yang memadati Jalan Gajah Mada hingga Teras Samarinda sepanjang hampir satu kilometer dengan pengamanan lebih dari 1.700 personel gabungan.
Situasi sempat memanas menjelang batas waktu penyampaian aspirasi sekitar pukul 18.00 WITA, setelah massa tidak berhasil menemui Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud. Kekecewaan berujung aksi lempar botol, sampah, hingga batu ke arah kompleks kantor gubernur, hingga akhirnya dibubarkan aparat menggunakan water cannon.
Aksi yang diinisiasi mahasiswa dan elemen masyarakat sipil itu mendesak DPRD Kaltim menggunakan hak angket dan interpelasi. Di tengah aksi, muncul pula sorotan terhadap dugaan intimidasi jurnalis saat peliputan, yang kemudian menuai kecaman dari organisasi pers di Kalimantan Timur.
Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud merespons aksi demonstrasi 21 April 2026 di Samarinda melalui video di media sosial, tanpa menemui langsung massa. Dalam pernyataannya, ia mengapresiasi mahasiswa, masyarakat, serta aparat, sekaligus menyebut aspirasi yang disampaikan sebagai bagian penting dari kontrol sosial dan evaluasi kinerja pemerintah.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR