LINGKUNGAN HIDUP
Bali Butuh Ruang Hijau, Gerakan 1.000 Pohon jadi Langkah Nyata
Laju pembangunan kawasan wisata dan kreatif di Bali seakan tidak terelakkan, berujung pada ruang hijau yang terus terdesak. Beton tumbuh cepat, jalan melebar, dan bangunan baru bermunculan hampir di setiap sudut wilayah.
apakabar.co.id, JAKARTA - Laju pembangunan kawasan wisata dan kreatif di Bali seakan tidak terelakkan, berujung pada ruang hijau yang terus terdesak. Beton tumbuh cepat, jalan melebar, dan bangunan baru bermunculan hampir di setiap sudut wilayah.
Di tengah situasi itu, sebuah gerakan penanaman 1.000 pohon hadir membawa pesan berbeda: pembangunan seharusnya tidak memisahkan manusia dari alam. Gerakan tersebut dilakukan sebagai bagian dari komitmen jangka panjang untuk mengintegrasikan restorasi lingkungan ke dalam pengembangan kawasan kreatif seluas 44 hektare di Bali.
Tidak sekadar seremoni, program ini dirancang menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Sebanyak 1.000 spesies pohon lokal akan ditanam di berbagai area strategis, mulai dari ruang publik, taman, area pura, pinggir jalan, hingga ruang-ruang yang berhubungan langsung dengan aktivitas masyarakat. Langkah ini muncul di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap dampak pembangunan terhadap lingkungan Bali.
Pulau yang selama ini dikenal karena kekayaan alam dan budayanya kini menghadapi tantangan serius, mulai dari berkurangnya ruang hijau, persoalan sampah, hingga tekanan terhadap sumber daya air. Karena itu, penanaman pohon dalam skala besar tidak lagi dipandang sebagai aktivitas simbolik semata.
Program seperti ini mulai dilihat sebagai bagian penting dari upaya memulihkan keseimbangan lingkungan yang perlahan tergerus. Namun, pertanyaan kritis tetap muncul: apakah penanaman pohon benar-benar mampu memberi dampak nyata, atau hanya menjadi citra hijau di tengah ekspansi pembangunan?
Jawabannya tentu tidak sesederhana jumlah pohon yang ditanam. Dampak nyata baru akan terasa jika penanaman dilakukan secara berkelanjutan, menggunakan spesies lokal, serta diiringi komitmen perawatan jangka panjang. Di sinilah pendekatan kolaboratif menjadi penting.
Program ini dijalankan Magic Garden didukung oleh Nuanu Social Fund bersama Kebun Raya Eka Karya Bali yang memiliki pengalaman dalam konservasi tanaman lokal dan pelestarian biodiversitas. Kehadiran lembaga tersebut menjadi langkah penting untuk memastikan pohon yang ditanam bukan sekadar penghijauan visual, tetapi benar-benar sesuai dengan karakter lingkungan Bali.
“Kami melihat adanya keselarasan nilai, terutama dalam bagaimana lingkungan ditempatkan sebagai bagian penting dari pembangunan jangka panjang, bukan sekadar pelengkap,” ujar Hadhiyyah N. Cahyono dari tim hortikultura Kebun Raya di Denpasar, Selasa (26/5).
Kolaborasi lintas institusi seperti ini menjadi penting karena persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan keterlibatan komunitas, pengembang kawasan, pegiat lingkungan, hingga masyarakat sekitar.
“Inisiatif ini menunjukkan kolaborasi lintas institusi dalam mendukung pelestarian biodiversitas, meningkatkan kesadaran lingkungan, serta mendorong praktik pembangunan yang lebih bertanggung jawab di Bali," katanya.
Hal itulah yang coba dibangun melalui gerakan ini. Sejumlah anggota komunitas, media, pegiat lingkungan, dan undangan tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi ikut menanam pohon secara langsung dan memberi penanda pada pohon yang mereka tanam.
Keterlibatan personal seperti itu dinilai mampu membangun rasa memiliki terhadap lingkungan. Sebab, menjaga alam sering kali dimulai dari hubungan emosional yang sederhana.
“Tanggung jawab terhadap lingkungan harus hadir melalui tindakan nyata dan dilakukan secara berkelanjutan,” ujar Auditya Sari dari Nuanu Social Fund.
Menurutnya, ketika masyarakat ikut terlibat dalam proses penanaman, akan muncul rasa keterhubungan dan tanggung jawab bersama terhadap lingkungan yang dibangun. Pendekatan tersebut juga menunjukkan perubahan cara pandang dalam pembangunan kawasan modern.
"Selama ini, ruang hijau kerap hanya menjadi elemen pelengkap untuk mempercantik kawasan. Pohon hadir sekadar sebagai dekorasi lanskap," paparnya.
Padahal, fungsi pohon jauh lebih besar dari itu. Pohon membantu menjaga kualitas udara, menyerap karbon, mengurangi suhu panas, menyimpan air tanah, sekaligus menjadi habitat bagi berbagai spesies.
“Inisiatif ini bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi tentang membangun hubungan yang lebih dekat antara manusia dan alam," kata Auditya.
Di Bali, keberadaan tanaman lokal juga memiliki nilai budaya dan spiritual yang kuat. Karena itu, penggunaan spesies lokal dalam program ini menjadi bagian penting untuk menjaga identitas ekologis sekaligus budaya Bali.
Lev Kroll, CEO Nuanu Creative City, menjelaskan filosofi pembangunan yang mereka dorong bukan hanya soal pertumbuhan fisik.
“Ketika semuanya selesai dibangun, jumlah pohon di sini akan lebih banyak dibanding saat kami memulainya,” ujarnya.
Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi membawa pesan yang cukup dalam: pembangunan seharusnya meninggalkan warisan lingkungan yang lebih baik, bukan sebaliknya.
"Hari ini menjadi simbol dari hal-hal yang kami upayakan setiap hari, menanam pohon yang akan tumbuh bersama Nuanu, menghormati alam, dan menjaga biodiversitas asli Bali," terang CEO kawasan kreatif tersebut.
Kroll menambahkan, dirinya percaya alam harus menjadi bagian penting dari setiap pengembangan kawasan. Untuk itu, melakukannya bersama komunitas dan para partner merupakan bentuk dari kesadaran bersama.
"Kami selalu terinspirasi bagaimana alam mempertemukan banyak orang, karena setiap pohon memiliki ceritanya sendiri," ujarnya.
Meski demikian, tantangan terbesar dari gerakan seperti ini adalah konsistensi. Menanam pohon mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa jam, tetapi merawatnya hingga tumbuh besar membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Di sinilah publik akan melihat apakah komitmen lingkungan benar-benar dijalankan atau berhenti sebagai agenda seremonial.
Bagi masyarakat, gerakan ini setidaknya menghadirkan harapan bahwa pembangunan dan pelestarian alam masih bisa berjalan beriringan. Bahwa kawasan modern tidak harus selalu identik dengan hilangnya ruang hijau.
"Untuk itu, komunitas, partner, dan pengunjung perlu terlibat dalam prosesnya. Setelah itu, akan tumbuh rasa memiliki, keterhubungan, dan tanggung jawab bersama," ungkap Auditya.
Sebab pada akhirnya, masa depan Bali tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak bangunan yang berdiri, tetapi juga oleh seberapa kuat alamnya tetap dijaga.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK