EKBIS
Rupiah Melemah ke Rp17.685 per Dolar AS, Pasar Menanti Keputusan Bank Indonesia
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah memiliki peluang untuk menguat terhadap dolar AS seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan.
apakabar.co.id, JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (19/5) pagi bergerak melemah tipis di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap perkembangan global dan keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI). Meski begitu, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih bisa tertahan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran.
Pada perdagangan pagi, rupiah tercatat melemah 17 poin atau sekitar 0,10 persen menjadi Rp17.685 per dolar AS. Posisi ini lebih rendah dibanding penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.668 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah sebenarnya memiliki peluang untuk menguat terhadap dolar AS. Menurut dia, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah meredanya kekhawatiran pasar setelah Trump menunda serangan ke Iran,” ujar Lukman di Jakarta, Selasa (19/5).
Penundaan serangan tersebut menjadi perhatian pasar global karena sebelumnya konflik di kawasan Timur Tengah sempat memicu kekhawatiran investor. Ketegangan geopolitik biasanya mendorong pelaku pasar mencari aset aman seperti dolar AS, sehingga memberi tekanan pada mata uang negara berkembang.
Mengutip laporan Anadolu, Donald Trump memutuskan menunda serangan terhadap Iran setelah sejumlah negara di kawasan menyampaikan keyakinan bahwa peluang tercapainya kesepakatan damai semakin besar.
Trump mengungkapkan bahwa para pemimpin Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan beberapa negara lainnya meminta agar serangan ditunda. Mereka menilai proses menuju gencatan senjata dengan Iran hampir mencapai titik kesepakatan.
Kondisi tersebut membuat pasar global sedikit lebih tenang dibanding beberapa hari sebelumnya. Sentimen positif itu turut membantu menahan tekanan terhadap rupiah.
Meski demikian, Lukman menilai penguatan rupiah kemungkinan masih terbatas. Hal itu disebabkan kondisi domestik yang belum cukup kuat serta sikap investor yang cenderung menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.
Pasar memperkirakan BI berpotensi menaikkan suku bunga acuan sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya imbal hasil obligasi Amerika Serikat.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor global. Akibatnya, aliran dana asing berpotensi keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Menurut Lukman, kenaikan suku bunga oleh BI diharapkan mampu menjaga daya tarik rupiah di mata investor.
“Kenaikan ini diharapkan bisa membuat rupiah kembali menarik,” jelasnya.
Selain faktor global, investor juga masih mencermati kondisi ekonomi dalam negeri, termasuk inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta arus modal asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Pergerakan rupiah dalam beberapa waktu terakhir diperkirakan masih akan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan kebijakan moneter domestik. Jika ketegangan geopolitik terus mereda dan BI mengambil langkah yang mampu menjaga stabilitas pasar, peluang penguatan rupiah tetap terbuka dalam jangka pendek.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK