EKBIS
IHSG Berpotensi Bergerak Mendatar Pekan Ini: Pelaku Pasar Cermati Data Domestik dan Sentimen Global
Pada pembukaan perdagangan Senin (29/6) pagi, IHSG sempat menunjukkan performa positif dengan menguat sebesar 35,90 poin atau sekitar 0,61 persen menuju level 5.932,03.
apakabar.co.id, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal pekan ini diproyeksikan bakal bergerak mendatar atau berkonsolidasi. Para pelaku pasar baik global maupun domestik cenderung mengambil sikap berhati-hati (wait and see) sembari mencermati rilis berbagai data ekonomi penting yang dijadwalkan keluar sepanjang pekan ini.
Pada pembukaan perdagangan Senin (29/6) pagi, IHSG sebenarnya sempat menunjukkan performa positif dengan menguat sebesar 35,90 poin atau sekitar 0,61 persen menuju level 5.932,03. Pergerakan hijau ini diikuti oleh kelompok 45 saham unggulan yang tergabung dalam Indeks LQ45, yang mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,98 poin atau 0,17 persen ke posisi 584,70. Meskipun dibuka menguat, ruang gerak indeks diperkirakan masih akan terbatas akibat berbagai sentimen luar negeri.
Berdasarkan kacamata teknikal, laju indeks saham domestik saat ini dinilai masih berada dalam fase konsolidasi yang cukup kuat. Pergerakan itu mencerminkan kehati-hatian investor dalam menempatkan modal mereka pada aset berisiko sebelum arah pasar menjadi lebih jelas.
"Secara teknikal, pergerakan indeks masih berada dalam fase konsolidasi dengan pelaku pasar mencermati kemampuan IHSG bertahan di area support 5.882 atau 5.688 atau 5.520," jelas Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, dalam kajian tertulisnya di Jakarta, Senin (29/6).
Sementara itu, area resistance terdekat, kata Liza, berada pada kisaran 5.996 sampai 6.013, atau di level psikologis selanjutnya pada 6.097 serta 6.221 hingga 6.287
Geopolitik timur tengah dan suku bunga The Fed
Dari panggung mancanegara, perhatian para investor dunia tertuju pada perkembangan stabilitas politik di Timur Tengah. Angin segar sedikit berembus setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran resmi menandatangani kesepakatan damai sementara.
Langkah strategis itu membuka kembali peluang bagi beroperasinya Selat Hormuz secara normal. Dampak positifnya, kekhawatiran atas gangguan pasokan energi global mereda, yang secara langsung menekan harga minyak dunia dan ikut membantu menjaga stabilitas sentimen di pasar keuangan.
Namun di sisi lain, kepastian arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), masih membayangi. Rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS terbaru yang berjalan sesuai ekspektasi pasar justru memicu reaksi yang cukup konservatif.
Data tersebut memaksa pelaku pasar untuk mengurangi ekspektasi mereka mengenai penurunan suku bunga acuan oleh The Fed pada tahun ini. Pandangan bahwa The Fed masih akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat (higher for longer) menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju penguatan aset-aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sepanjang pekan ini, fokus pasar global akan tertuju pada rilis data ketenagakerjaan AS seperti Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTs), pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh, data Non-Farm Payrolls (NFP), serta tingkat pengangguran AS. Selain itu, data PMI manufaktur China dan angka inflasi Zona Euro juga menjadi radar penting para investor.
Katalis domestik: inflasi, PMI, dan optimisme makro
Dari dalam negeri, sejumlah indikator makroekonomi krusial akan dirilis pekan ini dan menjadi kompas bagi arah kebijakan Bank Indonesia (BI). Beberapa data yang ditunggu antara lain indeks PMI Manufaktur Indonesia, tingkat inflasi periode Juni, serta kinerja neraca perdagangan internasional.
"Data-data itu sangat vital untuk mengukur sejauh mana daya tahan aktivitas ekonomi riil di tanah air," katanya.
Optimisme tinggi ditiupkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang menyatakan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi nasional mampu menyentuh angka hingga 8 persen. Keyakinan tersebut didasarkan pada fondasi ekonomi makro yang kian kokoh, berlanjutnya reformasi fiskal, serta derasnya arus investasi dan meningkatnya kontribusi sektor swasta terhadap roda perekonomian.
Guna mendukung likuiditas dunia usaha, pemerintah juga menegaskan bahwa proses restitusi pajak berjalan lancar tanpa adanya perlambatan maupun penahanan.
Tercatat hingga empat bulan pertama tahun 2026, realisasi pencairan restitusi pajak telah mencapai Rp160 triliun, sebuah angka fantastis karena setara dengan total pencairan selama sembilan bulan pada tahun sebelumnya. Jika tren positif ini terus berlanjut, total restitusi pajak sepanjang tahun ini diestimasikan mampu menembus angka Rp500 triliun.
Rapor merah bursa global dan regional
Penutupan perdagangan akhir pekan lalu di pasar global cenderung memberikan sentimen negatif bagi pergerakan hari ini. Bursa saham Eropa tercatat kompak melemah pada perdagangan Jumat (26/06), di mana indeks Euro Stoxx 50 terpangkas 0,73 persen, FTSE 100 Inggris turun 0,21 persen, DAX Jerman merosot 1,29 persen, dan CAC 40 Prancis terdepresiasi 0,55 persen.
Tren serupa terjadi di Wall Street AS, di mana Dow Jones melemah 0,09 persen, S&P 500 turun 0,05 persen, dan Nasdaq tergelincir 0,24 persen.
Kondisi tersebut menular ke bursa saham regional Asia pada Senin (29/6) pagi yang bergerak variasi cenderung melemah. Indeks Nikkei Tokyo turun 0,84 persen ke level 68.780,00, Shanghai Composite terpangkas 0,64 persen menjadi 4.001,48, dan Straits Times Singapura turun tipis 0,08 persen ke 5.187,90. Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong tampil perkasa dengan melesat menguat 1,00 persen ke posisi 22.899,00.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK